News & Research

Reader

Reformasi Pasar Modal Hindari Downgrade MSCI, Tapi Tak Mencegah Penurunan Bobot
Tuesday, April 07, 2026       15:26 WIB
  • Reformasi pasar modal Indonesia dinilai mampu mencegah  downgrade  oleh MSCI Inc., namun belum cukup mencegah penurunan bobot indeks.
  • Sejumlah saham berpotensi dikeluarkan pada  rebalancing  Mei akibat  free float  rendah dan kepemilikan yang terkonsentrasi.
  • Indonesia diperkirakan tetap di  emerging market , tetapi tekanan berlanjut karena dominasi konglomerasi.

Ipotnews - Reformasi pasar modal Indonesia untuk memenuhi tuntutan MSCI Inc. dinilai dapat mencegah penurunan status ( downgrade ). Namun demikian upaya tersebut dinilai belum cukup untuk menghindari penurunan bobot dalam indeks global.
Menurut Citigroup Inc. dan Alphagate Capital, langkah-langkah otoritas pasar modal - termasuk menyoroti beberapa perusahaan terbesar dengan kepemilikan saham yang terlalu terkonsentrasi - kemungkinan akan menyebabkan sebagian saham dikeluarkan dari indeks oleh penyusun indeks pada Mei nanti karena kurangnya saham yang tersedia untuk publik.
Pada Januari lalu MSCI telah memperingatkan status pasar modal Indonesia bisa diturunkan ke  frontier market  - dari  emerging market  - jika tidak memperbaiki struktur kepemilikan saham dan potensi kolusi dalam perdagangan.
"Kami tidak melihat Indonesia akan diturunkan ke  frontier market  dan akan tetap berada di kategori  emerging market ," kata Henry Wibowo, mantan analis JPMorgan & Chase Co. yang mendirikan Alphagate Capital di Jakarta.
"Namun demikian, kami memperkirakan akan terjadi penurunan bobot Indonesia dalam indeks MSCI EM, seiring kemungkinan ada beberapa saham yang dikeluarkan dalam  rebalancing  Mei, terutama yang masuk daftar konsentrasi tinggi," imbuhnya seperti dikutip Bloomberg, Selasa (7/4).
Sejauh ini MSCI belum memberikan tanggapan atas langkah-langkah reformasi yang telah dilakukan otoritas pasar modal Indonesia.
Kekhawatiran atas potensi  downgrade  MSCI telah membuat Indeks Harga Saham Gabungan turun sekitar 20% tahun ini, meskipun regulator telah meningkatkan persyaratan  free float  dan meminta keterbukaan lebih besar terkait kepemilikan saham.
Tantangan utama berasal dari dominasi konglomerasi keluarga yang mengendalikan banyak entitas publik dan privat, mulai dari sektor tambang hingga petrokimia, dengan kontrol yang biasanya dijaga melalui kerabat dan pihak terafiliasi.
"Kami menilai reformasi ini positif dan baik untuk prospek jangka menengah hingga panjang," tulis Ferry Wong, analis Citigroup di Jakarta. "Namun, peninjauan indeks semi-tahunan MSCI pada Mei 2026 masih berpotensi memicu pengeluaran selektif atau penurunan bobot saham yang memiliki konsentrasi tinggi dan  free float  yang rendah."
Bursa Efek Indonesia pada Kamis lalu mengumumkan sembilan perusahaan dengan konsentrasi kepemilikan saham di atas 95%, dan menjanjikan akan rutin mengungkapkan data tersebut. Di antara sembilan perusahaan itu adalah PT Barito Renewables Energy () dan PT Dian Swastatika Sentosa (), yang sahamnya sempat anjlok hingga 14% pada sesi perdagangan Senin kemarin.
Perusahaan infrastruktur telekomunikasi PT Solusi Tunas Pratama(), yang dikendalikan oleh pewaris Grup Djarum Martin Hartono dan Victor Hartono, Senin kemarin, bahkan mengumumkan rencana untuk  delisting  karena kesulitan memenuhi ambang batas  free float  baru.
Sejauh ini, sebanyak 20 perusahaan terbesar yang terkait konlomerasi di IHSG diperkirakan menyumbang hampir 43% dari total bobot indeks, termasuk PT Bank Central Asia () dan PT Bayan Resources (), menurut data PT Trimegah Sekuritas Indonesia per Juni 2025. Perusahaan-perusahaan tersebut juga menyumbang sekitar setengah dari MSCI Indonesia Index.
Pekan lalu, bursa juga menerbitkan aturan yang mewajibkan perusahaan tercatat meningkatkan porsi saham publik hingga 15%, dengan tenggat waktu hingga tiga tahun. (Bloomberg/AI)


Sumber : admin

powered by: IPOTNEWS.COM


Berita Terbaru

Thursday, Apr 09, 2026 - 16:14 WIB
Hong Kong Stocks Fall As US-Iran Ceasefire On Thin Ice; Two Firms File For IPO
Thursday, Apr 09, 2026 - 16:12 WIB
Kepemilikan Saham 31 Maret 2026 VINS
Thursday, Apr 09, 2026 - 16:06 WIB
Kepemilikan Saham 31 Maret 2026 TAYS
Thursday, Apr 09, 2026 - 16:05 WIB
Ketidakpastian Gencatan Senjata AS-Iran Tekan Lagi Indeks Saham dan Mata Uang EM Asia
Thursday, Apr 09, 2026 - 16:01 WIB
Perubahan Kepemilikan Saham BYAN, Jual
Thursday, Apr 09, 2026 - 15:58 WIB
Kepemilikan Saham 31 Maret 2026 BDMN
Thursday, Apr 09, 2026 - 15:57 WIB
Perubahan Kepemilikan Saham WINR, Jual
Thursday, Apr 09, 2026 - 15:56 WIB
Pasar Ragukan Kelanjutan Gencatan Senjata AS-Iran, Rupiah Terdepresiasi 0,46%
Thursday, Apr 09, 2026 - 15:52 WIB
Kepemilikan Saham 31 Maret 2026 SATU
Thursday, Apr 09, 2026 - 15:49 WIB
Kepemilikan Saham 31 Maret 2026 TSPC