Pada artikel terdahulu tentang ' Mengelola Resiko Dan Membangun Kekayaan ', kita telah membahas cara untuk membangun kekayaan, dan mengelola resiko yang ada. Dalam artikel itu, kita mensyaratkan bahwa langkah awal untuk membangun kekayaan adalah menabung terlebih dahulu.
Setelah uang tabungan telah cukup besar, untuk membangun kekayaan, orang lalu harus berinvestasi (tidak boleh hanya menabung saja). Karena di dalam setiap investasi terkandung resiko, maka setiap orang harus belajar bagaimana mengelola resiko yang ada.
Di dalam artikel itu kami jelaskan bahwa investasi harus terdiversifikasi ke dalam investasi dalam aset keuangan ( financial assets ) dan investasi dalam aset riil ( non-financial assets ). Jadi, tidaklah bijaksana jika Anda hanya berinvestasi di dalam aset keuangan ( intangible assets ) saja.
Bukan karena aset keuangan tidak menguntungkan, tetapi karena nilai aset dapat dengan mudah jatuh bahkan menjadi nihil pada saat kondisi ekonomi sedang tidak baik.
Sekarang, kita akan membahas tentang bagaimana mengukur kualitas kekayaan yang sudah kita kumpulkan. Ada lima tolok ukur ( benchmark ) yang akan kita pakai untuk mengukur kualitas kekayaan.
Kami sengaja tidak menggunakan kekayaan yang dikumpulkan orang lain sebagai pembanding ( benchmark ) karena, menurut kami, masalah kualitas kekayaan merupakan masalah pribadi ( personal ) yang tidak dapat dibanding-bandingkan dengan kakayaan orang lain.
Misalnya, seseorang yang memiliki kekayaan bersih ( net-worth ) yang besar, tetapi memiliki pengeluaran yang juga sangat besar, tentu kualitas kekayaannya berbeda dengan orang yang memiliki kekayaan bersih ( net-worth ) yang sama, tetapi pengeluarannya lebih kecil.
Perbedaan dari segi usia, gaya hidup ( life-style ), atau jumlah tanggungan dalam keluarga dapat menyebabkan perbedaan pada kualitas kekayaan bersih ini karena, pada orang yang pengeluarannya lebih kecil, jumlah uang yang dapat ditabung setiap bulan ( saving rate ) juga akan berbeda.
Tolok ukur 1: Kekayaan Bersih ( Net Worth )
Tolok ukur kualitas kekayaan yang pertama adalah jumlah kekayaan bersih ( net-worth ) yang Anda miliki. Mengetahui jumlah kekayaan bersih ( net-worth ) berarti telah memperoleh gambaran umum ( big picture ) tentang kekayaan yang dimiliki.
Perhitungan jumlah kekayaan bersih ( net-worth ) cukup sederhana: hitung semua harta ( asset ) yang Anda miliki, lalu kurangi dengan semua kewajiban ( liabilities ) yang ada. Angka yang diperoleh, baik itu positif atau pun negative, menunjukkan jumlah kekayaan bersih Anda.
Harta ( Assets ) - Kewajiban ( Liabilities ) = Kekayaan Bersih ( Net worth )
Contoh-contoh harta yang harus Anda masukkan dalam perhitungan ini adalah:
- Rekening tabungan
- Tabungan Dana Pensiun (wajib: JHT dan pribadi: TDPP )
- Portofolio Investasi
- Jumlah ekuitas dalam aset tanah dan bangunan (properti)
- Harta pribadi lain yang nilainya signifikan (misalnya mobil dan perhiasan)
Kemudian, contoh kewajiban (liabilities) yang harus Anda ikutkan dalam perhitungan ini adalah:
- Saldo utang KPR yang tersisa
- Sisa utang KKB ( Car loans )
- Utang Kartu Kredit (KK)
- Utang lain bernilai signifikan yang mungkin ada
Selisih antara jumlah harta ( assets ) dan jumlah kewajiban ( liabilities ) ini adalah jumlah kekayaan bersih ( net-worth ) yang Anda miliki. Kekayaan bersih menjelaskan hal lain ( context ) yang tidak dapat dijelaskan oleh penghasilan ( income ) saja. Sebagai contoh, seseorang yang bergaji Rp50 juta per bulan, tetapi memiliki kewajiban pembayaran utang sebesar Rp35 juta per bulan, akan berada pada kondisi keuangan yang lebih buruk dibandingkan dengan sesorang yang cuma bergaji Rp25 juta per bulan, tetapi tidak memiliki kewajiban pembayaran utang apa pun.
Tolok ukur 2: Jumlah Uang yang Ditabung per Bulan ( Savings Rate )
Kekayaan bersih ( net-worth ) menunjukkan di mana posisi Anda pada suatu saat; sementara itu, laju tabungan ( saving rate ) menunjukkan ke arah mana posisi keuanganmu menuju. Jumlah uang yang ditabung per bulan ( saving rate ) mengukur persentase pendapatan yang disimpan untuk sasaran keuangan di masa depan.
Untuk menghitung jumlah tabungan per bulan yang dapat Anda simpan, cukup lakukan perhitungan sederhana ini: bagi jumlah tabungan Anda dengan gaji bersih yang terima. dan kalikan dengan 100%.
Jumlah tabungan per bulan yang ideal dapat berbeda-beda bergantung pada banyak faktor, misalnya usia, jumlah gaji yang diperoleh, jumlah cicilan wajib yang masih harus dibayar, literasi keuangan yang dimiliki, dan sasaran keuangan lain yang ingin dicapai di masa depan.
Untuk kebanyakan orang Indonesia, jumlah tabungan per bulan ( saving rate ) yang disarankan pada umumnya adalah 30% dari gaji bersih per bulan. Jumlah tabungan per bulan ini, dan bukan jumlah gaji yang diperoleh setiap bulan, akan menentukan seberapa cepat Anda dapat membentuk kekayaan ( wealth ).
Sebagai contoh, seseorang yang bergaji Rp50 juta per bulan, tetapi hanya dapat menabung 10% saja setiap bulan (Rp5 juta per bulan), tentu tidak dapat membentuk kekayaan secepat orang yang hanya bergaji Rp30 juta per bulan tetapi mampu menyimpan sebanyak 30% (Rp9 juta) setiap bulan.
Apa yang harus dilakukan jika menabung sebanyak 30% terasa mustahil?
Mengingat bahwa banyak dari antara kita yang masih hidup dari gaji bulan ini ke gaji bulan berikutnya ( living pay-check to pay-check ), menabung hingga 30% dari gaji per bulan kadang-kadang terasa mutahil untuk dilakukan.
Di sini, kita mesti bersikap realistik. Jadi, tidak mengapa jika kita hanya dapat menabung lebih sedikit dari gaji yang kita terima setiap bulan, yang penting adalah kita tetap membuat kemajuan ( progress ). Sasaran pertama adalah melunasi semua utang yang ada, lalu melangkah ke sasaran berikutnya yaitu menabung lebih banyak dan kemudian berinvestasi.
Tolok ukur 3: Rasio Utang terhadap Pendapatan ( Debt-to-Income Ratio )
Rasio utang terhadap pendapatan ( Debt to Income Ratio ) mengukur berapa banyak beban utang yang ada dalam setiap Rupiah gaji yang kita terima setiap bulan. Rasio utang terhadap pendapatan dapat dihitung dengan membagi beban utang yang ada dengan besarnya gaji yang diterima.
Besarnya gaji setiap bulan jumlahnya sama setiap bulan, dengan penyesuaian berkala, tetapi beban utang yang ada dapat berubah sewaktu-waktu jika perhitungan utang itu menggunakan suku bunga mengambang ( floating rate ).
Tidak ada satu angka keramat yang dianggap terbaik untuk menghitung rasio utang terhadap penghasilan. Tetapi, pada umumnya perencana keuangan ( financial planner ) sepakat bahwa batas yang aman dari rasio utang terhadap pendapatan adalah 30%, dan rasio utang terhadap pendapatan sebesar 45% dianggap sebagai berbahaya.
Di sini, kami mengambil pandangan yang sedikit berbeda. Rasio utang terhadap pendapatan ( debt to income rasio ), menurut hemat kami, harus mempertimbangkan juga setidaknya dua faktor yang lain: (1) suku bunga ( fixed or floating ) dan (2) besarnya tingkat gaji ( income level ) yang diperoleh.
Seseorang yang utangnya dihitung menggunakan suku bunga mengambang ( floating rate ), seperti pada umumnya utang KPR di Indonesia yang berjangka panjang, akan mengalami tekanan yang besar pada waktu suku bunga melonjak tinggi.
Ini dapat dianggap merupakan penghancur kekayaan yang tersembunyi ( hidden wealth destruction ). Sebaliknya, jika utang yang ada semuanya dihitung menggunakan suku bunga tetap ( fixed rate ), maka besarnya rasio utang terhadap pendapatan dapat dilonggarkan dari level 30% untuk tetap dianggap aman.
Kemudian, rasio utang terhadap pendapatan sebesar 45% pun masih dapat dianggap tidak berbahaya jika level pendapatan itu ada pada jumlah yang besar. Pada tingkat pendapatan yang semakin besar, tidak semua pengeluaran akan naik dengan mengikuti persentase (%) yang sama.
Sebagai contoh, untuk seseorang yang bergaji Rp10 juta per bulan, memiliki cicilan utang sebesar Rp4,5 juta per bulan tentu sudah membunyikan alarm tanda bahaya, sekalipun semua utang berbunga tetap.
Tetapi, bandingkan misalnya ada orang yang bergaji Rp100 juta per bulan, dan besarnya cicilan semua utangnya adalah Rp45 juta per bulan dan berbunga tetap. Tentu saja, kondisi keuangan orang ini masih dapat dianggap tidak berbahaya.
Tolok ukur 4: Kesiapan untuk Pensiun ( Retirement Readiness )
Kesiapan untuk pensiun ( Retirement Readiness ) mengukur apakah Anda telah berada pada jalur yang tepat untuk mempertahankan gaya hidup ( life style ) yang Anda inginkan pada saat pensiun nanti.
Para Perencana Keuangan ( Financial Planner ) umumnya mengambil asumsi bahwa pada waktu pensiun, kita membutuhkan 80% dari jumlah yang kita keluarkan pada waktu masih aktif bekerja. Catatan: angka 80% harus dihitung dari angka pengeluaran rutin per bulan, bukan jumlah gaji yang diterima per bulan.
Kami ingin mengatakan bahwa, sebagai Perencana Keuangan independen, kami menggunakan pendekatan yang sedikit berbeda. Pada waktu masih aktif bekerja, kita banyak mengeluarkan uang untuk transportasi pergi dan pulang kantor, mengeluarkan uang untuk biaya membeli pakaian kerja yang representatif sesuai dengan posisi kita di kantor, dan juga mengeluarkan uang (yang cukup besar) untuk biaya sosialisasi dengan kolega bisnis kita.
Tetapi, biaya-biaya ini relatif kecil jika dibandingkan dengan biaya angsuran KPR atau biaya cicilan mobil yang ada. Biaya angsuran KPR dan biaya cicilan mobil dapat diasumsikan telah lunas pada waktu seseorang memasuki usia pensiun.
Oleh karena itu, jumlah uang yang dapat dibelanjakan jika mengasumsikan pengeluaran pada masa pensiun sebesar 80% dari pengeluaran sewaktu masih aktif bekerja, akan menjadi terlalu besar.
Jadi, untuk membandingkan biaya pada waktu pensiun dengan biaya pada waktu masih aktif bekerja, kita tidak boleh hanya semena-mena mengambil angka 70% atau 80% saja. Kita boleh hanya menghitung 70% atau 80% untuk biaya rutin sehari-hari, tetapi angka itu di luar biaya angsuran KPR atau biaya cicilan KKB.
Tolok ukur 5: Dana Cadangan ( Reserve Fund or Emergency Fund )
Anda dapat memiliki jumlah kekayaan bersih ( net-worth ) yang besar di atas kertas, tetapi Anda tetap menghadapi bencana keuangan jika semua kekayaan dalam bentuk aset yang tidak likuid. Likuiditas, atau dengan kata lain, kesanggupan Anda untuk mengubah aset (kekayaan) Anda menjadi tunai akan sangat diperlukan untuk pengeluaran biaya-biaya tak terduga.
Rekomendasi standar dari para Perencana Keuangan ( Financial Planner ) biasanya adalah 3 sd 6 bulan pengeluaran rutin Anda. Disini, saya harus menekankan bahwa Indonesia berbeda dengan negara-negara maju di mana dana sebesar 3 atau 6 bulan saja sudah cukup.
Misalnya, di negara-negara maju, penduduk umumnya sudah memiliki asuransi yang memadai (asuransi kesehatan maupun asuransi kerugian), tetapi di Indonesia kenyataannya berbeda. Kemudian, di negara-negara maju jumlah tanggungan per keluarga biasanya hanya atas keluarga inti saja (ayah, ibu, dan dua anak).
Di Indonesia, tanggungan keluarga bisa sangat berbeda, sehingga kebutuhan akan Dana Cadangan ( Reserve Fund ) atau Dana Darurat ( Emergency Fund ) dapat jauh berbeda dari yang disebutkan dalam buku teks dari negara-negara maju.
Untuk menentukan berapa banyak Dana Cadangan ( Reserve Fund ) yang Anda butuhkan, perhatikan hal-hal berikut ini: jika pekerjaan Anda bergaji tetap dan Perusahaan cukup stabil, maka Anda mungkin cukup memiliki Dana Cadangan (Reserve Fund) sebesar 6x pengeluaran rutin. Tetapi, jika pekerjaan Anda tidak membayar gaji tetap, atau Perusahaan tempat Anda bekerja tidak terlalu stabil, maka Anda mungkin membutuhkan 9x sd 12x pengeluaran rutin yang disimpan dalam bentuk tunai.
Tanpa adanya Dana Cadangan (Reserve Fund) yang cukup, Anda mungkin akan terpaksa untuk menjual aset investasi Anda pada waktu nilainya sedang buruk, atau Anda mungkin terpaksa mengambil pinjaman berbunga tinggi untuk mengatasi kebutuhan akan biaya-biaya darurat.
Dua hal ini (menjual aset pada saat pasar tidak menguntungkan, atau mengambil pinjaman yang berbunga tinggi) dapat menghambat kemajuan Anda dalam membangun kekayaan. Artinya, kualitas kondisi keuangan Anda tidaklah sebaik yang Anda duga sebelumnya.
Oleh: Fredy Sumendap, CFA
Sumber : IPS