ADB: Dampak Konflik Timur Tengah ke Pertumbuhan Asia Masih Terbatas Jika Hanya Sebulan
Friday, March 06, 2026       10:40 WIB
  • ADB menilai dampak konflik Timur Tengah terhadap ekonomi Asia berkembang relatif kecil jika hanya berlangsung sekitar satu bulan.
  • Risiko meningkat tajam jika konflik berkepanjangan karena dapat memicu lonjakan harga energi dan gangguan perdagangan.
  • Ketidakpastian pasar memicu arus dana ke dolar AS dan menekan mata uang Asia.

Ipotnews - Ekonom utama Asian Development Bank (ADB) menilai dampak konflik di Timur Tengah terhadap pertumbuhan ekonomi Asia berkembang akan relatif terbatas jika ketegangan tersebut, termasuk penutupan Selat Hormuz, hanya berlangsung sekitar satu bulan.
Chief Economist ADB Albert Park mengatakan sebagian besar skenario menunjukkan dampak ekonomi memang negatif, tetapi tidak terlalu besar.
"Sebagian besar skenario menunjukkan dampaknya akan negatif, tetapi relatif terbatas," kata Park dalam wawancara dengan Reuters pada Jumat. Ia menambahkan bahwa bahkan dalam asumsi yang lebih pesimistis sekalipun, guncangan tersebut tidak akan memangkas pertumbuhan kawasan hingga satu poin persentase penuh.
ADB mendefinisikan Asia berkembang sebagai kawasan yang mencakup 46 ekonomi, mulai dari China dan India hingga Georgia dan Samoa, namun tidak termasuk Jepang, Australia, dan Selandia Baru.
Meski demikian, Park mengingatkan bahwa risiko ekonomi akan meningkat signifikan jika konflik berlangsung lebih lama. Konflik berkepanjangan berpotensi mendorong kenaikan harga energi, memperbesar gangguan pada jalur pelayaran dan perdagangan, melemahkan permintaan global, serta meningkatkan volatilitas di pasar keuangan.
Ia menambahkan bahwa sekitar 80% pasokan minyak dan gas yang melewati Selat Hormuz ditujukan ke Asia, sehingga kawasan ini sangat rentan terhadap gangguan pasokan energi jika krisis berlangsung lama.
Krisis yang berkepanjangan juga dapat berdampak pada jalur penerbangan dan pengiriman kargo udara. Hal ini berpotensi menambah tekanan bagi ekonomi yang bergantung pada pariwisata dan perdagangan, terutama di tengah pembatasan rute penerbangan yang sudah ada di atas wilayah udara Rusia.
Sebelum konflik memanas, ADB memperkirakan pertumbuhan Asia berkembang akan melambat menjadi 4,6% tahun ini, dari proyeksi 5,1% pada 2025. Inflasi kawasan juga diproyeksikan sedikit meningkat menjadi 2,1%, dibandingkan estimasi 1,6% pada tahun sebelumnya.
Namun Park menekankan bahwa prospek tersebut masih diliputi ketidakpastian, terutama jika kondisi keuangan global memburuk.
Ketidakpastian yang meningkat telah memicu fenomena "flight to safety", di mana investor beralih ke aset berdenominasi dolar AS. Hal ini mendorong penguatan dolar dan menekan mata uang Asia, yang pada akhirnya dapat meningkatkan biaya impor energi seperti minyak.
Jika arus modal menjadi semakin mengganggu stabilitas pasar, Park mengatakan pembuat kebijakan perlu bersiap mengambil langkah.
Menurutnya, bank sentral sebaiknya fokus pada stabilisasi pasar, bukan menargetkan level nilai tukar tertentu. Langkah yang dapat ditempuh antara lain menjaga stabilitas pasar valuta asing serta menyuntikkan likuiditas apabila kondisi keuangan berubah cepat dan memicu tekanan kredit.(Reuters)

Sumber : Admin