Apakah Kehidupan Gen Z Semakin Sulit ? (tak mampu membeli rumah, membiayai pesta pernikahan, dan membesarkan anak)
Thursday, January 15, 2026       16:35 WIB

Pada artikel sebelumnya yang berjudul ' 5 Pertanyaan Terbesar Gen Z Seputar Masalah Keuangan ', kita telah membahas masalah-masalah umum yang dihadapi oleh Gen Z, yaitu tentang:  1) Mana Yang Harus Saya Dahulukan: Berinvestasi Atau Melunasi Hutang?, 2) Bagaimana Saya Dapat Mulai Berinvestasi Jika Saya Tidak Memiliki Banyak Uang?, 3) Berapa Banyak Dari Gaji Saya Yang Dapat Saya Pakai Untuk Membiayai Gaya Hidup (Life-Style)?, 4) Bagaimana Saya Dapat Mempertahankan Anggaran Belanja (Budget) Jika Penghasilan Saya Tidak Tetap (Berubah) Setiap Bulan?, dan 5) Apa yang Harus Saya Lakukan Jika Investasi Saya Di BEI Mengalami Kerugian?  
Akan tetapi, masalah Gen Z yang dibahas dalam artikel itu belum menyentuh masalah-masalah khusus yang sering dihadapi oleh Gen Z yang berada pada pengujung usia 20-an, yaitu membeli rumah, menikah, dan memiliki anak.
Kami menganggap bahwa (1) membeli rumah, (2) membiayai pesta pernikahan, dan (3) membesarkan anak merupakan tonggak ( milestone ) sejarah kehidupan yang harus dilewati oleh setiap Gen Z.
Pertanyaan Gen Z yang akan melewati tonggak (milestone) sejarah kehidupan ini cukup sulit, yaitu: mengapa kehidupan terasa makin sulit (untuk dapat membeli rumah, membiayai pesta penikahan, dan membesarkan anak)?
Bagi sebagian Gen Z, tonggak ( milestone ) sejarah kehidupan ini bahkan terasa mustahil untuk dilewati. Pertanyaan selanjutnya bagi Gen Z menjadi: apa yang harus dilakukan dalam perencanaan keuangan ( financial planning ) saya?
Kita akan membahasnya dalam artikel ini:
  • Kenaikan biaya-biaya, sementara tingkat pendapatan cenderung tidak berubah tiap tahun (setelah memperhitungkan inflasi), membuat tonggak ( milestone ) dalam sejarah kehidupan yang harus dilewati oleh Gen Z terasa semakin sulit untuk diraih.
  • Angka pendapatan Gen Z sebagaimana ditunjukkan oleh UMR (Upah Minimum Regional) menujukkan adanya perbedaan pendapatan Gen Z yang cukup besar bergantung pada tempat di mana Gen Z tinggal.
  • Jumlah penghasilan dari Gen Z (sejak tamat kuliah) diperkirakan belum banyak yang bergerak jauh dari angka sebagaimana ditunjukkan oleh UMR (Upah Minimum Regional).
  • Menyusun anggaran dengan realistis, melakukan diversifikasi atas sumber-sumber pendapatan, dan membatasi terjadinya inflasi gaya hidup ( life-style inflation ) adalah kunci untuk mencapai kestabilan keuangan bagi Gen Z untuk melewati tonggak ( milestone ) sejarah kehidupan yang semakin sulit untuk dicapai.

Jika membeli rumah, membiayai pesta pernikahan, dan membesarkan anak, atau bahkan sekadar berpikir untuk membeli mobil sudah terasa sebagai hal yang mustahil bagi Anda, sesungguhnya Anda tidak sendiri. Banyak sekali Gen Z yang belum dapat keluar dari jebakan biaya-biaya pembelian rumah yang semakin mahal, dan biaya pesta pernikahan yang semakin tidak terjangkau.
Jika Anda telah dapat melewati tonggak ( milestone ) pembelian rumah dan pesta pernikahan, maka tonggak terakhir yang menanti Anda (sebagai Gen Z) adalah biaya untuk membesarkan anak yang juga tidak murah saat ini.
Kendala yang harus dihadapi oleh Gen Z adalah kenaikan biaya-biaya, sementara gaji yang diperoleh relatif tidak berubah dari tahun ke tahun (setelah memperhitungkan inflasi). Kenaikan biaya-biaya, gaji yang tidak bertambah, dan lokasi di mana Anda tinggal, semuanya memainkan peran besar dalam menentukan apakah tonggak-tonggak sejarah kehidupan Gen Z akan dapat Anda raih--ataukah melewati tonggak-tonggak itu hanyalah mimpi.
Usia Gen Z saat ini adalah gerbang memasuki golongan kelas menengah
Gen Z adalah generasi yang terlahir antara tahun 1996 sd 2005. Jadi, saat ini usia Gen Z ada pada rentang 20 tahun hingga 30 tahun. Pada usia ini, seseorang baru mulai melepaskan diri dari sebelumnya bergantung kepada bantuan orangtua menjadi hidup mandiri dari penghasilan yang diperolehnya.
Pada dasarnya, Gen Z adalah gerbang memasuki golongan kelas menengah di masyarakat, tidak berada pada golongan kelas atas (kaya raya), tetapi juga bukan golongan kelas miskin.
Pada jaman dulu, di awal tahun 1990-an ketika saya baru lulus kuliah dari ITB, mencari kerja relatif masih sangat mudah. Iklan lowongan kerja dari berbagai perusahaan besar dan ternama bertebaran di mana-mana, bahkan saya tidak perlu jauh-jauh mencarinya tetapi cukup melihat tawaran pekerjaan yang ditempel di papan pengumuman di kampus.
Mencari pekerjaan yang menawarkan gaji yang besar masih sangat mudah, asalkan kita telah lulus sebagai sarjana S-1 dari kampus universitas ternama seperti ITB, UI, UGM dan lain-lain. Pada saat itu, mencari pekerjaan dengan gaji yang stabil, membeli rumah yang diinginkan, membiayai pesta pernikahan, dan kemudian membesarkan anak, relatif mudah untuk dilakukan.
Mengapa melewati tonggak ( milestone ) sejarah kehidupan Gen Z terasa semakin sulit ?
Harga-harga yang tinggi merupakan sumber dari semua persoalan yang dihadapi oleh Gen Z saat ini. Harga rumah dan suku bunga pinjaman KPR, saat ini tidak terjangkau bagi sebagian besar Gen Z yang ingin membeli rumah hanya dengan mengandalkan sumber penghasilan (gaji) sendiri.
Jika belum bisa membeli rumah, maka tonggak sejarah kehidupan yang berikutnya, yaitu menikah dan membesarkan anak menjadi lebih sulit dicapai. Seringkali kita melihat bahwa, jangankan membeli rumah yang layak di kota besar seperti Jakarta, bahkan membeli mobil pun banyak dari Gen Z yang belum sanggup.
Banyak dari Gen Z yang masih berjuang untuk meraih karir yang lebih baik, tetapi kita semua tahu bahwa banyak dari mereka yang tidak bisa keluar dari jebakan sebagai kelas pekerja rendahan yang hanya menerima gaji atau upah tidak jauh dari UMR (Upah Minimum Regional).
Mengharapkan kenaikan gaji dari pekerjaan yang ditekuni saat ini pun terasa tidak membantu sama sekali. Kondisi ini karena perusahaan cenderung hanya memberikan kenaikan gaji yang setara dengan kenaikan tingkat inflasi saja. Jadi, daya beli Gen Z banyak yang tidak berubah dari tahun ke tahun.
Tentu saja kita pun tidak boleh hanya menyalahkan perusahaan yang mempekerjakan kita, karena tujuan perusahaan itu ada karena ingin memperoleh keuntungan ( profit ). Perusahaan bukan lembaga amal yang bertugas untuk membantu kita mendapatkan gaji yang lebih besar.
Untuk mendapatkan gaji yang lebih besar, Anda harus (1) melihat situasi persaingan antara sesama Gen Z dan memastikan bahwa Anda adalah yang terbaik, dan (2) melihat situasi persaingan antara perusahaan-perusahaan pemberi kerja dan memastikan bahwa Anda bekerja pada perusahaan yang paling kuat dan memiliki masa depan terbaik.
Bagaimana perencanaan keuangan yang baik dapat membantu Gen Z
Lalu apa yang dapat dilakukan oleh Perencana Keuangan ( Financial Planner ) untuk membantu Gen Z? Pertama-tama, ingatlah bahwa perusahaan Perencana Keuangan ( Financial Planning Firm ) adalah Perusahaan yang berorientasi pada keuntungan ( profit ).
Jadi, jangan terlalu berharap bahwa Perencana Keuangan yang bekerja pada perusahaan-perusahaan tersebut akan memberikan nasehat keuangan mereka secara gratis. Daftar klien ( clientele ) dari Perusahan Perencana Keuangan ( Financial Planning Firm ) itu telah mereka tentukan, dan pastilah bukan Gen Z yang baru mulai mencari kekayaan sendiri.
Bagi Gen Z yang sedang mencari nasehat keuangan yang tepat untuk dirinya, kami menganjurkan untuk mencari dari sumber-sumber yang bebas biaya seperti Ipotnews. Kami menyarankan, mulailah dengan mengelola harapan ( adjusting expectations ) Anda.
Langkah ini dapat ditempuh dengan melakukan penganggaran ( budgeting ) lebih awal untuk menyiapkan: dana pembelian rumah, biaya pesta pernikahan, biaya membesarkan anak, dan biaya lainnya seperti biaya pembelian mobil dan biaya Pendidikan S-2 (jika Anda bekerja di Perusahaan yang menghargai tingkat pendidikan yang dimiliki karyawan-karyawannya).
Anda harus memiliki Dana Cadangan ( Reserve Fund ) atau Dana Darurat ( Emergency Fund ) yang cukup (kami menganjurkan sebesar 9 sd 12 bln pengeluaran rutin). Kemudian, jika Anda telah mulai memiliki gaji yang lebih besar (dan meninggalkan jebakan pekerja kelas rendahan yang hanya digaji setara UMR), Anda harus dapat menahan godaan untuk berbelanja barang-barang yang tidak terlalu Anda butuhkan ( life-style inflation ). Anda tidak boleh membeli suatu barang semata-mata karena Anda sanggup membayarnya.
Selanjutnya, dalam situasi ekonomi yang buruk seperti saat ini, jika memungkinkan Anda perlu memiliki sumber pendapatan tambahan ( second job ) yang tidak berkompetisi dengan pekerjaan utama Anda (menghindari benturan kepentingan).
 Oleh: Fredy Sumendap, CFA 

Sumber : IPS