- Bursa saham Asia dibuka cenderung menguat,Jepang memimpin kenaikan setelah Nikkei 225 menembus level 54.000, seiring ekspektasi pemilu yang dipercepat.
- Yen Jepang melemah ke atas 159 per dolar AS, sementara bursa Australia stagnan dan pasar Korea Selatan bergerak terbatas.
- IHSG diperkirakan bergerak mixed namun berpeluang menguat menuju 9.000, didukung aksi beli asing dan rotasi ke saham blue chip bervaluasi atraktif.
Ipotnews - Bursa saham Asia pagi ini, Rabu (14/1), dibuka cenderung menguat, berusaha keluar dari tren penurunan indeks acuan pada sesi penutupan bursa saham utama Eropa dan Wall Street.
Namun bursa saham Jepang dibuka bergairah pada pagi ini, dengan menembus level 54.000 untuk pertama kalinya, setelah meloncat lebih dari 3% dan mencetak rekor tertinggi pada Selasa kemarin. Pasar mengekspektasikan Perdana Menteri Sanae Takaichi akan menyerukan pemilihan umum dadakan, yang kemungkinan digelar pada Februari.
Yen Jepang melemah menembus level 159 per dolar AS, menyentuh posisi terendah sejak Juli 2024, ketika otoritas Jepang melakukan intervensi untuk menahan pelemahan yen.
Perdagangan saham hari ini dibuka dengan mencatatkan pergerakan indeks ASX 200, Australia yang relatif stagnan. Indeks berlanjut melemah 0,10% menjadi 8.800 pada pukul 8:15 WIB.
Indeks Kospi, Korea Selatan dibuka mendatar, sementara indeks Kosdaq turun 0,37%. Kospi berlanjut naik 0,42% menjadi 4.712,18.
Pada ja yang sama indeks Nikkei 225, Jepang melonjak 1,41% (754,06 poin) ke level 54.303,22, setelah dibuka melaju 1%,. Indeks Topix juga dibuka menguat ke level tertinggi baru dengan kenaikan 0,6%.
Sementara itu, kontrak berjangka indeks Hang Seng Hong Kong berada di level 26.920, mengindikasikan pembukaan yang lebih kuat dibandingkan penutupan terakhir HSI di 26.848,47.
Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) hari ini diperkirakan akan melanjutkan upaya kembali ke atas 9.000 didukung aksi beli asing, setelah mengakhiri sesi perdagangan kemarin dengan berbalik naik 0,72% ke 8.949. Harga ETF saham Indonesia, iShares MSCI Indonesia ETF ( EIDO ), di New York Stocks Exchange menguat 0,16% menjadi USD19,03.
Beberapa analis memperkirakan pergerakan IHSG hari ini akan bergerak mixed, meski masih berpeluang menguat. Tekanan jual dari saham-saham new blue chips masih membayangi pasar. Namun secara teknikal indeks belum mengkonfirmasi adanya pola downtrend, membentuk resistance di level 8.970 dan resistance kedua di 9.000.
Analis Indo Premier berpendapat, saham-saham konglomerasi mengalami koreksi tajam selama dua hari perdagangan terakhir. Meski banyak spekulasi terkait gejolak geopolitik, kondisi fiskal yang memburuk hingga keputusan free-float MSCI yang menjadi penyebab, kondisi yang terjadi murni disebabkan rotasi ke saham-saham bluechip .
Valuasi yang atraktif dan potensi dividen yield yang besar jelang musim pembagian dividen di awal Q2 nanti, diperkirakan menjadi penyebab utama terjadinya rotasi, disamping sudah terlalu tingginya valuasi saham-saham konglomerasi pasca reli harga yang terjadi setahun terakhir.
Amerika Serikat dan Eropa
Perdagangan saham di bursa Wall Street pagi tadi berakhir melemah, diwarnai aksi ambil untung setelah reli panjang. Sektor keuangan tertekan, dipicu kekhawatiran rencana Trump membatasi suku bunga kartu kredit, maksimum 10%. Tekanan pasar tertahan oleh data inflasi AS yang menjaga harapan pemangkasan suku bunga the Fed tahun ini. IHK inti AS naik 0,2% mom dan 2,6% yoy pada Desember, di bawah perkiraan kenaikan 0,3% dan 2,7%..
Saham Visa dan Mastercard terperosok 4,5% dan 3,8%. Sektor keuangan S&P 500 anjlok 1,8%. JPMorgan drop 4,2% setelah melaporkan laba kuartalan melampaui ekspektasi, namun mencatat penurunan pendapatan bisnis investment banking. Saham Delta Air Lines anjlok 2,4%, setelah proyeksi laba 2026 di bawah perkiraan.
- Dow Jones Industrial Average merosot 0,80% (-398,21 poin) ke 49.191,99.
- S&P 500 melemah 0,19% (-13,53 poin) menjadi 6.963,74.
- Nasdaq Composite terkoreksi 0,10% (-24,03 poin) di 23.709,87.
Bursa saham utama Eropa tadi malam berakhir sedikit melemah. Namun sentimen masih positif, ditopang sektor pertahanan dan ekspektasi The Fed menahan suku bunga. Investor terus mempertimbangkan perkembangan geopolitik di Iran, serta peluncuran penyelidikan pidana terhadap Ketua Federal Reserve AS, Jerome Powell. Indeks STOXX 600 turun tipis 0,08% di 610,44, dipimpin sektor konstruksi.
Saham Rockwool, produsen material bangunan asal Denmark ambles 7,7% setelah Rusia dikabarkan memerintahkan sanksi administrasi sementara terhadap dua unit usaha Rockwool di negara tersebut. Sika, Swiss rontok 10% karena melaporkan penurunan penjualan. Saham Airbus melonjak 2%. Saham Orsted melesat 5,4%, setelah hakim federal AS mengizinkan kelanjutan proyek di Rhode Island, yang dihentikan Trump. Whitbread, Inggris melesat lebih dari 7%.
- DAX Jerman naik tipis 0,02% (15,32 poin) di 25.420,66.
- FTSE 100 Inggris turun tipis 0,03% (-3,35 poin) di 10.137,35.
- CAC Prancis berkurang 0,14% (-11,56 poin) menjadi 8.347,20.
Nilai Tukar Dolar AS
Kurs dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia di pasar uang New York pagi tadi ditutup menguat, ditopang data inflasi Desember, AS yang moderat dan ekspektasi the Fed menahan suku bunga hingga setidaknya Juni. IHK AS naik 0,3% pada Desember, dengan inflasi tahunan sebesar 2,7%. IHK inti naik 0,2% secara bulanan dan 2,6% yoy, sejalan dengan ekspektasi.
Pelaku pasar menanti putusan Mahkamah Agung AS terkait legalitas kebijakan tarif Trump. Yen turun ke level terendah sejak Juli 2024, memicu kewaspadaan potensi pelonggaran kebijakan fiskal dan moneter Jepang. PM Jepang Sanae Takaichi dikabarkan tengah mempertimbangkan pemilu parlemen lebih awal. Euro dan poundsterling juga melemah. Indeks Dolar (Indeks DXY) naik 0,28% menjadi 99,15.
Kurs spot dolar
Currency | Value | Change | % Change | Time (ET) |
Euro (EUR-USD) | 1.1645 | 0.00 | 0.03% | 6:24 PM |
Yen (USD-JPY) | 159.15 | 0.01 | 0.01% | 6:24 PM |
Poundsterling (GBP-USD) | 1.3426 | 0.00 | 0.03% | 6:24 PM |
Rupiah (USD-IDR) | 16,877 | 22.00 | 0.13% | 2:59 AM |
Yuan (USD-CNY) | 6.9777 | 0.00 | 0.07% | 1:59 PM |
Sumber : Bloomberg.com, 13/1/2026 (ET)
Komoditas
Harga minyak mentah West Texas Intermediate dan Brent North Sea dini hari tadi berakhir meningkat tajam. Sentimen pasar didorong risiko geopolitik, terutama potensi gangguan ekspor Iran, ketegangan Iran-AS, serta serangan drone di Laut Hitam. Pasar minyak mulai memasukkan faktor perlindungan harga terhadap risiko geopolitik. Premi risiko geopolitik diperkirakan menambah USD3-4 per barel pada harga minyak global.
Kekhawatiran terhadap potensi gangguan ekspor minyak Iran, meredam kekhawatiran bertambahnya pasokan dari Venezuela. Trump mengancam akan mengenakan tarif 25% pada setiap negara yang melakukan bisnis dengan Iran. Empat kapal tanker minyak yang dikelola perusahaan Yunani dilaporkan terkena serangan drone tak dikenal di Laut Hitam.
- Harga Brent berjangka melompat USD1,60 (2,5%) ke USD65,47 per barel.
- Harga WTI berjangka meloncat USD1,65 (2,8%) ke USD61,15 per barel.
Harga emas di bursa berjangka AS dini hari tadi ditutup melemah, setelah mencetak rekor tertinggi USD4.634,33 di pasar spot pada awal sesi. Rilis data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan serta meningkatnya permintaan aset lindung nilai mendukung harga emas. Ekspektasi pemangkasan suku bunga the Fed menguat, pasar memperkirakan dua kali pemotongan pada 2026.
Ketegangan geopolitik menopang aset-aset safe-haven, Commerzbank naikkan proyeksi harga emas akhir 2026 ke USD4.900. Harga logam mulia lainnya; perak spot melonjak 2,1% ke USD86,74 per ounce, setelah sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di USD89,10 pada awal sesi. Harga platinum stagnan di USD2.343,35, sementara paladium melonjak 1,4 persen% ke USD1.868,68.
- Harga emas spot bergerak stabil di posisi USD4.591,49 per ounce.
- Harga emas berjangka AS turun 0,3% ke USD4.599,10 per ounce.
(AFP, CNBC , Reuters)