- menyiapkan dana Rp352,40 miliar dari kas internal untuk melunasi Obligasi Berkelanjutan II SPINDO Tahap I 2023 Seri B dan Sukuk Ijarah Seri B yang akan jatuh tempo 4 April 2026.
- Sepanjang 2025, membukukan laba bersih Rp534,2 miliar (tertinggi sepanjang sejarah, naik 0,78% YoY) meski pendapatan turun 3% YoY menjadi Rp5,9 triliun akibat penurunan harga baja global.
- Fundamental keuangan tetap kuat, dengan rasio likuiditas 309%, DER 0,55x, arus kas operasi Rp1,2 triliun, serta kas akhir tahun Rp956 miliar.
Ipotnews - PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk () menyatakan kesiapan dana untuk melunasi pokok Obligasi Berkelanjutan II SPINDO Tahap I Tahun 2023 Seri B dan Sukuk Ijarah Berkelanjutan II SPINDO Tahap I Tahun 2023 Seri B yang akan jatuh tempo pada 4 April 2026.
Dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (6/3), manajemen menjelaskan bahwa total dana yang akan digunakan untuk pelunasan mencapai Rp352,40 miliar. Nilai tersebut terdiri dari pokok obligasi sebesar Rp211,30 miliar dan sukuk ijarah sebesar Rp141,10 miliar.
Dalam dokumen yang diteken oleh Chief Strategy & Bussiness Development Officer, Corporate Secretary & Investor Relation , Johannes W Edward, perseroan menegaskan bahwa sumber dana untuk pembayaran pokok obligasi dan sukuk tersebut akan berasal dari kas internal perusahaan, sebagaimana telah disampaikan sebelumnya dalam prospektus penerbitan efek tersebut.
Manajemen menyampaikan bahwa sepanjang tahun buku 2025 perseroan mencatatkan kinerja yang solid dengan membukukan laba bersih sebesar Rp534,2 miliar atau tumbuh sekitar 0,78% secara tahunan (year-on-year/YoY), sekaligus menjadi laba tertinggi dalam sejarah perusahaan.
Sementara itu, pendapatan perseroan tercatat sebesar Rp5,9 triliun atau turun sekitar 3% YoY, seiring dengan pelemahan harga acuan baja global, khususnya Hot Rolled Coil (HRC). Sepanjang 2025, harga HRC rata-rata mengalami penurunan sekitar 13%.
Meski menghadapi tekanan harga baja global, margin laba kotor dan margin laba bersih perseroan justru meningkat masing-masing menjadi 19,1% dan 9,0%. Hal tersebut mencerminkan efektivitas strategi efisiensi serta pengendalian biaya yang dilakukan perusahaan.
Dari sisi struktur keuangan, mempertahankan kondisi yang sehat dengan rasio likuiditas sebesar 309% dan rasio utang terhadap ekuitas (debt-to-equity ratio/DER) sebesar 0,55 kali. Perseroan juga mencatat arus kas dari aktivitas operasional sebesar Rp1,2 triliun dengan posisi kas akhir tahun mencapai Rp956 miliar.
Selain itu, perusahaan terus memperkuat komitmen terhadap aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG), antara lain melalui pemasangan panel surya di Plant 1, 2, 3, 5, dan 6.
Sebagai bagian dari strategi ekspansi, gudang Plant 7 di Gresik telah beroperasi sebagai North Distribution Centre sejak Agustus 2024. Perseroan juga tengah menunggu kedatangan mesin pipa berdiameter 8 inci yang diharapkan dapat meningkatkan produksi produk bernilai tambah dan margin lebih tinggi.
Manajemen menyatakan pencapaian tersebut diraih di tengah kondisi ekonomi global dan nasional yang menantang sepanjang 2025. Ke depan, perseroan optimistis dapat terus meningkatkan kinerja operasional sekaligus memperkuat kredibilitas pada aspek keuangan, sosial, dan lingkungan secara berkelanjutan. (Adhitya/AI)
Sumber : Admin