Minyak Bergerak Positif, Terkatrol Pemotongan Pasokan OPEC
Tuesday, February 12, 2019       16:06 WIB

Ipotnews - Harga minyak menguat, Selasa, di tengah pengurangan pasokan yang dipimpin OPEC , dan sanksi AS terhadap Iran dan Venezuela, meski analis memperkirakan melonjaknya output Amerika dan kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi akan membebani pasar.
Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), patokan Amerika Serikat, berada di posisi USD52,69 per barel pada pukul 14.51 WIB, naik 28 sen, atau 0,5 persen, dari penutupan terakhir, demikian laporan Reuters, di Singapura, Selasa (12/2).
Penutupan yang sedang berlangsung di bagian pipa Keystone yang membawa minyak Kanada ke Amerika Serikat juga membantu menopang harga WTI, kata para pedagang.
Sementara itu, harga minyak mentah Brent, patokan internasional, bertambah 38 sen, atau sekitar 0,6 persen, menjadi USD61,89 per barel.
Para analis mengatakan pasar semakin ketat di tengah pengurangan produksi yang dimotori Organisasi Negara Eksportir Minyak ( OPEC ) serta karena sanksi AS terhadap Venezuela dan Iran.
Tetapi beberapa analis mengatakan risiko sisi penawaran tidak terlalu diperhatikan.
"Kami percaya minyak tidak memperhitungkan risiko sisi penawaran belakangan ini karena pasar sekrang fokus pada perundingan perdagangan AS-China, mengabaikan risiko yang ada saat ini akibat hilangnya pasokan Venezuela," ungkap J.P. Morgan.
Jika perundingan AS-China untuk mengakhiri perselisihan perdagangan antara kedua negara membuahkan hasil positif, J.P. Morgan mengatakan pasar minyak akan "mengalihkan perhatian dari kekhawatiran makro yang berdampak pada pertumbuhan permintaan di masa mendatang menuju pengetatan pasokan fisik dan risiko geopolitik yang berdampak terhadap pasokan langsung".
Dengan OPEC terlibat dalam manajemen pasokan dan Timur Tengah terjerat dalam konflik sementara produksi di luar kartel itu melonjak, Bank of America Merrill Lynch mengatakan pangsa pasar global OPEC akan turun karena output langsung merosot jadi 29 juta barel per hari (bph) pada 2024 dari 31,9 juta bph di 2018.
Meningkatnya pasokan Amerika dan potensi pelambatan ekonomi pada tahun ini juga dapat membatasi pasar minyak.
"Kekhawatiran kelebihan pasokan (oversupply) yang berasal dari Amerika kemungkinan akan tetap menjadi tema utama saat kita mendekati bulan-bulan yang lebih hangat," kata Edward Moya, analis OANDA.
Pedagang bersiap meningkatkan pasokan di Cushing, Oklahoma, titik pengiriman untuk WTI, karena penutupan kilang dapat menciptakan terhambatnya pasokan, sehingga akan menambah stok yang sudah mencapai level tertinggi dalam lebih dari satu tahun.
Morgan Stanley mengatakan lonjakan produksi minyak mentah AS, yang cenderung berkualitas rendah dan melesat lebih dari 2 juta bph pada 2018 ke rekor 11,9 juta bph, mengakibatkan kelebihan produksi bensin.
Keuntungan penyulingan bensin anjlok sejak pertengahan 2018, menjadi negatif di Asia dan Eropa, di tengah pertumbuhan permintaan yang lambat dan melonjaknya pasokan.
Bank of America juga memperingatkan "perlambatan signifikan dalam pertumbuhan global", menambahkan bahwa mereka memperkirakan Brent dan WTI rata-rata USD70 dan USD59 per barel pada 2019, serta USD65 dan USD60 per barel, masing-masing, pada 2020. (ef)

Sumber : Admin