- Rupiah ditutup menguat tipis 8 poin atau 0,05% ke Rp17.632 per dolar AS, ditopang sentimen positif kenaikan cadangan devisa RI menjadi US$146,5 miliar pada akhir Agustus 2026.
- Penguatan rupiah terbatas oleh indeks dolar AS yang menguat serta ketegangan geopolitik Timur Tengah yang berpotensi mengganggu lalu lintas energi di Selat Hormuz.
- Pasar selanjutnya mencermati data PPI dan CPI AS, dengan peluang kenaikan suku bunga The Fed pekan depan sekitar 60% akibat kuatnya data nonfarm payrolls AS.
Ipotnews - Nilai tukar rupiah ditutup menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat pada sore ini, ditopang sentimen internal setelah Bank Indonesia melaporkan kenaikan cadangan devisa Indonesia pada Agustus 2026.
Mengutip data Bloomberg usai penutupan Selasa (8/9) sore, rupiah menetap pada level Rp17.632 per dolar AS, menguat tipis 8 poin atau 0,05% dibandingkan akhir perdagangan Senin (7/9) di level Rp17.640 per dolar AS.
Pengamat ekonomi, mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan indeks dolar AS menguat hari ini. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor eksternal yang membatasi penguatan rupiah saat ini.
"Dari sisi domestik, sentimen positif datang dari data cadangan devisa Indonesia. BI mencatat posisi cadangan devisa mencapai USD146,5 miliar pada akhir Agustus 2026, meningkat dibandingkan posisi pada akhir Juli 2026 sebesar USD145,3 miliar," tulis Ibrahim dalam publikasi risetnya sore ini.
Sementara dari eksternal, pasar masih mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah setelah para pejabat Iran memperingatkan bahwa infrastruktur minyak dan gas di seluruh wilayah Teluk dapat menjadi sasaran balasan atas serangan terhadap aset-asetnya.
"Rantai produksi minyak dan gas di sini sangat luas, mudah diakses, dan rentan. Perusahaan minyak dan gas Amerika yang beroperasi di perairan dan fasilitas ini juga menghadapi risiko kerentanan yang sama," ujar Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf. "Serang aset kami, maka Anda akan diserang balik. Kami telah membuktikannya," tambahnya.
Fokus pasar selanjutnya adalah data Indeks Harga Produsen (PPI) AS yang dijadwalkan rilis pada Kamis, diikuti data Indeks Harga Konsumen (CPI) pada Jumat.
Angka inflasi yang lebih tinggi akan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. "Pasar terus memperhitungkan peluang sekitar 60% bagi kenaikan suku bunga The Fed pekan depan, yang mencerminkan dampak dari laporan nonfarm payrolls AS yang kuat pada pekan lalu," tambah Ibrahim.(Adhitya/AI)
Sumber : admin