Saham Asia Melemah di Tengah Penguatan Yen, Iran Serukan Ancaman Balasan ke AS
Tuesday, September 08, 2026       15:22 WIB
  • Yen menguat 1%, ketika saham Asia tertekan dan indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang turun 0,5%.
  • Harga minyak Brent menanjak 1,4% akibat ancaman balasan Iran terhadap AS, yield US Treasury 10 tahun naik ke 4,798%.
  • Data ekspor China dan pertumbuhan ekonomi Jepang membaik, pasar mencermati peluang kenaikan suku bunga The Fed.

Ipotnews - Penguatan yen dan rilis sejumlah data ekonomi yang beragam membuat saham-saham Asia bergerak cenderung melemah hingga menjelang akhir sesi perdagangan hari ini, Selasa (8/9). Ancaman baru Iran di kawasan Teluk mendorong harga komoditas dan imbal hasil obligasi US Treasury lebih tinggi.
Laman Reuters melaporkan, hingga mendekati pukul 14:30 WIB, yen bergerak menguat, melonjak hingga 1% ke 152,89 per dolar AS, level terkuat sejak 18 Februari. Investor membatalkan posisi  carry trade  yang didanai yen dengan nilai sekitar US$2,35 triliun.
"Yen menguat ke level terkuat sejak Februari, didorong oleh pembalikan tajam posisi  short yen  dan  carry trade  ketika investor memperhitungkan pengetatan Bank of Japan yang lebih cepat," kata Joel Kruger, ahli strategi pasar di Group di London.
"Spekulasi mengenai repatriasi modal oleh investor Jepang dan kesediaan otoritas yang telah ditunjukkan untuk mendukung mata uang tersebut melalui intervensi, turut memberikan momentum terhadap penguatan yen," imbuhnya seperti dikutip Reuters.
Indeks saham Nikkei 225 Jepang berfluktuasi antara kenaikan dan penurunan sebelum anjlok 1,7%.
Indeks MSCI yang mencakup saham Asia-Pasifik di luar Jepang turun 0,5%. Pelemahan regional dipimpin saham-saham Australia yang merosot 1% setelah indikator sentimen konsumen domestik merosot tajam pada September.
Harga minyak naik untuk hari ketiga di perdagangan Asia. Harga kontrak berjangka minyak mentah Brent melaju 1,4% ke USD98,34 per barel. Iran pada Selasa mengancam akan membalas AS dengan "perang ekonomi" dan mengatakan telah menembakkan rudal canggih ke kapal perang AS.
"Meski Hari Buruh AS membuat awal pekan perdagangan relatif lebih sepi dari sisi volume, serangan balasan antara AS dan Iran pada akhir pekan terus memberikan tekanan ke atas pada harga minyak, sekaligus membebani sentimen risiko secara lebih luas," kata analis Westpac.
Pasar juga mencermati data ekonomi lainnya yang dirilis hari ini.
Di China, data menunjukkan pertumbuhan ekspor meningkat pada Agustus, didorong kuatnya permintaan luar negeri terhadap produk-produk teknologi tinggi dan terkait AI.
"Meski komposisi produk terlihat semakin tidak seimbang, gambaran geografisnya semakin merata seiring meredanya penurunan di AS dan permintaan di pasar lainnya tetap kuat," tulis analis ING dalam catatan riset yang dikutip Reuters.
Ekonomi Jepang tumbuh lebih cepat dari perkiraan awal pada kuartal April-Juni dibandingkan tiga bulan sebelumnya, didukung belanja bisnis, berdasarkan data yang telah direvisi. Namun, angka tersebut masih di bawah perkiraan para analis.
Obligasi pemerintah Jepang menguat setelah data tersebut, dengan imbal hasil obligasi tenor 10 tahun turun 4,5 basis poin menjadi 2,885%. Hal ini memberikan momentum tambahan bagi penguatan yen, hanya beberapa pekan setelah mata uang tersebut mencapai level terendah dalam empat dekade dan memicu intervensi bersama yang jarang dilakukan oleh otoritas Tokyo dan Washington.
Sementara itu, data menunjukkan upah riil Jepang naik 2,4% pada Juli dibandingkan setahun sebelumnya, mencatat kenaikan terbesar sejak Mei 2021.
"Dengan pertumbuhan upah yang terus menguat, alasan bagi Bank of Japan untuk mempercepat laju pengetatan kebijakan semakin kuat," tulis analis Capital Economics dalam laporan riset.
Imbal hasil obligasi US Treasury tenor 10 tahun naik 1,6 basis poin menjadi 4,798%, melanjutkan kenaikannya dan meningkat untuk sesi kedua setelah mengalami penurunan selama dua hari pada pekan lalu.
Para pedagang masih memperhitungkan probabilitas tersirat sekitar 60% untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan Federal Reserve berikutnya yang berlangsung selama dua hari dan berakhir pada 16 September, menurut perangkat FedWatch milik CME Group. Probabilitas tersebut kurang lebih sama dengan pekan lalu.
Indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang enam mata uang, bergerak datar di sekitar level terendah dalam dua pekan, yakni 98,83.
Di pasar komoditas, harga tembaga mencapai rekor tertinggi sepanjang masa di US$14.597 per metrik ton karena kekhawatiran pasokan meningkat, sementara harga emas stabil di US$4.404,29.
Di pasar mata uang kripto, bitcoin turun 1% menjadi US$78.458,04, sedangkan ether turun 1,1% menjadi US$2.468,37. (Reuters)

Sumber : admin