- Aktivitas manufaktur dan jasa di sejumlah ekonomi besar Eropa dan Asia menunjukkan perbaikan awal tahun
- Pesanan ekspor menguat seiring penyesuaian ekonomi global terhadap kenaikan tarif AS
- Jerman, Inggris, dan Asia mencatat akselerasi, sementara Prancis justru melemah
Ipotnews - Aktivitas bisnis di sejumlah ekonomi utama Eropa dan Asia mulai menunjukkan peningkatan pada awal tahun, di tengah tanda-tanda pemulihan pesanan ekspor seiring ekonomi global menyesuaikan diri dengan kenaikan tarif Amerika Serikat.
Perusahaan data S&P Global pada Jumat melaporkan indeks aktivitas gabungan manufaktur dan jasa di kawasan euro bertahan di level 51,5 pada Januari, tidak berubah dari bulan sebelumnya. Meski demikian, angka tersebut mencerminkan penurunan aktivitas di Prancis, sementara pertumbuhan justru meningkat di Jerman dan berlanjut di negara-negara euro lainnya.
Dalam indeks manajer pembelian (purchasing managers' index/PMI), level di bawah 50 menunjukkan kontraksi, sedangkan di atas 50 menandakan ekspansi. Para ekonom yang disurvei The Wall Street Journal sebelumnya juga memperkirakan PMI akan stagnan.
Survei serupa di Asia menunjukkan akselerasi aktivitas di India, Jepang, dan Australia. Pemulihan ini sejalan dengan kinerja ekonomi global yang tumbuh lebih cepat dari perkiraan pada 2025, didukung lonjakan investasi terkait kecerdasan buatan (AI) di Amerika Serikat yang mampu menahan dampak kenaikan tarif.
Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia dalam laporan terbarunya juga telah menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global untuk tahun ini.
Memasuki 2026, pelaku usaha melaporkan penguatan permintaan luar negeri. Di Australia, pesanan ekspor tumbuh pada laju tercepat dalam tiga setengah tahun, sementara di Jepang pesanan ekspor meningkat untuk pertama kalinya sejak Maret 2025.
"Data Januari menunjukkan lonjakan signifikan pada pesanan internasional secara agregat," ujar S&P Global terkait kinerja India. Asia, Australia, Eropa, Amerika Latin, dan Timur Tengah disebut menjadi tujuan utama ekspor barang dan jasa India.
Sebagai negara yang sangat bergantung pada ekspor manufaktur, Jerman sebelumnya terdampak cukup berat oleh kenaikan tarif AS. Meski demikian, ekonomi terbesar Eropa tersebut berhasil menghindari kontraksi tahun lalu. Survei PMI terbaru menunjukkan stabilisasi pesanan ekspor yang mendorong peningkatan permintaan secara keseluruhan dan menghasilkan kenaikan aktivitas terbesar dalam tiga bulan terakhir.
Di Inggris, pesanan ekspor melonjak pada laju tercepat dalam 18 bulan, mendorong PMI ke level tertinggi sejak April 2024.
Sebaliknya, Prancis justru mencatat penurunan aktivitas pada Januari. S&P Global menilai pelemahan ini sebagian dipengaruhi oleh ancaman Presiden AS Donald Trump--yang kini telah dicabut--untuk menaikkan tarif jika negara-negara Eropa menentang rencananya terkait Greenland.
"Ancaman tarif baru dari AS, termasuk potensi bea masuk 200% untuk sampanye Prancis, menegaskan betapa rapuhnya lingkungan eksternal saat ini," ujar ekonom Hamburg Commercial Bank, Jonas Feldhusen.(Dow Jones Newswires)
Sumber : admin