Terkatrol Pemangkasan OPEC, WTI Melesat ke Level Tertinggi 2019
Friday, March 15, 2019       15:28 WIB

Ipotnews - Harga minyak menguat, Jumat, dengan WTI melesat ke level tertinggi tahun ini karena pemotongan produksi yang dipimpin OPEC serta sanksi AS terhadap Venezuela dan Iran kemungkinan menciptakan sedikit defisit dalam pasokan global pada kuartal pertama.
Namun harga dicegah dari kenaikan lebih lanjut oleh kekhawatiran bahwa perlambatan ekonomi akan mulai menghambat pertumbuhan permintaan bahan bakar.
Patokan Amerika, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), naik 15 sen menjadi USD58,76 per barel pada pukul 14.45 WIB, level tertinggi sepanjang 2019, demikian laporan Reuters, di Singapura, Jumat (15/3).
Sementara, minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, berada di posisi USD67,43 per barel, bertambah 20 sen, atau 0,3 persen, dari penutupan terakhir, dan kurang dari satu dolar dari level tertinggi 2019, yakni USD68,14 per barel, yang dicapai pada hari sebelumnya.
Minyak menguat sekitar seperempat sejak awal tahun.
"Minyak terus bergerak lebih tinggi...sebagai respons terhadap pemotongan produksi yang sedang berlangsung dari kelompok produsen OPEC + serta penurunan (output) lainnya dari Venezuela," kata Ole Hansen, Kepala Strategi Komoditas Saxo Bank Denmark.
Organisasi Negara Eksportir Minyak ( OPEC ) dan sekutu tidak terafiliasi seperti Rusia--yang dikenal sebagai aliansi OPEC +--menahan pasokan sekitar 1,2 juta barel per hari (bph) dari awal tahun untuk mengetatkan pasar dan mendukung kenaikan harga.
Menteri OPEC + akan bertemu di markas besar kartel itu di Wina, Austria, pada 17-18 April untuk memutuskan kebijakan output.
"Jika OPEC + memutuskan untuk memperpanjang (pemotongan)...kami memperkirakan stok akan terus ditarik setidaknya hingga kuartal ketiga," kata bank investasi AS, Jefferies, Jumat.
Dengan pemotongan pasokan OPEC dan sanksi AS yang mencegah minyak Iran dan Venezuela memasuki pasar, data aliran minyak mentah global di Refinitiv menunjukkan sedikit defisit pasokan kemungkinan muncul pada kuartal pertama.
Mencegah kenaikan minyak lebih lanjut adalah bahwa kekhawatiran perlambatan ekonomi yang mencengkeram sebagian besar Asia dan Eropa, yang juga menunjukkan tanda-tanda menulari Amerika Utara, akan segera mengurangi pertumbuhan permintaan BBM.
Namun permintaan minyak bertahan cukup baik sejauh ini.
Penggunaan minyak mentah di China, importir terbesar dunia, dalam dua bulan pertama 2019 meningkat 6,1 persen dari tahun sebelumnya menjadi rekor 12,68 juta bph, menurut data resmi pekan ini.
"Kekhawatiran permintaan minyak terlalu berlebihan," kata Goldman Sachs, Jumat.
Bank AS itu mengatakan, pertumbuhan permintaan minyak mentah global pada Januari "hampir 2,0 juta bph, dengan kekuatan yang terlihat di emerging market dan negara maju".
Goldman mengatakan "fundamental saat ini akan memperketat pasar fisik lebih lanjut", mendorong kenaikan spot minyak mentah berjangka Brent di atas USD70 per barel "karena penyusutan pasokan terus berlanjut (dan) pertumbuhan permintaan mengalahkan ekspektasi konsensus yang rendah". (ef)

Sumber : Admin