News & Research

Reader

Ketakutan Resesi dan Pasokan Terus Membayangi, Minyak Bergerak Lebih Tinggi
Thursday, July 07, 2022       14:16 WIB

Ipotnews - Harga minyak mendapatkan kembali pijakan, Kamis, setelah kerugian tajam dalam dua sesi sebelumnya, karena investor mengembalikan fokus mereka ke pasokan yang ketat bahkan ketika kekhawatiran resesi global terus menghantui.
Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, naik 16 sen, atau 0,2%, menjadi USD100,85 per barel pada pukul 13.37 WIB, demikian laporan  Reuters,  di Singapura, Kamis (7/7).
Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) meningkat 18 sen, atau 0,2%, menjadi USD98,71 per barel. Harga berayun antara pelemahan sekitar USD2 dan kenaikan hampir USD1 pada sesi yang  volatile  itu.
"Ketakutan resesi terus meningkat dan itu jelas mendorong beberapa kekhawatiran bagi prospek permintaan," kata Warren Patterson, Kepala Riset Komoditas ING.
"Namun, fundamental yang mendukung seharusnya menandakan bahwa penurunan lebih lanjut relatif terbatas."
Dia menambahkan bahwa sulit untuk terlalu  bearish  pada harga minyak karena  spread  bulanan Brent tetap dalam  backwardation  yang lebar, menunjukkan pasokan relatif ketat.
Juga, "pembicaraan nuklir Iran baru-baru ini tampaknya tidak mencapai banyak hal," ujar Patterson.
Washington memperketat sanksi terhadap Iran, Rabu, menekan Teheran ketika berupaya menghidupkan kembali kesepakatan nuklir Iran 2015.
Eurasia Group mengurangi kemungkinan kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran tahun ini menjadi 35% dari 40%, dengan mengatakan Teheran "kemungkinan ambivalen" tentang kesepakatan.
Dalam beberapa pekan terakhir harga minyak merosot bersama komoditas lain seperti logam dan minyak sawit, karena bank sentral di seluruh dunia menaikkan suku bunga untuk memerangi lonjakan inflasi, mengipasi kekhawatiran perlambatan ekonomi yang tajam dan pukulan terhadap permintaan komoditas.
Brent dan WTI ditutup pada level terendah sejak 11 April, Rabu. Kejatuhan itu mengikuti penurunan dramatis pada sesi Selasa, meskipun pasokan global mengetat. WTI merosot 8% sementara Brent jatuh 9% - penurunan USD10,73 yang merupakan terbesar ketiga bagi kontrak tersebut sejak mulai diperdagangkan pada 1988.
FGE masih memperkirakan permintaan akan tumbuh sekitar 2 juta barel per hari hingga akhir 2023, karena perlambatan ekonomi terus membayangi, sebagian diimbangi pemulihan mobilitas yang berkelanjutan.
"Jika perkiraan resesi tidak terlalu parah, harga minyak mentah akan tetap berada di kisaran USD100 barel untuk 2-3 tahun ke depan," kata Fereidun Fesharaki, analis FGE.
Trader mengawasi kemungkinan gangguan pasokan minyak di Caspian Pipeline Consortium (CPC), yang diminta pengadilan Rusia untuk menangguhkan aktivitas selama 30 hari. Ekspor di CPC, yang menangani sekitar 1% dari pasokan minyak global, masih mengalir hingga Rabu pagi.
Selain itu, investor menantikan data pemerintah Amerika yang akan dirilis Kamis, yang akan menjelaskan kondisi persediaan minyak dan bahan bakar domestik.
Data industri yang dirilis Rabu menunjukkan persediaan minyak mentah Amerika naik sekitar 3,8 juta barel pekan lalu, menurut sumber pasar. Stok bensin turun 1,8 juta barel, sementara stok penyulingan susut sekitar 635.000 barel. (ef)

Sumber : Admin

powered by: IPOTNEWS.COM