News & Research

Reader

Ada Keraguan Seputar Kesepakatan AS-China, Tembaga London Merosot
Tuesday, November 19, 2019       05:53 WIB

Ipotnews - Harga tembaga ditutup lebih rendah, Senin, setelah merespons keraguan atas apakah kesepakatan perdagangan AS-China dapat dicapai segera, kemungkinan memperpanjang tekanan pada pertumbuhan global dan permintaan logam.
Laporan   CNBC   mengatakan Beijing pesimistis mencapai kesepakatan perdagangan dengan Washington karena Presiden Donald Trump enggan untuk menarik kembali beberapa tarif.
"Banyak optimisme selama beberapa pekan terakhir resolusi cepat perang perdagangan tampaknya telah mereda," kata analis Capital Economics, Keiran Clancy.
"Kita mungkin masih jauh dari kesepakatan perdagangan yang komprehensif dan terlepas dari bahwa pertumbuhan global akan tetap diredam untuk sisa tahun ini."
Harga tembaga untuk kontrak pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange (LME) berakhir 0,3% lebih rendah menjadi USD5.830 per ton, demikian laporan  Reuters , di London, Senin (18/11) atau Selasa (19/11) dini hari WIB. Logam merah itu, yang digunakan dalam sektor kelistrikan dan konstruksi, merosot 1,3% minggu lalu.
Membantu mendukung harga adalah keputusan China yang di luar dugaan memangkas suku bunga karena pertumbuhan ekonomi terbesar kedua di dunia terbebani perang perdagangan yang berkepanjangan.
China menyumbang hampir setengah dari konsumsi tembaga global yang diperkirakan mencapai 24 juta ton tahun ini.
Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) mengatakan pertumbuhan perdagangan barang global diperkirakan tetap "di bawah tren" pada kuartal keempat di tengah ketegangan dan kenaikan tarif di sejumlah sektor utama.
Narasumber mengatakan kepada  Reuters,  pemerintahan Trump akan mengeluarkan perpanjangan lisensi selama 90 hari yang memungkinkan perusahaan-perusahaan AS untuk terus melakukan bisnis dengan Huawei Technologies China.
China meIaporkan FDI naik 6,6% dari tahun sebelumnya menjadi 752,41 miliar yuan (USD107,58 miliar) dalam 10 bulan pertama tahun ini dan diperkirakan tetap stabil selama setahun penuh, kata Kementerian Perdagangan.
Produksi tembaga olahan China sepanjang Oktober meningkat 17,9% ( year-on-year ) ke rekor tertinggi 868.000 ton. Produksi timbal, seng dan alumina juga melejit.
Badan anti-monopoli Indonesia memulai studi pendahuluan tentang sektor peleburan nikel, kata pejabat lembaga tersebut, Senin, setelah asosiasi penambang menuduh pabrik peleburan nikel kakap melakukan kartel.
Persediaan aluminium di gudang yang disetujui LME, melonjak 91.075 ton atau 8,6% menjadi 1,2 juta ton. Level stok meningkat sekitar 22% sejak 12 November dan dikirim ke gudang di Malysia dan Singapura.
Sementara itu, harga logam dasar lainnya juga mengalami tekanan. Aluminium anjlok 1% menjadi USD1.738 per ton, seng merosot 1,5% menjadi USD2.344, timbal menyentuh level terendah sejak 8 Agustus dan berakhir turun 2,2% menjadi USD1.953,50, timah tergelincir 0,2% menjadi USD16.060, sedangkan nikel ditutup 0,9% lebih rendah menjadi USD14.848 per ton, setelah menyentuh tingkat terendah dalam lebih dari tiga bulan. (ef)

Sumber : Admin

powered by: IPOTNEWS.COM