News & Research

Reader

Ditopang Sinyal Positif Nego Brexit, Sterling Terus Menanjak Terhadap Dolar
Wednesday, June 03, 2020       20:10 WIB

Ipotnews - Sterling melayang di sekitar $1,26 pada hari Rabu (3/6) setelah naik ke level tertinggi satu bulan terhadap dolar AS yang terus melemah terhadap sejumlah mata uang, menyusul adanya tanda-tanda Inggris mungkin akan berkompromi pada poin-poin penting untuk mencapai kesepakatan Brexit dengan Uni Eropa.
Dolar jatuh terhadap sebagian besar mata uang utama karena investor secara saksama memperhatikan potensi kejatuhan akibat protes massal terhadap rasisme yang menyebar di seluruh Amerika Serikat. Juga, prospek akan lebih banyak stimulus pemerintah dan pemulihan ekonomi global membuat para investor berani meningkatkan kepemilikan aset berisiko.
Seperti diberitakan laman CNBC , sterling terus didukung oleh tanda-tanda bahwa Inggris dan Uni Eropa mungkin dapat mencapai kompromi pada regulasi perikanan dan perdagangan ketika kedua pihak meluncurkan putaran keempat pembicaraan virtual Brexit minggu ini, dalam upaya mencoba mengamankan kesepakatan perdagangan bebas usai Inggris keluar dari Uni Eropa.
Analis ING mengatakan dalam sebuah catatan kepada klien, bahwa reli dapat berlangsung singkat karena Brexit terus menjadi penyebab "sakit kepala utama" bagi pound.
"GBP telah menikmati sejumlah kinerja mencorong sementara karena laporan lebih banyak fleksibilitas dalam posisi Inggris di Brexit, tetapi kami ragu GBP dapat mempertahankan kenaikan," kata mereka.
Terhadap melemahnya dolar, pound menyentuh $1,2608 sekitar 0700 GMT, tertinggi sejak 30 April. Lalu berakhir di $1,2580, naik 0,2% pada hari ini.
Terhadap euro, sterling kehilangan 0,1% menjadi 89,07 karena pound masih terbebani oleh banyak faktor, termasuk risiko terkait Brexit dan spekulasi tentang suku bunga negatif.
Aturan baru yang dirancang untuk melonggarkan lockdown coronavirus di Inggris mulai berlaku pada hari Senin.
Korban tewas akibat COVID-19 di Inggris mendekati 50.000 pada hari Selasa, mempertegas posisinya sebagai salah satu negara paling parah akibat pandemi tersebut di dunia.

Sumber : admin

powered by: IPOTNEWS.COM