News & Research

Reader

Gejolak Evergrande Masih Hantui Pasar, Rupiah Melemah Tipis
Wednesday, September 22, 2021       15:46 WIB

Ipotnews - Kurs rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah tipis petang ini. Rupiah masih tertekan sentimen negatif ketidakpastian kasus China Evergrande Group.
Mengutip data  Bloomberg,  Rabu (22/9), pukul 15.00 WIB, kurs rupiah ditutup pada level Rp14.242 per dolar AS. Posisi tersebut menunjukkan pelemahan 5 poin atau 0,04% dibandingkan posisi penutupan pasar spot pada Selasa (21/9) petang kemarin, yakni Rp14.237 per dolar AS.
Direktur PT TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi, mengatakan rupiah melemah karena investor menjauhi aset berisiko, mengingat adanya ketidakpastian solvabilitas Evergrande China.
"Kekhawatiran membayangi pelaku pasar karena Beijing tidak menunjukkan tanda-tanda akan campur tangan untuk membendung efek domino di seluruh ekonomi global," kata Ibrahim dalam keterangan tertulisnya, Rabu sore.
China Evergrande Group, perusahaan properti terbesar kedua di China berdasarkan penjualan, terancam bangkrut karena terlilit utang hingga USD300 miliar. Jika bangkrut, dampaknya akan sangat besar terhadap sistem keuangan China.
Faktor kedua, pelemahan rupiah berlangsung tipis karena dolar AS juga sedikit tertekan mengingat investor menunggu hasil pertemuan kebijakan dua hari Federal Reserve.
"Investor menantikan pengumuman kebijakan The Fed, Rabu, untuk tanda-tanda kapan bank sentral akan mulai mengurangi program pembelian obligasi besar-besarannya. Informasi ini juga dinanti pejabat sejumlah bank sentral di seluruh dunia," ujar Ibrahim.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) melakukan stress test mingguan maupun bulanan serta memperbaharui informasi dan menakar dampaknya terhadap perekonomian Indonesia dalam mengantisipasi dampak  tapering  The Fed. Sentimen positif ini juga sedikit membantu menahan laju pelemahan kurs rupiah terhadap dolar AS sehingga hanya turun tipis hari ini.
"Stress test yang dilakukan Bank Indonesia menunjukkan hasil, di mana  tapering  yang kemungkinan akan dilakukan The Fed pada November 2021 akan memberi dampak yang jauh lebih kecil dari  taper tantrum  pada 2013," ucap Ibrahim.
Ada beberapa alasan yang menyebabkan stress test akan berhasil diantaranya semakin jelasnya komunikasi The Fed kepada investor, media, dan masyarakat mengenai rencana  tapering  yang diterima dengan sangat baik oleh pasar. Dan itu bisa terlihat dari indikator tingkat suku bunga obligasi Amerika yang tidak naik signifkan saat ini.
Kemudian adanya langkah-langkah stabilisasi nilai tukar rupiah yang terus membaik saat ini oleh BI bersama dengan Kementerian Keuangan, terutama melalui triple intervention di pasar spot, Domestic Non-Delivery Forward ( DNDF ), dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. (Adhitya/ef)

Sumber : Admin

powered by: IPOTNEWS.COM