News & Research

Reader

Harga Minyak Terus Melesat Pasca OPEC Tahan Pasokan Hingga April
Saturday, March 06, 2021       09:36 WIB

Ipotnews - Harga minyak melonjak pada perdagangan akhir pekan ini, ke level tertinggi dalam lebih setahun terakhir. Lonjakan harga minyak ini menyusul data laporan lapangan pekerjaan di USA lebih kuat dari perkiraan serta keputusan OPEC untuk tidak meningkatkan pasokan pada bulan April.
Minyak Brent di pasar berjangka naik USD2,62 ke harga USD69,36 per barel. Ini merupakan harga tertinggi sejak Januari 2020. Sedangkan harga minyak WTI naik USD2,26 ke harga USD 66,09 per barel. Untuk minggu ini, Brent naik 5,2%, merupakan kenaikan untuk minggu ketujuh berturut-turut untuk pertama kalinya sejak Desember, sementara WTI naik sekitar 7,4% setelah naik hampir 4% minggu lalu.
Kontrak harga minyak WIT dan Brent melonjak lebih dari 4% pada Kamis setelah OPEC memperpanjang pembatasan produksi minyak hingga April, memberikan pengecualian kecil ke Rusia dan Kazakhstan.
" OPEC menetapkan pendekatan yang hati-hati ... memilih untuk meningkatkan produksi hanya 150.000 barel per hari (bph) pada April sementara pelaku pasar memperkirakan kenaikan 1,5 juta barel per hari," kata analis komoditas minyak dari UBS, Giovanni Staunovo.
Investor terkejut bahwa Arab Saudi telah memutuskan untuk mempertahankan pemotongan sukarela sebesar 1 juta barel per hari hingga April bahkan setelah kenaikan harga minyak dalam dua bulan terakhir didukung oleh program vaksinasi COVID-19 di seluruh dunia.
Beberapa analis merevisi ekspektasi harga mereka menjadi naik menyusul keputusan OPEC .
Goldman Sachs menaikkan perkiraan harga minyak mentah Brent sebesar USD 5 menjadi USD 75 per barel pada kuartal kedua dan USD 80 per barel pada kuartal ketiga tahun ini. UBS menaikkan perkiraan Brent menjadi USD 75 per barel dan WTI menjadi USSD 72 pada paruh kedua tahun 2021.
Selain itu, pasar mendapat dorongan setelah sebuah laporan menunjukkan ekonomi AS menciptakan lebih banyak pekerjaan dari yang diharapkan pada bulan Februari.
Laporan nonfarm payroll "menunjukkan bahwa orang Amerika lebih dekat dengan perilaku pra-pandemi yang akan mendorong permintaan yang kuat untuk minyak mentah," kata Edward Moya, analis senior di OANDA di New York.
Trader juga mencatat kenaikan dolar, yang mencapai tertinggi sejak November, membatasi kenaikan harga minyak mentah. Dolar yang lebih kuat membuat minyak lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya. Namun, analis dan trader mengatakan bahwa penjualan fisik minyak mentah yang lambat dan pemulihan permintaan yang tidak diprediksi hingga sekitar kuartal ketiga menunjukkan bahwa kenaikan harga tidak beralasan.
"Pasar menunjukkan keketatan yang tidak ada. Oleh karena itu, kami tetap percaya bahwa risiko penurunan harga dan harga saat ini melampaui batas, "kata Hans van Cleef, ekonom senior di ABN Amro.
India, importir dan konsumen minyak terbesar ketiga dunia, mengatakan bahwa keputusan OPEC untuk memperpanjang pemotongan karena harga bergerak lebih tinggi dapat mengancam pemulihan yang dipimpin konsumsi di beberapa negara.
Pemulihan harga minyak ke tingkat sebelum pandemi juga telah mendorong para pengebor minyak AS untuk kembali ke sumur minyak. Jumlah rig minyak naik satu minggu ini setelah naik selama enam bulan berturut-turut, demikian menurut data perusahaan jasa energi Baker Hughes Co.
(cnbc/reuters)

Sumber : admin

powered by: IPOTNEWS.COM