News & Research

Reader

Hindari Risiko Perang Dagang dan Isu Politik, Asing Lepas Ekuitas Asia Tenggara
Thursday, May 16, 2019       15:28 WIB

Ipotnews - Investor asing melepas saham-saham Asia Tenggara dengan laju tercepat dalam hampir satu dekade, menghindari risiko perang dagang AS-China dan isu politik domestik.
Menurut Bloomberg, ETF iShares yang berisi saham-saham Asia Tenggara, termasuk Singapura, Indonesia, Malaysia, Filipina dan Thailand - yang dioperasikan BlackRock Inc. dan diperdagangkan di bursa AS - membukukan arus keluar bersih senilai USD86,5 juta pada awal pekan ini, terbesar setidaknya sejak September 2010.
Sepanjang pekan lalu, iShares juga memperlihatkan arus keluar mingguan terbesar sejak Agustus 2013, mencapai USD175 juta. Pada minggu yang sama, investor menarik lebih dari USD200 juta dari iShares China Large-Cap ETF, terbesar sejak Desember 2016, seiring turunnya harga saham China.
Bursa ekuitas di seluruh Asia menurun tajam selama dua pekan terakhir, di tengah memanasnya ketegangan perdagangan AS- China akibat pemberlakukan tarif impor baru. MSCI Asia Pacific Index turun 4,8% selama bulan ini.
Namun selain, isu perang dagang AS-China, ada juga peran dinamika regional di sejumlah pasardi Asia Tenggara.
Indeks Harga Saham Gabungan Jakarta ( IHSG ) turun lebih dari 3% sepanjang tahun ini - yang pertama di pasar Asia yang menghapus kenaikan sepanjang 2019 ini - karena investor menunggu hasil akhir pemilihan umum yang diganggu oleh perselisihan. Aksi jual asing semakin merebak setelah rilis data perdagangan yang menunjukkan defisit terbesar sejak 2008, sehingga menekan IHSG ke bawah level psikologis 6.000.
Di Malaysia, Indeks FTSE Bursa Malaysia KLCI menjadi salah satu bursa ekuitas berkinerja terburuk di dunia dengan penurunan 4,7% sepanjang tahun ini. Warga Malaysia dikabarkan semakin tidak puas dengan kinerja Perdana Menteri Mahathir Mohamad, setahun setelah terpilih secara mengejutkan. Banyak janji kampanye yang tetap tidak terpenuhi.
Sementara itu, indeks bursa efek Filipina terperosok ke level terendah empat bulan, setelah pemilihan paruh waktu, yang merontokkan para kandidat oposisi Presiden Rodrigo Duterte. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran tentang risiko politik atas erosi demokrasi di negara ini. Straits Times Index Singapura yang sangat berorientasi ekspor, telah jatuh lebih dari 5% dari level tertinggi tahun ini, pada April lalu. (Bloomberg)

Sumber : Admin

powered by: IPOTNEWS.COM