News & Research

Reader

Indeks Harga Pangan Dunia Menguat, Harga Minyak Nabati Melonjak 7,6 Persen
Thursday, August 06, 2020       18:29 WIB

Ipotnews - Harga pangan dunia periode Juli meningkat dipimpin oleh kenaikan harga komoditas minyak nabati, produk susu dan gula, memperpanjang  rebound  dari bulan sebelumnya. Indeks harga pangan sempat menurun tajam dipicu oleh pandemi coronavirus.
Indeks harga pangan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) PBB, yang mengukur perubahan bulanan untuk sekeranjang komoditas sereal, minyak sayur, produk susu, daging dan gula, pada Juli lalu rata-rata mencapai 94,2 poin, naik dari periode Juni yang sedikit direvisi menjadi 93,1 poin.
"Mirip dengan bulan Juni, kenaikan lebih lanjut harga minyak nabati, produk susu dan gula melebihi penurunan harga di pasar daging di tengah stabilitas keseluruhan indeks harga sereal," sebut FAO dalam pernyataan yang dikutip Reuters. Kamis (6/8).
Indeks harga minyak nabati FAO naik 7,6% pada Juli mencapai level tertinggi lima bulan. Kenaikan tersebut terutama disebabkan oleh penurunan perkiraan produksi minyak sawit, di tengah pulihnya permintaan global dan kekurangan tenaga kerja migran yang berlarut-larut. Sementara itu, harga minyak kedelai dan minyak biji rape, meningkat karena pengetatan pasokan di Brasil dan permintaan baru di Eropa.
Permintaan minyak nabati merosot awal tahun ini karena langkah-langkah penguncian untuk melawan virus korona, mengurangi permintaan untuk restoran dan kebutuhan untuk biofuel.
Sementara itu, semua produk susu yang dilacak oleh FAO mengalami kenaikan harga pada bulan lalu. Indeks harga susu naik 3,5%, kembali di atas level pra-pandemi, ungkap FAO.
Harga susu bubuk naik karena permintaan impor yang kuat dari pembeli Asia di tengah kekhawatiran tentang ketersediaan ekspor di Oseania. Harga mentega dan keju menguat didukung oleh permintaan impor yang kuat, namun tetap di bawah level pra-pandemi.
Sedangkan harga gula sepanjang Juli lalu rata-rata naik 1,4%, dengan dukungan dari kenaikan harga energi. Pengurangan produksi di Thailand, sebagian diimbangi oleh volume penggilingan gula yang meningkat di Brasil.
Sebaliknya, indeks daging FAO tergelincir 1,8% dibanding periode Juni, atau 9,2% di bawah level tahun sebelumnya, karena permintaan impor global terus melemah meskipun ada gangguan pemotongan hewan lantaran virus korona.
Indeks sereal hampir tidak berubah, dengan kenaikan tajam untuk produk jagung dan sorgum terkait pengingkatan pembelian China dari pemasok AS. Kenaikan harga jagung dan sorgum diimbangi oleh kuotasi beras yang lebih rendah dan harga gandum yang cenderung stabil. (Reuters)

Sumber : Admin

powered by: IPOTNEWS.COM