News & Research

Reader

Inversi Imbah Hasil … Tambahkan Lebih Banyak Obligasi dalam Portofolio: Ashmore
Sunday, August 18, 2019       22:53 WIB

Ipotnews - Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia ditutup dengan membukukan kenaikan IHSG sebesar 0,46% ke level 6.286, pada akhir pekan kemarin (Jumat, 16/8). Namun secara keseluruhan IHSG cenderung mendatar dengan hanya membukukan kenaikan tipis 0,07% dibanding akhir pekan sebelumnya. Harga saham berkapitalisasi besar yang diwakili oleh LQ45 berkinerja lebih buruk, anjlok 1,08% secara mingguan.
Pasar obligasi juga turun 0,35% dibanding akhir pekan sebelumnya. Imbal hasil obligasi pemerintah 10-tahun melemah ke level 7,43% karena Rupiah terus melemah ke Rp14.240 per dolar AS.
Secara mingguan, investor asing melakukan penjualan bersih ekuitas senilai USD185 juta dan mlakukan pembelian bersih obligasi senilai USD9 juta (hingga Rabu).
Salah satu penyebab lemahnya kinerja pasar modal global yang berdampak ke pasar modal dalam negari adalah inversi imbal hasil obligasi (kurva imbal hasil terbalik) di AS, mengikuti Jepang dan Inggris. Bagi banyak orang yang masih bingung dengan istilah ini dan apa yang sebenarnya terjadi, serta apa yang pengaruhnya di pasar modal Indonesia, PT Ashmore Asset Management Indonesia berusaha menjelaskannya dalam Weekly Commentary, Jumat (16/8), berikut ini;
Apa yang dimaksud kurva imbal hasil terbalik dan apakah  yield  benar-benar terbalik?
 Yield curve  (kurva imbal hasil) adalah kurva yang menunjukkan beberapa imbal hasil/suku bunga dalam beberapa jangka waktu kontrak yang berbeda ( tenure to maturity ) untuk kontrak utang yang serupa. Dalam kondisi normal,  yield   obligasi jangka pendek akan lebih rendah daripada obligasi jangka panjang. Kondisi ini menyiratkan bahwa risiko untuk memegang aset dalam durasi rendah, akan lebih rendah daripada risiko untuk memegang aset dalam durasi lebih lama.
"Ini karena investor biasanya tidak (dan mungkin tidak bisa dengan yakin) memperkirakan situasi global/makro/kebijakan dalam 10 tahun mendatang, sementara itu kita bisa memperkirakan prospek ekonomi makro 1-2 tahun mendatang dengan lebih percaya diri," tulis Ashmore.
"Jadi ketika investor bersedia membayar untuk obligasi berdurasi lebih lama (dalam hal ini 10 tahun) dibandingkan dengan obligasi 2 tahun, itu menunjukkan bahwa ia melihat risiko yang lebih tinggi dalam memegang aset yang akan jatuh tempo dalam 2 tahun mendatang," Aashmore menambahkan.
Ini berarti bahwa perkiraan prospek ekonomi 2 tahun terlihat buruk sehingga investor bersedia untuk melepaskan risiko jangka pendeknya ke aset jangka panjang yang akan melalui berbagai perubahan makro/politik global dalam 10 tahun ke depan. "Inilah yang terjadi pada pada hari-hari sepenjang pekan ini, di mana kita melihat imbal hasil US Treasury 10 tahun (10Y UST) turun di bawah US Treasury 2 tahun (2Y UST). Ini terjadi dalam waktu singkat dan pada akhirnya 10Y UST ditutup lebih tinggi dari 2Y UST," ungkap Ashmore.
Oleh karena itu untuk menjawab pertanyaan sebelumnya, meskipun imbal hasil 10Y dan 2Y belum secara resmi terbalik berdasarkan harga penutupannya, namun  gap  imbal hasil antara dua obligasi yang secara historis rata-rata sebesar 120bp telah menyempit ke posisi terendah: 0,2bp. Ini menimbulkan risiko bahwa gap tersebut akan terbalik hanya dalam waktu singkat.
"Ini juga menunjukkan bahwa ketika imbal hasil mendatar, ia mengirimkan sinyal bahwa pasar tidak memiliki kepercayaan terhadap prospek ekonomi. Hal ini seharusnya tidak mengejutkan bagi mereka yang telah mengikuti ketegangan perdagangan China-AS yang telah menyebabkan IMF beberapa kali mengurangi prospek pertumbuhan ekonomi global.," papar Ashmore.
Peristiwa yang memicu episode itu, menurut Ashmore, adalah kenaikan tarif terbaru atas barang-barang konsumsi yang diimpor dari China senilai USD300 miliar. Rencananya kenaikan tairf akan berlaku efektif pada 1 September, tetapi kemudian ditunda hingga 15 Desember, karena pemerintahan Trump menginginkan agar pengeluaran liburan akhir tahun dapat terus mendorong pertumbuhan ekonomi AS. "Ini menjadi penting agar ekonomi tetap mendukung, karena kampanye pemilihan AS akan dimulai tahun depan," imbuh Ashmore.
Apa yang secara aktual terjadi pada kurva  yield  terbalik sebelumnya di AS ?
Ada beberapa episode inversi kurva imbal hasil di masa lalu, dan kabar baiknya adalah bahwa tidak semuanya secara aktual menghasilkan resesi. Contohnya, selama inversi kurva imbal hasil tahun 1995, yang tidak diikuti oleh resesi dalam 24 bulan setelahnya. Apa yang terjadi adalah bahwa Fed segera menurunkan suku bunga dan secara besar-besaran, sehingga dapat segera mendukung prospek ekonomi.
Itulah sebabnya, menurut Ashmore, pertemuan The Fed bulan depan akan cukup penting; apakah akan menanggapi sinyal pasar atau tidak. Dengan valuasi US Treasury saat ini, obligasi pemerintah AS telah berubah menjadi tingkat bunga riil negatif yang tidak begitu berbeda dengan negara maju lainnya. "Ini juga secara tidak langsung menyiratkan bahwa Fed 'perlu' untuk memotong suku bunga serendah-rendahnya ke tingkat referensi 0%," tulis Ashmore.
Lalu apa artinya bagi  emerging market  (EM) dan Indonesia?
Jelas setiap resesi yang disebabkan oleh negara dengan ekonomi terbesar secara global, tidak akan menjadi positif untuk EM dan Indonesia, tidak dalam jangka pendek. Namun seperti yang telah dibahas sebelumnya, ada beberapa perubahan di banyak negara EM dalam hal perbaikan ekonomi makro dan reformasi struktural dalam keseimbangan investor.
Ini juga menjelaskan mengapa banyak EM dengan sensitivitas dolar AS yang tinggi (biasanya mereka yang memiliki cadangan devisa lebih rendah, dan ekspor bernilai tambah lebih rendah) seperti Indonesia, Filipina, India, dapat menurunkan suku bunga sebelum The Fed melakukannya pada 19 Juli.
Oleh karena itu, menurut Ashmore, hanya akan ada sedikit atau malah tidak ada kejutan penilaian untuk obligasi di banyak negara itu. Persepsinya berubah karena investor lokal tidak akan meninggalkan pasar dalam negeri, yang juga akan menarik investor asing untuk berburu imbal hasil riil yang positif. Peningkatan selisih ( spread ) imbal hasil antara obligasi Indonesia 10 tahun dan obligasi AS 10 tahun akan membuat valuasinya menjadi menarik.
"Kami merekomendasikan untuk menambahkan lebih banyak porsi aset obligasi ke dalam portofolio, karena hasilnya akan relatif kompetitif dengan ekuitas". (*)

Sumber : Admin

powered by: IPOTNEWS.COM