News & Research

Reader

Meski proyek pembangkit terhambat, TGRA pastikan tidak ada perubahan kontrak PPA
Wednesday, June 03, 2020       16:45 WIB

JAKARTA - Sejumlah proyek pembangkit listrik PT Terregra Asia Energy Tbk () berpotensi tertunda pengerjaannya di tahun ini. Namun, memastikan tidak ada perubahan kontrak perjanjian jual-beli listrik atau  purchasing power agreement  (PPA) atas proyek-proyek yang dikerjakan perusahaan tersebut.
Sekadar catatan, sedang menggarap 5 proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air ( PLTA ) yang tersebar di Aceh dan Sumatera Utara. Dalam berita sebelumnya, 3 dari 5 proyek PLTA tersebut sedang dalam tahap pembahasan PPA.
juga mengerjakan 5 proyek Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro ( PLTM ) di Sumatera Utara yang sedang memasuki proses penandatanganan PPA. Adapun 2 proyek PLTM milik lainnya masih di tahap studi kelayakan.
Sekretaris Perusahaan Christin Soewito mengatakan, proyek-proyek tersebut memang terhambat pengerjaannya akibat wabah Corona. Kendati demikian, pandemi tersebut tidak mempengaruhi kontrak PPA dengan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atas proyek yang sedang dikerjakan oleh . "Proyek yang sudah ada PPA-nya tidak akan ada perubahan nilai," kata dia, hari ini (3/6).
Sayangnya, ia tidak menyebut secara rinci nilai PPA yang dimiliki oleh masing-masing proyek pembangkit listrik .
Tak hanya di dalam negeri, 4 proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya ( PLTS ) di Australia juga terganggu oleh wabah Corona dan berpotensi besar target penyelesaiannya meleset dari target. Sebelumnya, sudah mengoperasikan satu PLTS di Australia berkapasitas 5 megawatt (MW) pada Juli 2019.
Lebih lanjut, penundaan waktu penyelesaian proyek pembangkit listrik akan berdampak negatif bagi kinerja keuangan di sepanjang tahun ini. "Potensi pelemahan kinerja juga dikarenakan penjualan terhadap barang suplai ke PLN akan turun," sambung Christin.
Asal tahu saja, terikat kontrak bisnis dengan PLN. Agustus tahun 2019, meraih kontrak kerja sama pemeliharaan dan penyediaan suku cadang untuk fasilitas PLN di Kalimantan Selatan sebesar Rp 45 miliar. Sedangkan di bulan September 2019, kembali mendapat kontrak kerja sama di bidang yang sama dan juga di Kalimantan Selatan dengan PLN senilai Rp 14 miliar.
Kinerja keuangan terbilang kurang impresif di tahun 2019. Saat itu, pendapatan usaha turun 47,76% (yoy) menjadi Rp 23,81 miliar. juga menderita rugi bersih sebanyak Rp 9,06 miliar di tahun lalu, padahal di tahun sebelumnya perusahaan ini meraih laba bersih sebesar Rp 2,06 miliar.

Sumber : KONTAN.CO.ID

powered by: IPOTNEWS.COM