News & Research

Reader

Minyak Anjlok Lebih dari 1% di Tengah Ketidakpastian Kesepakatan Dagang
Tuesday, November 19, 2019       04:07 WIB

Ipotnews - Harga minyak anjlok lebih dari 1%, Senin, menghapus kenaikan pekan lalu dan jatuh di samping saham AS karena ketidakpastian atas kesepakatan perdagangan antara Amerika Serikat dan China.
Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, merosot 95 sen, atau 1,5%, menjadi USD62,35 per barel, demikian laporan  Reuters , di New York, Senin (18/11) atau Selasa (19/11) pagi WIB.
Sementara itu, patokan Amerika, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) ditutup turun 67 sen, atau 1,2%, menjadi USD57,05 per barel.
Tiga indeks saham utama Wall Street juga merosot dari rekor tertinggi pekan lalu menyusul laporan yang memicu kekhawatiran bahwa kesepakatan perdagangan AS-China mungkin tidak akan tercapai, yang mendorong harga minyak lebih rendah, kata para analis.
"Minyak mentah menjadi sangat reaktif terhadap arah angin kemana pun bertiup dalam perundingan perdagangan (AS-China). Ketika mengecewakan, harga akan tertekan," kata John Kilduff, mitra di Again Capital LLC di New York.
Perang dagang selama 16 bulan antara dua ekonomi terbesar dunia itu memperlambat pertumbuhan global, mendorong para analis untuk menurunkan perkiraan pertumbuhan permintaan minyak dan meningkatkan kekhawatiran bahwa kelebihan pasokan akan berkembang pada 2020.
China dan Amerika Serikat melakukan "pembicaraan yang konstruktif" tentang perdagangan dalam percakapan telepon tingkat tinggi, Sabtu, menurut media pemerintah  Xinhua,  Minggu, tetapi hanya memberikan sedikit rincian lainnya.
Senin,   CNBC   mengutip sumber pemerintah China yang mengatakan  mood  di Beijing tentang kesepakatan perdagangan pesimistis karena Presiden Donald Trumps enggan untuk menurunkan tarif.
"Situasi perdagangan yang suram menghentikan reli," kata Robert Yawger, Direktur Energi Berjangka Mizuho di New York, menambahkan harga minyak mentah menguat di awal sesi tetapi memudar ketika pasar New York dibuka.
Ekspektasi permintaan musiman yang lebih rendah untuk bensin di Amerika Serikat juga menekan harga minyak, kata Andy Lipow, Presiden Lipow Oil Associates di Houston.
Kekhawatiran tentang berlimpahnya pasokan minyak mentah pada 2020 membebani pasar, yang diperkirakan OPEC akan memperpanjang kesepakatan pengurangan produksi pada awal Desember untuk membantu menghindari kelebihan pasokan global yang baru.
Organisasi Negara Eksportir Minyak ( OPEC ) mengatakan pekan lalu pihaknya memperkirakan permintaan minyaknya akan jatuh pada 2020, mendukung pandangan bahwa ada kasus untuk kartel itu dan produsen lain seperti Rusia - secara kolektif dikenal sebagai OPEC + - untuk mempertahankan pembatasan produksi.
OPEC + akan membahas kebijakan mengenai  output  pada pertemuan 5-6 Desember di Wina. Kesepakatan produksi yang sekarang diimplementasikan akan berjalan hingga Maret. (ef)

Sumber : Admin

powered by: IPOTNEWS.COM