News & Research

Reader

Minyak Melambung Hampir Dua Persen, Abaikan Gejolak di India
Wednesday, May 05, 2021       04:05 WIB

Ipotnews - Harga minyak melambung, Selasa, setelah lebih banyak negara bagian Amerika melonggarkan penguncian dan Uni Eropa berusaha menarik wisatawan, meskipun melonjaknya kasus Covid-19 di India membatasi kenaikan.
Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, ditutup melesat USD1,32 atau 1,95% menjadi USD68,88 per barel, demikian laporan  Reuters,  di New York, Selasa (4/5) atau Rabu (5/5) pagi WIB.
Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) melejit USD1,20, atau 1,86%, menjadi USD65,69 per barel setelah melonjak 1,4% pada sesi Senin.
"Pasar optimistis menjelang tengah hari, didorong oleh pergerakan penerbangan antara Amerika dan Eropa," kata Phil Flynn, analis Price Futures Group di Chicago. Permintaan bahan bakar diesel, termasuk jet, mengalami tekanan hebat selama pandemi, membebani pasar minyak global.
Harga didukung oleh prospek kenaikan permintaan bahan bakar ketika negara bagian New York, New Jersey dan Connecticut berupaya melonggarkan pembatasan pandemi dan rencana UE untuk terbuka bagi pengunjung asing yang telah divaksinasi, kata analis.
"Penguatan pasar saham kemarin (Senin) diikuti sampai pagi ini (Selasa) di pasar minyak...pasar terfokus pada peluncuran program vaksin yang berhasil di Amerika dan di negara maju lainnya, dan bukan pada gejolak di India dan Brasil."
Untuk tanda-tanda lebih lanjut dari permintaan minyak Amerika yang meningkat, pedagang akan mengamati laporan tentang stok minyak mentah dan produk dari American Petroleum Institute, dirilis Selasa waktu setempat, dan Badan Informasi Energi AS, sehari berselang.
Lima analis yang disurvei  Reuters  memperkirakan rata-rata persediaan minyak mentah Amerika turun 2,2 juta barel dalam sepekan hingga 30 April. Persediaan minyak naik dalam dua pekan sebelumnya.
Tingkat pemanfaatan kilang diprediksi meningkat 0,5 persen poin minggu lalu, dari 85,4% total kapasitas pada pekan yang berakhir 23 April, menurut jajak pendapat tersebut.
Dolar yang lebih lemah, terpukul perlambatan tak terduga dalam pertumbuhan manufaktur Amerika, juga membantu menopang harga minyak pada sesi Selasa. Depresiasi dolar membuat minyak lebih menarik bagi pembeli yang memegang mata uang lain.
Di India, jumlah total infeksi melampaui 20 juta setelah negara tersebut kembali mencatat lebih dari 300.000 kasus baru, yang diperkirakan memukul permintaan bahan bakar di negara terpadat kedua di dunia itu.
"Proyeksi permintaan yang kuat untuk semester kedua 2021 memberikan  bullish seat  bagi pedagang untuk mendorong reli, tidak membiarkan reaksi harga negatif yang kuat berlarut-larut, bahkan pada saat krisis, seperti yang baru-baru ini terjadi di India," kata analis Rystad Energy, Louise Dickson.
"Faktanya, melihat  balances  ke depan, harga kemungkinan akan naik lagi menjadi sekitar USD70 per barel dalam beberapa bulan mendatang, kecuali kita melihat perubahan kebijakan lain oleh OPEC Plus." (ef)

Sumber : Admin

powered by: IPOTNEWS.COM


Berita Terbaru