News & Research

Reader

Paladium Cetak Rekor Tertinggi, Logam Kuning Terpukul Komentar Yellen
Wednesday, May 05, 2021       03:43 WIB

Ipotnews - Paladium melesat ke rekor tertinggi, Selasa, di tengah kekhawatiran kekurangan pasokan logam yang digunakan dalam perangkat pengontrol emisi mobil itu.
Sementara, emas merosot 1% setelah Menteri Keuangan Amerika Serikat Janet Yellen mengatakan suku bunga mungkin perlu naik.
Harga paladium di pasar spot menguat 0,2% menjadi USD2.976,90 per ounce pada pukul 24.45 WIB, setelah mencapai titik tertinggi sepanjang masa di USD3.017,18 per ounce, demikian laporan  Reuters,  di Bengaluru, Selasa (4/5) atau Rabu (5/5) dini hari WIB.
"Ada pengendalian polusi yang lebih ketat secara global yang belum pernah kita lihat di masa lalu, yang berarti kendaraan yang sebelumnya tidak diwajibkan menggunakan  auto-catalyst  sekarang harus melakukannya, dan karena itu lebih banyak permintaan," kata Bart Melek, Kepala Strategi Komoditas di TD Securities.
"Dalam beberapa waktu ke depan, pasar akan mengalami defisit fisik dan harga bakal meroket," papar dia.
Kekhawatiran tentang kekurangan pasokan diperburuk setelah produsen terbesar Nornickel mengumumkan gangguan di dua tambang karena banjir.
Harga emas di pasar spot anjlok lebih dari 1% setelah Yellen mengatakan suku bunga Amerika mungkin perlu naik untuk mencegah ekonomi  overheating  karena lebih banyak program dukungan yang akan datang.
Terakhir, emas spot turun 0,9% menjadi USD1.776,73 per ounce. Sementara, emas berjangka Amerika ditutup melemah 0,9% menjadi USD1.776 per ounce.
Suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan  opportunity cost  memegang emas yang tidak memberikan bunga.
"Emas gagal untuk keempat kalinya dalam dua pekan menembus USD1.800, yang menjadi kisaran teratas, memicu beberapa aksi ambil untung sebelum jatuh USD20 karena komentar Yellen yang tidak terduga," kata Tai Wong, Kepala Perdagangan Derivatif di BMO.
"Yellen memiliki sejarah panjang dan konsisten sebagai pihak yang  dovish  di The Fed."
Juga mengurangi daya tarik emas bagi pemegang mata uang lainnya adalah dolar yang lebih kuat.
"Kita terus melihat harga rata-rata USD1.775 per ounce di kuartal kedua, mengingat pasar fisik telah melindungi sisi negatifnya, arus keluar ETP (exchange-traded products) mulai melambat dan pesan The Fed yang  dovish  membuat risiko condong ke atas," kata analis Standard Chartered, Suki Cooper.
Perak melorot 1,8% menjadi USD26,40 per ounce, setelah mencapai level tertinggi sejak 26 Februari, sementara platinum turun 0,2% menjadi USD1.227,73 per ounce. (ef)

Sumber : Admin

powered by: IPOTNEWS.COM


Berita Terbaru