News & Research

Reader

Pasar Ragukan Kesepakatan Dagang AS-China, Dolar Tak Berdaya
Tuesday, November 19, 2019       05:18 WIB

Ipotnews - Dolar merosot terhadap yen dan euro, Senin, setelah laporan media memupus harapan baru bahwa Amerika Serikat dan China hampir mencapai kesepakatan perdagangan.
Dilaporkan   CNBC   bahwa China pesimistis bisa mencapai kesepakatan perdagangan karena keengganan Presiden Donald Trump untuk menurunkan tarif.
Itu terjadi setelah media pemerintah China,  Xinhua,  Minggu, mengatakan China dan Amerika Serikat melakukan "pembicaraan yang konstruktif" tentang perdagangan melalui percakapan telepon tingkat tinggi, Sabtu, demikian laporan  Reuters , di New York, Senin (18/11) atau Selasa (19/11) pagi WIB.
"Saya pikir pasar bereaksi terlalu berlebihan terhadap hal ini," kata Mazen Issa, analis TD Securities, New York. "Tidak ada yang substantif yang menunjukkan bahwa kesepakatan itu terjadi atau tidak, itu hanya pasang surut" dari berita setiap hari.
Investor mencari tanda-tanda bahwa tarif yang dikenakan pada barang masing-masing negara akan dibatalkan, karena hal itu dianggap membahayakan pertumbuhan ekonomi global.
Putaran lain tarif AS untuk barang-barang China dijadwalkan mulai berlaku 15 Desember.
Yen naik tajam karena laporan   CNBC  , melonjak jadi 108,64, dari 109,02. Terakhir, yen berada di posisi 108,60 per dolar.
Euro juga meningkat, sebelum membuat keuntungan yang lebih besar setelah Federal Reserve mengatakan Trump dan Chairman The Fed Jerome Powell bertemu di Gedung Putih, Senin pagi.
"Semuanya dibahas termasuk suku bunga, suku bunga negatif, inflasi rendah, pelonggaran, kekuatan dolar dan pengaruhnya terhadap manufaktur, perdagangan dengan China, Uni Eropa dan lainnya," cuit Trump, menyebutnya sesi yang "bagus dan ramah."
Mata uang tunggal itu terakhir di posisi USD1,1078, setelah sebelumnya mencapai USD1,1090, level tertinggi sejak 7 November.
Euro pulih dari level terendah lebih dari dua tahun USD1,0877 pada 1 Oktober di tengah optimisme kesepakatan perdagangan akan ditandatangani dan ekonomi kawasan bakal membaik.
Namun analis mengatakan ekonomi Eropa dan global perlu menunjukkan lebih banyak kekuatan untuk mempertahankan reli euro.
"Salah satu hal dari euro itu adalah mata uang pro-siklus atau pertumbuhan, jadi ketika pertumbuhan global berkinerja baik, kita juga cenderung melihat euro berkinerja baik, tetapi kita belum ada di sana," kata Issa.
Poundsterling, sementara itu, didorong oleh ekspektasi Partai Konservatif dapat memenangkan mayoritas dalam pemilu 12 Desember.
Sterling juga didukung oleh Perdana Menteri Inggris Boris Johnson yang mengatakan semua kandidat Tory dalam pemilu berjanji untuk mendukung kesepakatan Brexit-nya, yang dapat membuka pintu guna mendapatkan persetujuan parlemen.
Indeks dolar, yang mengukur  greenback  terhadap sekeranjang enam mata uang utama, turun 0,21 persen menjadi 97,7930 pada akhir perdagangan.
Pada akhir perdagangan di New York, pound naik menjadi USD1,2955 dari USD1,2901 di sesi sebelumnya, dan dolar Australia turun menjadi USD0,6810 dari USD0,6815.
Sementara itu,  greenback  turun ke posisi 0,9883 franc Swiss dari 0,9902 franc Swiss, dan melemah jadi 1,3204 dolar Kanada dari 1,3228 dolar Kanada. (ef)

Sumber : Admin

powered by: IPOTNEWS.COM