News & Research

Reader

Pasar telah Perhitungkan Pemulihan AS, Valuasi EM terlihat Menarik: Ashmore
Sunday, April 18, 2021       15:17 WIB

Ipotnews - Bursa saham Indonesia mengakhiri pekan ini, Jumat (16/4), dengan membukukan kenaikan tipis IHSG sebesar 0,11% menjadi 6.086, atau naik 0,26% dibanding akhir pekan sebelumnya yang berada di level 6.070. Investor asing mencatatkan arus masuk dana ke ekuitas sebesar USD60 juta dalam sepekan terakhir
PT Ashmore Asset Management Indonesia mencatat beberapa peristiwa penting yang mempengaruhi pergerakan dana di pasar modal dalam dan luar negeri, antara lain;
  • Update Covid; vaksinasi Covid berlanjut dengan pemberian 841 juta dosis dari 578 juta dosis pekan lalu, yang mewakili 185 juta orang atau 2,4% populasi global.
  • Tingkat inflasi tahunan AS periode Maret melonjak menjadi 2,6% dari 1,7% pada Februari 2021, sedikit di atas ekspektasi kenaikan 2,5%.
  • Penjualan ritel di AS pada Maret 2012 melonjak 9,8% mom dan 27,7% yoy, setelah revisi penurunan 2,7% di bulan sebelumnya, mengalahkan ekspektasi kenaikan 5,9%, terbesar sejak Mei 2020.
  • Surplus neraca perdagangan Indonesia pada Maret 2021 meningkat menjadi USD1,56 miliar, dari USD 0,72 miliar di bulan yang sama tahun sebelumnya. Meskipun sedikit di bawah konsensus sebesar USD 1,64 miliar, surplus perdagangan telah meningkat selama sebelas bulan berturut-turut.
  • Penjualan ritel Indonesia di Februari lalu anjlok 18,1% yoy, setelah jatuh 16,4% di bulan sebelumnya, penurunan dalam lima belas bulan berturut-turut .

Dengan memperhatikan berbagaii perkembangan yang sedang berlangsung, berikut pandangan Ashmore dalam  Weekly Commentary,  Jumat (16/4).
Pemulihan AS sedang berlangsung, apakah pasar telah memperhitungkannya?
Menurut Ashmore, pekan ini berjalan cukup berat dengan data frekuensi tinggi dari AS yang menunjukkan ekspektasi pasar akhirnya terpenuhi. Inflasi AS yang dikhawatirkan akan membawa imbal hasil lebih tinggi dari yang dilaporkan pada Maret 2021 sebesar 2,6% yoy. Sejak pengumuman angka inflasi AS, US Treasury 10 tahun (10Y UST) telah menurun dari kisaran perdagangan sebelumnya 1,6-1,7% menjadi 1,5-1,6%.
"Ada beberapa faktor yang juga mendorong hal ini, salah satunya adalah ekspektasi bahwa setelah kegembiraan pembukaan kembali ekonomi ( reopening ) mereda, terdapat potensi tekanan margin akibat kurangnya pasokan dan tekanan biaya," tulis Ashmore.
Meskipun ini mungkin menjadi faktor kunci inflasi, juga akan menjadi alasan di balik keputusan Fed mempertahankan suku bunga tidak berubah. "Bebeapa strategi juga menunjukkan bahwa hal itu dapat tercermin dalam kinerja buruk saham-saham siklikal utama di ruang ekuitas AS."
Apa artinya bagi EM?
Ashmoe mengunngkapkan, pertumbuhan di AS dan negara maju lainnya sangat berkorelasi dengan permintaan produksi EM. Pada tahun 2020, ketika pandemi masih berlangsung, AS menyumbang 15% dari ekspor Asia. Rangkaian data lain juga menunjukkan bahwa sebagai akibatnya dan terlepas dari pandemi, 80% negara Asia Pasifik telah mengembalikan tingkat ekspornya ke pra pandemi pada Februari 2021.
"Singkatnya, pemulihan yang lebih cepat di AS, selain menguntungkan pasar AS dalam jangka menengah, juga telah berdampak positif pada negara-negara EM. Namun, dengan nilai historisnya yang rendah dan komposisi ekonomi makro yang relatif kuat, banyak negara EM termasuk Indonesia terlihat menarik dari sudut pandang valuasi," papar Ashmore.
 Positioning  untuk ekuitas itu pasti, tapi bagaimana dengan obligasi?
Sejak awal tahun, kinerja obligasi Indonesia telah tertinggal dari ekuitas. Dan dengan kemungkinan UST berada di kisaran saat ini, banyak yang bertanya-tanya tentang strategi yang tepat untuk obligasi. "Kami melihat pada saat  tapering  terakhir terjadi (2013-15), di mana UST juga naik 140bp dalam 4,5 bulan lebih awal dari suku bunga Fed. Namun bila diperhatikan secara detail, obligasi AS bertenor panjang (misal, 30T) relatif mendatar, sedangkan opbligasi bertenor pendek (2T) naik lebih cepat." Ashmore meyakini, hal ini mungkin terjadi karena kenaikan tersebut terutama didorong oleh inflasi jangka pendek di tengah pemulihan.
"Strategi obligasi kami mungkin tidak konvensional, dengan memiliki aset berdurasi lebih lama daripada yang berdurasi lebih pendek. Namun dengan kecepatan pemulihan saat ini dan data di AS yang menunjukkan bahwa sebagian besar pemulihan telah diperhitungkan oleh pasar ekuitas AS, kami yakin berinvestasi dalam durasi yang lebih lama mungkin juga dapat dibenarkan." (Ashmore)

Sumber : Admin

powered by: IPOTNEWS.COM


Berita Terbaru