News & Research

Reader

Pelonggaran Kebijakan Sektor Properti Memungkinkan Siklus Kenaikan Baru: Ashmore
Sunday, March 07, 2021       11:51 WIB

Ipotnews - Bursa saham Indonesia mengakhiri pekan pertama Maret, Jumat (5/3), dengan membukukan pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) sebesar 0,51 persen (-33 poin) ke posisi 6.258, namun secara mingguan ( week-on-week ) wow) masih membukukan kenaikan 0,27% dibanding akhir pekan sebelumnya di level 6.241. Investor asing membukukan arus keluar bersih dari pasar ekuitas senilai USD26 juta dalam sepekan.
PT Ashmore Asset Management mencatat beberapa peristiwa penting yang mempengaruhi pergerakan dana di pasar modal dalam dan luar negeri, antara lain;
  • Update Covid; Jumlah kematian akibat Covid secara global telah mencapai 2.560.965 menurut Universitas Johns Hopkins. Sementara itu, kasus infeksi telah melewati 115 juta di seluruh dunia.
  • Perdana Menteri China Li Keqiang mengumumkan target pertumbuhan lebih dari 6% untuk tahun 2021, dan kenaikan sekitar 3% dalam indeks harga konsumeni.
  • Indonesia mewajibkan vaksinasi dan memungkinkan sektor swasta melakukan vaksinasi mandiri untuk mencapai kekebalan kawanan lebih cepat. WNI yang memenuhi syarat tapi menolak vaksinasi dapat dikenai sanksi.
  • Inflasi tahunan Indonesia di Februari turun menjadi 1,38%, terendah sejak Agustus tahun lalu dan sesuai dengan ekspektasi. Inflasi makanan, minuman dan tembakau melambat ke level terendah lima bulan menjadi 1,92% dari 2,81% di Januari. Inflasi perumahan dan utilitas turun menjadi 0,20% dari 0,25%.
  • Indeks PMI Manufaktur Indonesia Februari 2021, versi IHS Markitturun ke level terendah tiga bulan di posisi 50,9 dari 52,2 sebulan sebelumnya. Output tumbuh paling sedikit dalam empat bulan dan penambahan pesanan baru di level terlemah dalam tiga bulan.

Siklus Kenaikan Properti?
Ashmore mencatat, menyusul ledakan komoditas pada tahun 2010, pasar properti Indonesia mengalami salah satu kenaikan terbesar pasca reformasi. Namun sejak 2014, pasar mengalami tekanan karena berbagai faktor, seperti kenaikkan suku bunga, penguatan Dolar AS. "Sekarang, setelah kita mengalami kenaikan komoditas lain dan dikombinasikan dengan berbagai upaya relaksasi properti Pemerintah, apakah kita akan mengalami ledakan sektor properti lainnya?" tulis Ashmore.
Penyesuaian kebijakan pada tahun 2021
1) Uang muka 0% atau 100% LTV (rasio pinjaman terhadap nilai) di mana setiap pembeli dapat meminjam 100% dari nilai properti untuk rumah pertama dan rumah berikutnya. Sebelumnya ini hanya berlaku untuk pembeli rumah pertama sedangkan pembeli rumah kedua harus membayar uang muka 20% (regulasi 2018).
2) Pengembang yang menjual properti dengan menggunakan hipotek sebagai alat pembayaran akan menerima 100% pembiayaan saat penandatanganan kredit. Pada tahun 2018, pencairan pembiayaan adalah 30% setelah penandatanganan kredit, 20% setelah pondasi selesai, 40% setelah  topping off  dan 10% setelah serah terima. "Ini akan mendukung neraca pengembang," ungkap Ashmore.
3) Penghapusan PPN 10% untuk properti yang nilainya di bawah Rp2 miliar dan potongan PPN 50% untuk properti antara Rp2-5 miliar. "Kombinasi penyesuaian kebijakan ini berdasarkan analis kami dapat meningkatkan kualitas neraca pengembang properti (positif untuk valuasi), mengurangi persediaan yang ada dan meningkatkan permintaan. Sisi negatifnya masih akan menjadi tekanan pada harga jual untuk sementara waktu," papar Ashmore.
"Dari sudut pandang  top-down  sektor, pelonggaran ini selanjutnya dapat memungkinkan siklus kenaikan baru di sektor properti. Sektor properti dan rantai pasokannya adalah beberapa sektor yang kami lihat dapat menawarkan keuntungan jangka menengah terutama untuk sektor ekuitas SMID . Kami terus merekomendasikan porsi yang lebih tinggi untuk ekuitas vs obligasi pada tahun 2021." (Ashmore)


Sumber : admin

powered by: IPOTNEWS.COM