News & Research

Reader

Reksa Dana Smart Beta ETF: Mitos dan Miskonsepsi
Tuesday, January 29, 2019       14:39 WIB

Reksa Dana Smart Beta ETF adalah Reksa Dana yang bertujuan untuk meningkatkan imbal hasil dana kelolaan dengan cara memberikan pemodal paparan terhadap bermacam 'faktor' investasi.
Reksa Dana Smart Beta ETF ini berbeda dari Reksa Dana Bursa atau ETF (Exchange Traded Fund) tradisional yang menggunakan pendekatan pembobotan berdasarkan kapitalisasi pasar, yang dipergunakan oleh sebagian besar investasi pasif, dan sebaliknya menyusun portofolionya berdasarkan 'faktor-faktor' seperti likuiditas, dividen, volatilitas atau faktor-faktor fundamental lainnya.
Antara tahun 2012 sampai dengan tahun 2017, besarnya asset Reksa Dana Smart Beta ETFdi dunia telah tumbuh sebesar hampir 30% tiap tahun, dan telah melewati angka 1 Triliun dollar. Jumlah Reksa Dana Smart Beta ETF di seluruh dunia diperkirakan ada sekitar 700 produk saat ini. Beberapa mitos dan miskonsepsi Reksa Dana Smart Beta ETF yang perlu diketahui Pemodal adalah:
Strategi Reksa Dana Smart Beta ETF Hanya Menggunakan Saham-Saham
Sementara ada beberapa strategi Reksa Dana Smart Beta ETF yang hanya menggunakan saham-saham, seperti volatilitas, momentum, earnings, atau dividen, banyak Reksa Dana Smart Beta ETF yang fokus pada kelas aset lain seperti: pendapatan tetap, komoditas, dan mata uang. Sebagai contoh, Reksa Dana Smart Beta ETF pendapatan tetap banyak yang dirancang untuk memberikan keuntungan atas ketidak-efisienan pasar akibat faktor-faktor makro, seperti resiko kredit atau resiko suku bunga.
Reksa Dana Smart Beta ETF Sudah Terdiversifikasi
Meskipun Reksa Dana Smart Beta ETF mungkin dapat menambah manfaat diversifikasi pada portofolio tradisional yang bersifat pasif, namun tidak berarti bahwa Reksa Dana Smart Beta ETF sudah terdiversifikasi dengan baik. Banyak Manajer Investasi Reksa Dana Smart Beta ETF yang menyusun portofolionya dengan melibatkan puluhan saham individual, tetapi memfokuskan hanya pada faktor-faktor tertentu saja sehingga dapat menyebabkan tidak adanya diversifikasi.
Sebagai contoh adalah suatu portofolio yang berfokus pada momentum harga. Portofolio ini, jika dibentuk pada akhir dekade 90-an, akan berinvestasi sangat berlebih (overweight) pada sektor teknologi, yang mengalami crash pada tahun 1999 sampai dengan tahun 2001 (terutama di bursa NASDAQ di Amerika Serikat).
Contoh lainnya adalah Reksa Dana Smart Beta ETF yang berdasarkan volatilitas akan sangat kurang (underweight) berinvestasi pada sektor keuangan pada tahun 2009 (setelah kegagalan sektor keuangan terutama Mortgage Backed Securities atau MBS di Amerika Serikat), yang akhirnya hanya akan menghasilkan kinerja portofolio yang sangat rendah (karena kinerja sektor keuangan kemudian naik tinggi sekali).
Reksa Dana Smart Beta ETF Dikelola Secara Aktif
Reksa Dana Smart Beta ETF sering dianggp dikelola secara aktif, tetapi dalam kenyataannya Reksa Dana ini dikelola secara pasif. Reksa Dana Smart Beta ETF berbeda dengan Reksa Dana yang dikelola secara pasif, yang secara tradisional menggunakan metode pembobotan berdasarkan kapitalisasi pasar, dengan menggunakan metode konstruksi portofolio dan metode pembobotan alternative. Tetapi hal ini tidak berarti bahwa Manajer Investasi mengelola portofolio Reksa Dana Smart Beta ETF secara aktif--hanya skema pembobotannya yang secara fundamental berbeda.
Apa yang membuat Reksa Dana Smart Beta ETF mirip dengan Reksa Dana yang dikelola secara aktif adalah kenyataan bahwa Reksa Dana Smart Beta ETF menawarkan potensi untuk menghasilkan imbal hasil yang lebih baik daripada indeks pasar. Sebaliknya, Reksa Dana Smart Beta ETF juga dapat menghasilkan imbal hasil yang lebih rendah dari pada indeks pasar pada suatu waktu tertentu.
Oleh: Fredy Sumendap, CFA

Sumber : Admin

powered by: IPOTNEWS.COM