News & Research

Reader

Seberapa Efisienkah ETF Anda ?
Thursday, September 23, 2021       16:38 WIB

Reksadana bursa atau ETF adalah reksadana yang unit penyertaannya diperdagangkan di bursa. Berbeda dengan reksadana konvensional, yang umumnya dikelola secaraaktif, ETF pada umumnya dikelola secarapasif. Artinya, tujuan Manajer Investasi ETF bukanlah berusaha mencapai kinerja setinggi-tingginya, tetapi berusaha untuk mencapai hasil investasi yang setara dengan indeks yang menjadi acuannya.
Buat pembaca yang masih awam dengan masalah debat antara  active management vs passive management , membeli reksadana bursa (ETF) mungkin terdengar bukan sebagai ide yang bagus. Seorang pemodal umumnya membeli reksadana (konvensional) dengan harapan bahwa Manajer Investasinya akan memberikan imbal hasi lterbaik.
Paling kurang, imbal hasil reksadana (konvensional) yang dibelinya diharapkan akan mengalahkan imbal hasil indeks yang menjadi acuan reksadana (konvensional) itu. Jika Manajer Investasi gagal memberikan hasil investasi di atas imbal hasil indeks, dikatakan bahwa kinerja Manajer Investasi itu buruk, atau Manajer Investasi itu telah gagal melaksanakan fungsinya dan harus diganti.
Untuk menilai apakah seorang Manajer Investas telah bekerja denganbaik, ada perbedaan kriteria yang dipakai oleh Manajer Investasi reksadana konvensional dan Manajer Investasi reksadana bursa.
Dalam reksadana konvensional, kriteria yang dipakai adalah kinerja reksadana (konvensional) itu dibandingkan dengan kinerja indeks yang menjadi acuannya. Sementara dalam reksadana bursa (ETF), kriteria yang dipakai adalah seberapa dekatreksadana bursa (ETF) itu "meniru" indeks yang menjadi acuannya. Istilah yang dipakai di sini adalah  tracking error , yaitu penyimpangan Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksadana bursa dari nilai indeks yang menjadi acuan reksadana bursa (ETF) itu.
Ada beberapa hal yang mungkin menyebabkan  tracking error  atau nilai aktiva bersih(NAB) reksadana bursa (ETF) menjadi berbeda dari nilai indeks yang menjadi acuannya.
Pertama, pada reksadana bursa (ETF) ada biaya-biaya yang terjadi, tetapi pada angka indeks tidak ada biaya-biaya apa pun yang terjadi.
Biaya-biaya yang paling kentara adalah biaya Manajer Investasi dan biaya Bank Kustodian. Strategi investasi reksadana bursa adalah strategi pasif, dimana Manajer Investasi hanya mengikuti indeks tanpa harus menentukan pembelian atau penjualan saham-saham (atau obligasi-obligasi).
Karena menggunakan strategi investasipasif, Manajer Investasi tidak harus menggaji analis saham (dan obligasi), dan ekonom untuk memprediksi arah pergerakan saham, arah pergerakan suku bunga, dan arah pergerakan ekonomi.
Satu hal lagi yang tidak menjadi pekerjaan ManajerInvestasi reksadana bursa atau ETF (tetapi tetap menjadi pekerjaan Manajer Investasi reksadana konvensional) adalah kegiatan pemasaran atau mencari pemegang unit penyertaan baru. Pada reksadana konvensional, kegiatan pemasaran adalah kegiatan yang paling menyita waktu dan uang.
Pada reksadana bursa, kegiatan yang berhubungan dengan penciptaan unit penyertaan reksadana bursa (ETF) dan kegiatan pelunasan ( redemption ) unit penyertaan reksadana bursa (ETF) dilakukan oleh Dealer Partisipan, dan Dealer Partisipan tidak digaji oleh ManajerInvestasi. Dengan demikian, biaya Manajer Investasi untuk reksadana bursa (ETF) dapat ditekan menjadi jauh lebih rendah dibanding biaya Manajer Investasi reksadana konvensional.
Demikian pula dengan biaya Bank Kustodian. Dalam reksadana bursa (ETF), perubahan komposisi saham-saham (atau obligasi-obligasi) dalam portofolio pada umumnya hanya terjadi setiap enam bulansekali. Dikatakan bahwa saat itu indeks mengalami  rebalancing .
Tetapi, dalam reksadana konvensional, perubahan komposisi portofolio terjadi setiaphari. Dengan demikian biaya-biaya yang harus dibayar untuk  fee Bank Kustodian reksadana bursa (ETF) juga lebih rendah daripada reksadana konvensional.
Kedua, reksadana bursa (ETF) akan menerima dividen (tunai) tetapi angka indeks yang menjadi acuan reksadana bursa (ETF) tidak menerima dividen. Dividen (tunai) yang diterima reksadana bursa akan membuat Nilai AktivaBersih (NAB) reksadana bursa (ETF) itu naik.
Sementara itu, angka indeks hanya mencatat jumlah nilai semua saham-saham dalam indeks, tidak termasuk dividen (tunai) yang telah dibayarkan oleh saham-saham konstituen.
Ketiga, reksadana bursa (ETF) ada yang menggunakan metode replikasi penuh ( full replication ), tetapi ada juga yang menggunakan metode  sampling . Penggunaan metode replikasi penuh akan membuat  tracking error  menjadi minimal, tetapi dengan konsekuensi bahwa pada indeks yang terlalu besar, saham-saham tertentu dapat tidak terbeli oleh reksadana bursa itu.
Dalam hal ada saham-saham yang tidak terbeli oleh reksadana bursa (ETF), maka  tracking error  reksadana ituakan naik. Di sini diperlukan kebijaksanaan Manajer Investasi untuk menentukan (1) indeksacuan, (2) metode untuk tracking indeks acuan, (3) ukuran unit kreasi di pasar primer (4) Dealer Partisipan yang terlibat (untuk membeli atau menjual semua saham-saham dalam indeks dalam satu kali eksekusi).
Jadi, untuk mengetahui efisiensi (seberapa dekat suatu reksadana bursa atau ETF akan"meniru" indeks acuannya) dari reksadana bursa (ETF) yang Anda miliki, perlu mengetahui jumlah biaya-biaya ( fee ) untuk Manajer Investasi dan Bank Kustodian, yang akan mengurangi Nilai AktivaBersih (NAB) dibandingkan angka indeks yang tidak membayar biaya apa pun.
Anda sebaiknya juga mengetahui jumlah dividen (tunai) yang telah diterima (angka indeks hanya mencantumkan harga semua saham komponen indeks, tidak termasuk dividen yang telah dibayarkan), dan metode yang dipakai Manajer Investasiuntuk "meniru" atau mereplikasi indeks acuannya (metode replikasi penuh akan menghasilkan tracking  error  minimal).
 Oleh: Fredy Sumendap, CFA 

Sumber : IPS

powered by: IPOTNEWS.COM