News & Research

Reader

Sepekan ke Depan, ETF Dengan Bobot Tinggi di Saham Perbankan Masih Jadi Pilihan
Monday, October 21, 2019       13:54 WIB

Ipotnews - ETF yang memiliki bobot tinggi di perbankan masih direkomendasikan Tim Analis Indo Premier Sekuritas, sebagaimana terekam dari rilis risetnya, Senin (21/10).
"Total return JAKFIN vs IHSG dalam lima tahun 101,65% dan 36,85%. Dengan valuasi PBV perbankan saat ini dibawah IHSG , investor direkomendasikan untuk akumulasi ETF-ETF yang mempunyai bobot tinggi di sektor perbankan," ujar Tim Analis.
Untuk jelasnya, berikut ini ETF dengan bobot perbankan yang besar dan detail saham-saham nya. Investor bisa melakukan akumulasi beli pada ETF-ETF berikut:

Dijelaskannya, sektor perbankan saat ini ditransaksikan pada 1.95x PBV dibawah average 10-tahun di 2,3x PBV dan dibawah IHSG yang saat ini berada pada 2.0x PBV. Sektor ini terkena tekanan jual sejak bulan September, di mana akan diterapkannya PSAK 71 mulai Januari 2020, rumor bank pemerintah untuk menyelamatkan salah satu bank, dan terakhir awal Oktober saat Moody's mengeluarkan stress test terhadap perbankan di Asia Pasific. Moody's yang menyimpulkan bahwa perbankan di India dan Indonesia paling rentan jika terjadi pelemahan ekonomi yang berkelanjutan.
"Dalam penerapan PSAK 71, kami perkirakan akan langsung dibebankan ke permodalan dan dampaknya akan bervariasi antara 20bps s/d 100bps pada CAR. Tetapi ini masih belum ada kejelasan dari auditor apakah akan diterapkan langsung ke modal atau sebagian ke rugi-laba. Posisi CAR saat ini untuk 4 bank besar : (20%), (22%), (19%) dan (24%)," papar Tim Analis lagi.
Review perdagangan sepekan lalu
Pada minggu lalu sentimen yang mempengaruhi pergerakan pasar tidak terlalu banyak, para pelaku pasar masih menanti pelantikan Presiden dan Wakil Presiden pada tanggal 20 Oktober. Pengumuman para pembantu Presiden juga diharapkan akan diketahui oleh masyarakat setelahnya. Setelah pada bulan sebelumnya surplus US$0,08 miliar neraca perdagangan bulan September tercatat mengalami defisit US$0,16 miliar.
Nilai ekspor Indonesia September 2019 mencapai US$ 14,10 miliar atau menurun 5,74 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu nilai impor Indonesia September 2019 mencapai US$ 14,26 miliar atau turun 2,41 persen jika dibandingkan September 2018. Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari-September 2019 mencapai US$ 124,17 miliar atau menurun 8,00 persen dibanding periode yang sama tahun 2018, sedangkan nilai impor kumulatif Januari-September 2019 adalah US$126,12 miliar atau turun 9,12 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dengan pencapaian tersebut maka defisit neraca perdagangan selama sembilan bulan pertama tahun ini mencapai US$1,95 miliar lebih rendah dibandingkan dengan posisi yang sama tahun sebelumya di level US$3,82 miliar sehingga akan berdampak positif terhadap defisit neraca berjalan di kuartal tiga tahun ini.
Di bagian lain, pada bulan September penjualan ritel di Amerika turun -0,3 persen berbanding terbalik dengan bulan sebelumnya yang naik 0,6 persen. Penurunan ini merupakan yang pertama kali sejak 2019 didorong oleh lemahnya penjualan motor, material rumah, hobi dan pembelian online. Turunnya penjualan ritel untuk pertama kalinya dalam tujuh bulan terakhir ini semakin membuat investor khawatir akan prospek pertumbuhan ekonomi ke depannya. Sebagai catatan penjualan ritel bulanan di Amerika sejak tahun 1992 hingga saat ini secara rerata naik 0,35% dengan kenaikan tertinggi terjadi pada bulan Oktober 2001 yaitu naik 6,70 persen dan terendah turun -3,90 persen pada November 2008.
Alhasil, pada pekan lalu Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) berhasil membukukan kinerja positif yaitu menguat 1,41 persen ditutup pada level 6.192. Sektor Industri dasar dan Aneka Industri yang masing-masing bertambah 7,29 persen dan 3,62 persen menjadi penopang utama penguatan IHSG . Di sisi lain sektor konsumsi dan pertambangan tercatat mengalami koreksi terbesar diantara sektor lainnya yaitu masing-masing terkoreksi turun 2,26 persen dan 1,91 persen. Sementara itu semua indeks acuan reksadana ETF berhasil mencatatkan penguatan seiring dengan menguatnya sektor perbankan (+2,75%) yang mempunyai bobot cukup besar di hampir semua reksada ETF. Kenaikan tertinggi dibukukan oleh indeks Sminfra18 yaitu menguat 4,09 persen, sedangkan penguatan terendah dibukukan oleh Jakarta Islamic Index yang hanya menguat 1,33 persen.
Sejalan dengan penguatan indeks harga saham gabungan dan indeks acuan, semua reksadana ETF yang tercatat dan diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia membukukan kenaikan NAV dengan kenaikan tertinggi dibukukan oleh (Premier ETF Sminfra18) yang menguat +4,07 persen dan kenaikan terendah dibukukan oleh (Reksa Dana Syariah Indeks Simas ETF JII) yang hanya menguat +1,01 persen.
Bursa Efek Indonesia pada tanggal 18 Oktober mencatatkan ETF Obligasi ke tiga, - Reksa Dana Avrist ETF Fixed Rate Bond I, yang dikeluarkan oleh Avrist Asset Management, dengan DP Mandiri Sekuritas dan bank kostodian Bank Mandiri. Total AUM saat pencatatan Rp17,2 miliar. Total ETF di BEI saat ini menjadi 33 ETF dengan rincian 30 ETF berbasis saham dan 3 ETF berbasis obligasi.
Tabel Rangkuman Kinerja ETF Sepekan:
inline-image-big

Sumber : admin

powered by: IPOTNEWS.COM