News & Research

Reader

Stok Amerika Merosot, Harga Minyak Melambung Lebih dari Empat Persen
Thursday, September 17, 2020       03:49 WIB

Ipotnews - Harga minyak melonjak lebih dari 4%, Rabu, menyusul penurunan stok minyak mentah dan bensin AS, dan karena Badai Sally memaksa sebagian produksi lepas pantai Amerika untuk ditutup.
Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, ditutup melesat USD1,69 atau 4,2% menjadi USD42,22 per barel, demikian laporan  Reuters,  di New York, Rabu (16/9) atau Kamis (17/9) pagi WIB.
Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate, meroket USD1,88 atau 4,9% menjadi USD40,16 per barel.
Persediaan minyak mentah AS turun 4,4 juta barel, pekan lalu, menjadi 496 juta barel, tingkat terendah sejak April, menurut data Badan Informasi Energi Amerika, dibandingkan ekspektasi analis dalam jajak pendapat  Reuters  yang memperkirakan kenaikan 1,3 juta barel.
Stok bensin AS menyusut 400.000 barel, kata EIA, lebih dari dua kali lipat perkiraan untuk penarikan, sementara tingkat pemanfaatan pengilangan naik 4 poin persentase.
"Kenaikan kuat hari ini sebagian besar disebabkan oleh panduan minyak mentah yang  bullish  dari rilis EIA," kata Jim Ritterbusch, Presiden Ritterbusch and Associates.
"Sebagian besar penurunan stok (minyak mentah) itu didorong oleh lonjakan yang tak terduga dalam aktivitas pengilangan AS yang dipimpin Gulf Coast."
Sally, yang membuat pendaratan di Pantai Teluk AS sebagai badai Kategori 2, juga meningkatkan harga minyak karena lebih dari seperempat produksi lepas pantai ditutup akibat badai tersebut.
Sekitar 500.000 barel per hari produksi minyak mentah lepas pantai dihentikan di Teluk Meksiko, menurut Departemen Dalam Negeri Amerika, kira-kira sepertiga dari penutupan yang disebabkan Badai Laura, yang mendarat lebih jauh ke barat, Agustus lalu.
Minyak jatuh ke posisi terendah dalam sejarah saat krisis virus korona menekan permintaan. Rekor pemangkasan pasokan oleh OPEC dan sekutunya, kelompok yang dikenal sebagai OPEC Plus, dan pelonggaran  lockdown  membantu Brent pulih dari level terendah 21 tahun di bawah USD16 pada April.
Harga anjlok pada September, tertekan oleh meningkatnya kasus virus korona dan kekhawatiran tentang permintaan.
Organisasi Negara Eksportir Minyak dan Badan Energi Internasional sama-sama memangkas proyeksi permintaan mereka, pekan ini.
Panel menteri minyak OPEC Plus bertemu untuk meninjau pakta pasokan, Kamis, dan sepertinya tidak akan merekomendasikan pembatasan produksi lebih lanjut meski harga jeblok, tutur narasumber kepada  Reuters.    (ef)

Sumber : Admin

powered by: IPOTNEWS.COM