News & Research

Reader

Vaksin, Berkurangnya Risiko, dan Omnibus Law akan Membuat Perbedaan di 2021: Ashmore
Sunday, November 22, 2020       16:42 WIB

Ipotnews - Bursa saham Indonesia mengakhiri sesi perdagangan pekan ketiga November, (Jumat, 20/11) dengan membukukan penurunan IHSG sebesar 0,40% ke level 5.571. Namun secara mingguan IHSG naik 2,03% dibandingkan akhir pekan sebelumnya di posisi 5.461. Aliran masuk dana investor asing tecatat cukup lancar sepanjang pekan ini, dengan ouflow hanya terjadi pada Jumat lalu, sebesar USD75 juta.
PT Ashmore Asset Management Indonesia mencatat, beberapa peristiwa penting yang mempengauhi pergerakan dana di pasar modal dalam dan luar negeri, antara lain;
  • Penandatanganan Regional Comprehensive Economic Partnership ( RCEP ), yang mewakili sekitar 30 persen dari PDB global, mengawali era baru dalam perdagangan global. Negara-negara Asia mulai memainkan peran utama dalam menetapkan standar yang akan memungkinkan putaran pertumbuhan global berikutnya.
  • Menteri Keuangan AS, Steve Mnuchin menyatakan tidak akan memperpanjang program The Fed yang menggunakan dana CARES Act Kongres, dan Kongres menginginkan agar program itu habis masa berlakunya. The Fed, dalam sebuah pernyataan yang tidak biasa, mempublikasikan ketidaksetujuannya dengan keputusan tersebut, dengan mengatakan, bahwa The Fed lebih suka fasilitas darurat yang dibentuk selama masa pandemi terus menjalankan peran penting sebagai penyangga.
  • Bank Indonesia memangkas   7-day reverse repurchase rate  ke rekor terendah sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%, sebagai upaya untuk membantu ekonomi keluar dari resesi pertamanya dalam lebih dari 20 tahun, bertentangan dengan ekspektasi.
  • Indonesia mencatat surplus neraca transaksi berjalan USD1 miliar, setara 0,4% dari PDB, pada periode Juli-September, kali pertama sejak kuartal terakhir 2011, setelah defisit 1,2% dari PDB pada tiga bulan sebelumnya.

 Weekly Commentary  Ashmore, Jumat lalu, membahas beberapa isu terkait ekspektasi akan munculnya vaksin Covid-19, sebagai berikut;
Arus berita baik tentang vaksin?
Menurut Ashmore, sejak awal November, secara global ada banyak berita positif tentang kemajuan vaksin. Pertama, Pfizer mengumumkan kemanjuran 90% dari fase terakhir uji klinisnya, kedua Moderna mengumumkan kemanjuran 94% dan Sinovac mengumumkan bahwa uji coba fase 3 aman. Sinovac, yang memiliki perjanjian kemitraan dengan Biofarma, menyebutkan bahwa hasil khasiat kemungkinan akan diumumkan pada akhir tahun.
Pfizer dan Moderna berencana untuk mengajukan penggunaan darurat FDA paling cepat akhir minggu ini. "Sayangnya, Indonesia belum memiliki alokasi dengan Pfizer dan Moderna karena kendala distribusi. Kabar baiknya adalah bahwa kandidat vaksin Sinovac tampaknya lebih mudah didistribusikan secara logistik," tulis Ashmore.
Rencana Pemerintah Indonesia soal vaksin?
Ashmore mencatat, BPOM Indonesia telah mengusulkan akan menggabungkan hasil uji coba vaksin Sinovac di Brasil dan Indonesia untuk menyimpulkan kemanjuran vaksin tersebut. BPOM juga menyarankan agar distribusi vaksin berjalan lancar. Sebagian dari vaksin ini akan dibagikan gratis (biayanya diperkirakan Rp400 ribu per orang untuk dua dosis) dan akan dibayar dengan anggaran PEN (Program Pemulihan Ekonomi Nasional).
Pemerintah telah mengalokasikan Rp24 triliun untuk uang muka vaksin tahun ini, dan Rp22 triliun lagi untuk program vaksinasi pada tahun 2022. "Jumlah tersebut seharusnya cukup untuk 90 juta orang yang akan menerima vaksin secara gratis," ungkap Ashmore.
Vaksin dan pasar modal - pengaruh yang menstabilkan?
Banyak negara maju di belahan bumi utara yang mengekspektasikan peningkatan kasus Covid19 karena musim dingin yang akan datang. Ashmore berpendapat, kondisi tersebut dapat menghambat pertumbuhan secara keseluruhan jika ada penguncian besar-besaran. "Kami memandang bahwa potensi kemajuan vaksin dan distribusinya dapat menjadi pengaruh yang menstabilkan pasar modal,"
Secara keseluruhan pasar modal global dan domestik telah mendapatkan kabar baik sejak awal November 20. Ashmore berpendapat, secara keseluruhan, berkurangnya risiko yang dirasakan cenderung akan menetap secara struktural dengan adanya perubahan dalam kepemimpinan di AS, distribusi vaksin yang akan segera terjadi, dan bertambahnya poin data yang semuanya mengarah ke penguatan rupiah.
"Dikombinasikan dengan diberlakukannya  omnibus law  Indonesia, tahun 2021 terlihat cukup berbeda dengan tahun 2020. Kami merekomendasikan investor untuk tetap berinvestasi dan beralih ke aset berisiko lebih tinggi." (Ashmore)

Sumber : Admin

powered by: IPOTNEWS.COM