News & Research

Reader

Laporan Keuangan BMRI 4Q22: Lebih Baik dari Ekspektasi Ditopang Solidnya NIM dan PPOP
Wednesday, February 01, 2023       14:58 WIB

Ipotnews - Laporan Keuangan PT Bank Mandiri, Tbk, () sepanjang thaun 2022, yang dirilis Selasa kemarin, (31/1), mencatatkan laba bersih Rp41,2 triliun (47% yoy). Pencapaian tersebut lebih baik dari ekspektasi.
Pendapatan bunga bersih (NII) maupun laba operasional sebelum pencadangan ( PPOP ) tumbuh +20% yoy dan +25% yoy, pencapaian terkuat diantara bank-bank besar di dalam negeri.
Pencadangan yang lebih rendah (-17% yoy) ditopang oleh lebih baiknya kualitas aset. Rasio kredit bermasalah (NPL) dan pinjaman beriko (LAR) di 4Q22 membaik menjadi 1,9 dan 11,7 dari sebelumnya di 4Q21 di level 2,7/17,4%.
"Di sepanjang 2022, NIM [marjin bungan bersih] meningkat menjadi 5,5% (+40 bp yoy/+20 bp qoq) yang berasal dari penyesuaian bunga kredit. Pertumbuhan kredit juga yang tersolid.  Upgrade  laba per saham EPS dan target harga (TP)," tulis analis Tim Riset Indo Premier, Jovent Muliadi dan Anthony dalam kesimpulan hasil risetnya, Selasa (31/1).
Mereka mencatat, membukukan pertumbuhan PPOP terkuat di antara bank-bank besar. Laba bersih FY22 sebesar Rp41,2 triliun (+47% yoy/+1% qoq) berada di atas 108% dan 104% dari perkiraan dan konsensus.  Headline  PPOP meningkat +25% yoy/-2% qoq (tertinggi di antara bank-bank besar) karena NII yang kuat (+20% yoy/+8% qoq) dilengkapi dengan  mild opex  (+8% yoy/+31% qoq) .
"Bersamaan dengan itu, provisi juga meningkat (-17% yoy/+2% qoq) yang menghasilkan biaya modal (CoC) yang lebih rendah sebesar 1,4% di FY22 vs. 2,1% di FY21. Angka ini berada di ujung bawah panduannya sebesar 1,4-1,7%, dan memandu 1,3-1,5% CoC di FY23F, yang menurut kami konservatif," unkap Tim Riset.
Tim Riset juga mencermati, NIM yang tangguh di FY22, yang mendukung kenaikan panduan FY23F yang cukup besar. NIM meningkat menjadi 5,5% di FY22 (vs. 5,1/5,4% di FY21/9M22) didukung oleh  repricing  pinjaman (+70bp yoy/+50bp qoq), dan CoF yang rendah (+10bp yoy/+15bp qoq).
Pencapaian ini cukup baik mengingat rasio pinjaman terhadap simpanan (LDR)-nya hanya mencapai 80% di 4Q22 (vs. 81%/85% di 4Q21/3Q22). Dana simpanan tumbuh 15% yoy (+10% qoq) didorong oleh dana murah yang diperoleh dari tabungan dan giro () (+22% yoy/+15% qoq), sedangkan  term deposit  (TD) relatif flat (+1% yoy/-4% qoq).
"Ini secara konservatif memandu NIM sebesar 5,3-5,6% di FY23 yang menunjukkan banyak kenaikan mengingat kecepatan penyesuaian bunga kredit ( repricing ) saat ini," ungkap Tim Riset.
Tim Riset melihat adanya pertumbuhan kredit yang kuat di seluruh segmen. Kredit tumbuh 14% yoy (+3% qoq), terutama didukung oleh anak perusahaan (kebanyakan dari BSI) sebesar 21% yoy (+4% qoq); sementara segmen lain membukukan pertumbuhan yoy rendah hingga belasan persen. "Ini memandu pertumbuhan 10-12% di FY23," imbuh Tim Riset.
Menurut Tim Riset, mampu meningkatkan kualitas aset dengan provisi yang memadai. NPL meningkat menjadi 1,9% di 4Q22 vs. 2,2% di 3Q22 (2,7% di 4Q21), sementara risiko pinjaman (LAR) juga meningkat menjadi 11,7% di 4Q22 vs. 13,4% di 3Q22 (17,4% di 4Q21) dengan cakupan LAR berada di 46% di 4Q22 (vs. 44/39% di 3Q22/4Q21).
Dengan memperhatikan perkembangan tersebut, Tim Riset mempertahankan rating Maintain Buy dengan TP yang lebih tinggi. "Kami menaikkan EPS sebesar 13/12% untuk FY23/24F didukung prospek NIM yang lebih baik. Hal ini juga menghasilkan TP yang lebih tinggi sebesar Rp11.800 berdasarkan 2x P/B ( ROAE : 18%, Ke: 14%)," sebut Tim Riset.
Tim Riset mengekspektasikan ROAE akan mencapai 18,5% pada FY23F dan 19% pada FY24F (lebih tinggi jika meningkatkan pembayaran dividen)." Saat ini diperdagangkan pada 1,7x FY23F P/BV (rata-rata 10 tahun: 1,7x). Risikonya adalah  repricing  pinjaman yang lambat." (Riset Indo Premier).


Sumber : Admin

powered by: IPOTNEWS.COM