Bursa Eropa Bangkit di Tengah Konflik AS-Iran, Harga Minyak Mulai Mereda
Tuesday, March 17, 2026       03:25 WIB
  • Bursa Eropa menguat setelah harga minyak mereda di tengah ketegangan Timur Tengah.
  • STOXX 600 naik 0,44%; DAX, FTSE 100, dan CAC juga menguat dipimpin sektor properti dan energi.
  • Investor menanti sinyal kebijakan dari bank sentral utama terkait inflasi dan suku bunga.

Ipotnews - Pasar saham Eropa berhasil bangkit pada perdagangan Senin setelah sempat melemah di awal sesi, seiring meredanya harga minyak yang memberikan sedikit kelegaan bagi investor yang sebelumnya tertekan oleh meningkatnya konflik di Timur Tengah. Pergerakan ini membantu mengakhiri tren penurunan yang terjadi selama tiga hari berturut-turut di kawasan tersebut.
Indeks pan-Eropa STOXX 600 ditutup naik 0,44 persen atau 2,62 poin menjadi 598,47, setelah sebelumnya sempat turun hingga 0,45 persen pada awal sesi, demikian laporan  Reuters  dan   CNBC ,  di Bengaluru, Senin (16/3) atau Selasa (17/3) dini hari WIB.
Penguatan ini terutama ditopang kenaikan pada sektor properti dan energi, yang masing-masing melonjak 1,48 persen dan 1,2 persen.
Bursa regional utama juga menghijau. Indeks DAX Jerman meningkat 0,50 persen atau 116,72 poin jadi 23.564,01, FTSE 100 Inggris bertambah 0,55 persen atau 56,54 poin menjadi 10.317,69 dan CAC Prancis menguat 0,31 persen atau 24,44 poin ke posisi 7.935,97.
Pasar global dalam beberapa pekan terakhir sangat sensitif terhadap pergerakan harga minyak mentah. Harga komoditas tersebut melejit sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran lebih dari dua minggu lalu. Namun pada Senin, harga minyak mulai mereda setelah muncul harapan bahwa lebih banyak kapal akan diizinkan melintas melalui Selat Hormuz, jalur penting bagi pengiriman minyak dunia.
Analis William Blair, Richard de Chazal, menilai pasar tampaknya berspekulasi pada sikap Presiden AS Donald Trump yang dalam pengalaman sebelumnya menunjukkan toleransi relatif rendah terhadap gejolak pasar keuangan. Menurutnya, pasar berharap pemerintah AS akan memilih mengakhiri konflik lebih cepat sebelum dampak ekonomi domestik semakin besar menjelang pemilu paruh waktu yang penting.
Di sisi lain, perhatian pelaku pasar juga mulai beralih ke rangkaian pertemuan bank sentral utama yang padat sepanjang pekan ini. Perumus kebijakan diharapkan memberikan gambaran mengenai bagaimana peristiwa geopolitik terbaru memengaruhi pandangan ekonomi mereka sekaligus memberi petunjuk baru bagi investor dalam menentukan strategi investasi.
Analis Raymond James, Jeremy Batstone-Carr, mengatakan karena konflik tersebut baru berlangsung sekitar dua minggu, kebijakan moneter kemungkinan besar belum akan berubah. Karena itu, fokus investor akan tertuju pada pembaruan proyeksi ekonomi dari Federal Reserve dan Bank Sentral Eropa (ECB).
Selain itu, pasar juga akan mencermati pernyataan resmi serta nada konferensi pers yang disampaikan Chairman Federal Reserve Jerome Powell, Presiden ECB Christine Lagarde, dan Gubernur Bank of England Andrew Bailey.
Dalam beberapa hari terakhir, investor dengan cepat mengurangi ekspektasi terhadap pemangkasan suku bunga. Kekhawatiran muncul bahwa gangguan pasokan minyak dapat mendorong harga energi lebih tinggi dan memicu inflasi, sehingga memaksa bank sentral menunda pelonggaran kebijakan moneter.
Dari sisi pergerakan saham individual, Commerzbank melambung sekitar 9 persen setelah bank asal Italia UniCredit meluncurkan tawaran untuk meningkatkan kepemilikannya di bank Jerman tersebut. Saham UniCredit sendiri tercatat hanya naik tipis.
Sementara itu, saham perusahaan alat bantu dengar asal Italia, Amplifon, merosot hampir 14 persen hingga menyentuh level terendah dalam sembilan tahun. Penurunan ini terjadi setelah mengumumkan rencana untuk mengakuisisi bisnis alat bantu dengar milik perusahaan Denmark GN Store Nord senilai 2,3 miliar euro atau sekitar USD2,6 miliar.
Secara terpisah, Goldman Sachs juga menaikkan proyeksi target indeks FTSE 100 untuk 12 bulan ke depan menjadi 10.800 poin dari sebelumnya 10.400 poin, mencerminkan pandangan yang lebih optimistis terhadap prospek pasar saham Inggris dalam jangka menengah. (Reuters/CNBC/AI)

Sumber : Admin

berita terbaru