- STOXX 600 naik tipis 0,03% di tengah kekhawatiran konflik Iran-AS dan gejolak energi.
- Pasar mencermati isu perdamaian Iran-AS, namun AS membantah adanya kesepakatan awal.
- Saham otomotif menguat, sementara energi bersih dan CD Projekt melemah.
Ipotnews - Bursa saham Eropa nyaris tidak berubah pada akhir sesi Rabu, tetap berada di dekat level rekor tertinggi yang dicapai sebelum pecahnya perang Iran. Kenaikan saham sektor otomotif dan kimia berhasil mengimbangi kekhawatiran investor terhadap konflik di Timur Tengah dan dampaknya terhadap pasar energi global.
Indeks pan-Eropa STOXX 600 ditutup naik tipis 0,03 persen atau 0,17 poin menjadi 628,18, setelah bergerak lebih tinggi pada awal sesi dan kini berada sekitar 1 persen di bawah rekor tertinggi sepanjang masa yang dicapai sebelum konflik dimulai pada akhir Februari, demikian laporan Reuters dan CNBC , di Bengaluru, Rabu (27/5) atau Kamis (28/5) dini hari WIB.
Bursa regional utama berakhir variatif. Indeks FTSE 100 Inggris menguat 0,13 persen atau 13,62 poin ke posisi 10.505,01 dan CAC Prancis meningkat 0,43 persen atau 34,78 poin jadi 8.207,89, sedangkan DAX Jerman turun 0,03 persen atau 7,09 poin ke 25.177,80.
Pelaku pasar memperoleh sedikit ketenangan setelah harga minyak mentah Brent merosot 3,2 persen. Meski demikian, investor masih terus mencermati berbagai sinyal yang saling bertentangan dari Washington dan Teheran terkait upaya mengakhiri konflik.
Televisi pemerintah Iran menyatakan telah memperoleh draf kerangka tidak resmi mengenai kesepahaman awal antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri perang. Dalam laporan itu disebutkan adanya ketentuan yang memungkinkan Teheran memulihkan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz ke tingkat sebelum perang dalam waktu satu bulan. Namun, Gedung Putih membantah laporan itu dan menyebutnya tidak benar.
Sehari sebelumnya, Iran menuduh Amerika Serikat melanggar gencatan senjata, sehingga kembali memunculkan keraguan terhadap keberlangsungan proses perdamaian.
Head of Investment Strategy Lombard Odier, Luca Bindelli, mengatakan Eropa lebih rentan dibandingkan Amerika Serikat terhadap dampak ekonomi dari konflik tersebut, terutama melalui jalur energi.
Menurut dia, apabila kesepakatan damai berhasil dicapai, sebagian kekhawatiran yang membebani pasar Eropa kemungkinan akan mereda.
Bindelli menilai kondisi tersebut memang belum tentu langsung memperbaiki kinerja laba perusahaan secara signifikan dalam jangka pendek, tetapi dari sisi sentimen pasar dan valuasi, saham-saham Eropa berpotensi kembali menguat.
Sejumlah analis menilai lonjakan harga energi menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan kinerja saham Eropa tertinggal dibanding Wall Street sepanjang tahun ini.
Bank Sentral Eropa (ECB) juga memperingatkan, perang dan ketegangan perdagangan yang masih berlangsung dapat menekan pertumbuhan ekonomi zona euro, meningkatkan biaya pinjaman, serta membebani kondisi fiskal sejumlah negara anggota.
Di sisi sektoral, saham otomotif dan suku cadang melesat 2,5 persen setelah data menunjukkan registrasi mobil di Eropa melonjak 7 persen sepanjang April, didukung tingginya permintaan kendaraan elektrifikasi.
Sektor kimia melompat lebih dari 1,3 persen, dipimpin penguatan saham AkzoNobel sebesar 19,5 persen setelah produsen cat Dulux tersebut menolak tawaran akuisisi tunai bersama senilai 73 euro per saham dari Nippon Paint dan Sherwin-Williams.
Sebaliknya, Naturgy anjlok 4 persen setelah perusahaan ekuitas swasta CVC Capital Partners menjual seluruh kepemilikan sahamnya sebesar 13,8 persen di perusahaan energi asal Spanyol tersebut dengan harga diskon.
Saham energi bersih juga berada di bawah tekanan. Nordex melorot 3 persen, sedangkan Orsted dan Vestas masing-masing kehilangan 3,1 persen dan 7,4 persen.
Sementara itu, pengembang video game asal Polandia, CD Projekt, ambles 7,5 persen setelah mengumumkan ekspansi cerita ketiga untuk gim andalannya "The Witcher 3: Wild Hunt" baru akan dirilis pada 2027, lebih lambat dari ekspektasi pasar yang memperkirakan peluncuran tahun ini. (Reuters/CNBC/AI)
Sumber : Admin