- Bursa Eropa naik, tapi pasar masih waspada akibat konflik Timur Tengah dan lonjakan harga minyak.
- Investor menanti arah suku bunga dari Federal Reserve dan ECB.
- Pergerakan minyak jadi penentu inflasi dan ekspektasi kenaikan suku bunga.
Ipotnews - Bursa ekuitas Eropa berakhir di zona hijau, Selasa, melanjutkan awal pekan yang relatif tenang seiring kehati-hatian investor yang masih dibayangi aksi jual akibat konflik Timur Tengah. Pelaku pasar kini menunggu sinyal penting dari bank sentral utama untuk menentukan arah investasi berikutnya.
Kenaikan saham di kawasan ini tetap sensitif terhadap pergerakan harga minyak. Konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang berdampak pada pasokan minyak mentah belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Analis memperingatkan, lonjakan harga energi berpotensi memicu inflasi lebih tinggi, yang pada akhirnya dapat mendorong bank sentral mengambil kebijakan moneter yang lebih agresif.
Fokus utama pasar tertuju pada pertemuan kebijakan Federal Reserve dan Bank Sentral Eropa (ECB) yang dijadwalkan berlangsung pekan ini. Kedua institusi tersebut diharapkan memberikan petunjuk terkait arah suku bunga ke depan.
Ekonom ING menilai ECB, yang dianggap terlambat merespons lonjakan harga energi pada 2022, kemungkinan akan menunjukkan komitmen lebih kuat dalam menekan inflasi. Salah satu langkah yang mungkin diambil adalah kenaikan suku bunga secara pre-emptive.
Indeks pan-Eropa STOXX 600 ditutup menguat 0,67% atau 3,98 poin menjadi 602,45, demikian laporan Reuters dan CNBC , di Bengaluru, Selasa (17/3) atau Rabu (18/3) dini hari WIB.
Bursa regional utama juga kompak berakhir di area positif. Indeks DAX Jerman naik 0,71% atau 166,91 poin jadi 23.730,92, meski data menunjukkan kepercayaan investor domestik turun lebih dalam dari perkiraan pada Maret. Indeks FTSE 100 Inggris bertambah 0,83% atau 85,91 poin menjadi 10.403,60 dan CAC Prancis meningkat 0,49% atau 38,52 poin ke posisi 7.974,49.
Sektor energi menjadi pendorong utama penguatan pasar dengan lompatan 2,3%. Saham Shell melonjak 1,7%, menandai penguatan dalam lima sesi berturut-turut.
Harga minyak mentah Brent bertahan di atas USD100 per barel, memperpanjang reli yang dipicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan di Timur Tengah, terutama setelah Iran melancarkan serangan baru ke Uni Emirat Arab.
Situasi di Selat Hormuz juga menjadi perhatian utama pasar. Jalur pelayaran vital tersebut dilaporkan sebagian besar masih tertutup, tanpa kepastian kapan akan kembali dibuka untuk distribusi minyak global.
Selain energi, sektor utilitas yang dikenal sebagai sektor defensif turut melesat 1,6%, mencerminkan sikap investor yang cenderung berhati-hati di tengah ketidakpastian.
Meski ECB secara luas diperkirakan mempertahankan suku bunga pada pertemuan kali ini, pernyataan resmi yang menyertainya akan dianalisis secara mendalam untuk mencari petunjuk terkait kebijakan di masa mendatang.
Data dari LSEG menunjukkan pasar saat ini memperkirakan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga ECB sebelum akhir tahun.
Namun, menurut Joost van Leenders, analis Van Lanschot Kempen, ekspektasi tersebut masih sangat fluktuatif. Dia menjelaskan, jika harga minyak kembali melonjak hingga USD110 per barel, pasar bisa memperkirakan dua kali kenaikan suku bunga. Sebaliknya, jika harga minyak mereda dan distribusi melalui Selat Hormuz kembali normal, ekspektasi kenaikan suku bunga bisa menghilang.
Dari sisi pergerakan saham individual, Springer Nature melejit 12,8% setelah penerbit asal Jerman tersebut memproyeksikan kinerja 2026 yang melampaui ekspektasi.
Sartorius Stedim Biotech melambung 8,9% usai menetapkan target pertumbuhan jangka menengah yang baru, sementara induk perusahaannya, Sartorius, turut menguat 8,2%.
Operator bandara Fraport juga mencatat kenaikan 5,9% setelah memperkirakan peningkatan laba pada 2026. (Reuters/CNBC/AI)
Sumber : Admin