Bursa Eropa Rontok di Tengah Lonjakan Harga Minyak dan Kekhawatiran Inflasi
Tuesday, March 10, 2026       03:23 WIB
  • Bursa Eropa melemah; STOXX 600 turun 0,63% akibat lonjakan harga minyak dan sentimen geopolitik.
  • Ketegangan Iran, Amerika dan Israel mendorong harga minyak mendekati USD120 dan memicu kekhawatiran inflasi.
  • Pasar juga menilai ECB berpotensi kembali menaikkan suku bunga.

Ipotnews - Bursa ekuitas Eropa berakhir di zona merah, Senin, setelah sempat menyentuh level terendah dalam lebih dari dua bulan. Tekanan terhadap pasar muncul akibat lonjakan harga minyak yang memicu kekhawatiran inflasi, sementara konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Indeks pan-Eropa STOXX 600 ditutup melorot 0,63 persen atau 3,77 poin menjadi 594,92, menandai sesi negatif ketiga berturut-turut setelah indeks tersebut mencatat kinerja mingguan terburuknya dalam hampir satu tahun, demikian laporan  Reuters  dan   CNBC  , di Bengaluru, Senin (9/3) atau Selasa (10/3) dini hari WIB.
Sejak mencapai rekor penutupan tertinggi pada 27 Februari, indeks ini merosot hampir 6 persen. Sementara itu, indikator ketakutan investor di pasar Eropa, STOXX Europe 600 Volatility Index, sempat menyentuh level tertinggi sejak April sebelum akhirnya menutup perdagangan di posisi yang lebih rendah.
Ketidakpastian geopolitik turut memperburuk sentimen pasar setelah Iran menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai penerus ayahnya, Ali Khamenei, sebagai Pemimpin Tertinggi negara tersebut. Penunjukan ini dipandang memperkuat pengaruh kelompok garis keras di Teheran dan memperkecil peluang berakhirnya konflik dalam waktu dekat.
Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah mendorong harga minyak dunia meroket lebih dari 25 persen hingga mendekati USD120 per barel. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di Eropa yang sangat bergantung pada impor energi, termasuk gas alam cair (LNG) dan minyak mentah. Jika konflik berlangsung lebih lama, biaya energi dan transportasi diperkirakan meningkat lebih tinggi pada saat pertumbuhan ekonomi kawasan sudah berada dalam kondisi rapuh.
Kepala Ekonom Aberdeen Group, Paul Diggle, mengatakan harga energi masih berpotensi naik sebelum akhirnya mengalami penurunan. Menurutnya, jika harga kemudian kembali turun, siklus ekonomi global kemungkinan akan terasa lebih stagnan dengan tekanan inflasi, meski tidak sampai merusak fondasi ekonomi secara menyeluruh.
Di tengah tekanan pasar, saham energi menjadi satu-satunya sektor yang mencatat kenaikan di indeks STOXX 600 dengan penguatan sekitar 1,4 persen, terkatrol lonjakan harga minyak. Sebaliknya, sektor properti mengalami penurunan paling tajam hingga 2,7 persen karena meningkatnya kekhawatiran bahwa inflasi yang kembali menguat akan menunda rencana pemangkasan suku bunga.
Pasar juga mulai memperkirakan Bank Sentral Eropa kemungkinan akan menaikkan suku bunga sekali lagi sekitar Juni atau Juli. Seiring meningkatnya ekspektasi tersebut, imbal hasil obligasi pemerintah Eropa melesat ke level tertinggi dalam satu tahun terakhir.
Di sisi lain, negara-negara G7 masih mempertimbangkan kemungkinan melepas cadangan minyak strategis untuk meredam lonjakan harga energi yang kini melampaui USD119 per barel akibat konflik Iran, ungkap Menteri Keuangan Prancis.
Direktur Riset XTB, Kathleen Brooks, mengatakan pasar sempat sedikit tenang karena adanya prospek pelepasan cadangan minyak secara terkoordinasi oleh negara-negara G7. "Namun, risiko kenaikan harga minyak tetap ada dan langkah tersebut kemungkinan hanya memberikan dampak sementara," kata dia.
Tekanan juga terlihat di sejumlah bursa utama Eropa. Bursa Frankfurt sempat jatuh ke level terendah dalam lebih dari 10 bulan, sementara bursa Milan dan Madrid terjerembab ke posisi terendah dalam tiga bulan. Bursa Paris bahkan menyentuh posisi terlemah dalam lebih dari lima bulan.
Di akhir sesi, Indeks DAX melemah 0,77 persen atau 181,66 poin menjadi 23.409,37, FTSE 100 Inggris turun 0,34 persen atau 35,23 poin ke posisi 10.249,52, CAC Prancis kehilangan 0,98 persen atau 78,13 poin jadi 7.915,36 dan FTSE MIB Italia berkurang 0,29 persen atau 127,30 poin ke 44.024,96.
Saham sektor perbankan yang menjadi pusat aksi jual pekan lalu kembali melemah sekitar 0,5 persen. Saham sektor perjalanan dan rekreasi juga tertekan dan melorot sekitar 2 persen di tengah kekhawatiran meningkatnya biaya energi yang dapat menekan permintaan.
Di antara saham individual, perusahaan investasi Swedia, Kinnevik, menjadi saham dengan kinerja terburuk di STOXX 600 setelah anjlok sekitar 17 persen. Penurunan ini terjadi setelah lembaga riset Ningi Research menyatakan mengambil posisi jual terhadap saham emiten tersebut.
Sementara itu, raksasa farmasi Swiss Roche menyusut 2,6 persen setelah obat kanker payudara oral yang dikembangkannya gagal dalam uji klinis. (Reuters/CNBC/AI)

Sumber : Admin

berita terbaru
Wednesday, Mar 11, 2026 - 15:10 WIB
Perubahan Kepemilikan Saham MDKA, Jual
Wednesday, Mar 11, 2026 - 15:08 WIB
Perubahan Kepemilikan Saham TAPG, Beli
Wednesday, Mar 11, 2026 - 15:06 WIB
PGAS Targetkan Penyaluran Gas 877 BBTUD di 2026
Wednesday, Mar 11, 2026 - 15:02 WIB
China Stocks Rise for Second Session
Wednesday, Mar 11, 2026 - 14:53 WIB
Kepemilikan Saham 28 Februari 2026 TALF
Wednesday, Mar 11, 2026 - 14:48 WIB
Kepemilikan Saham 28 Februari 2026 ARKO
Wednesday, Mar 11, 2026 - 14:45 WIB
Perubahan Kepemilikan Saham CYBR, Beli
Wednesday, Mar 11, 2026 - 14:43 WIB
Kepemilikan Saham 28 Februari 2026 SDRA
Wednesday, Mar 11, 2026 - 14:36 WIB
Kepemilikan Saham 28 Februari 2026 SILO