Dolar AS Kehilangan Tenaga, Sinyal ‘Dovish’ Muncul dari Pergantian The Fed
Saturday, April 25, 2026       08:03 WIB
  • Dolar melemah karena sentimen dovish setelah penyelidikan Powell dihentikan dan meningkatnya harapan pembicaraan damai AS-Iran.
  • Ekspektasi penurunan suku bunga The Fed naik, sementara pasar juga menantikan keputusan bank sentral global pekan depan.
  • Pergerakan dolar masih terbatas karena ketidakpastian konflik dan pasar menunggu kepastian arah kebijakan serta hasil negosiasi geopolitik.

Ipotnews - Dolar AS melemah pada Jumat (24/4), tertekan oleh keputusan Departemen Kehakiman untuk menutup penyelidikan terhadap Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, serta meningkatnya optimisme bahwa pembicaraan untuk mengakhiri perang AS-Israel dengan Iran dapat segera dimulai.
Jaksa AS Jeanine Pirro mengatakan bahwa pihaknya meminta pengawas internal The Fed, yakni Office of Inspector General, untuk memeriksa pembengkakan biaya renovasi kantor pusat bank sentral di Washington.
Penutupan penyelidikan Departemen Kehakiman ini menghilangkan hambatan besar bagi konfirmasi Kevin Warsh, pilihan Presiden AS Donald Trump untuk memimpin bank sentral.
"Pasar membaca ini sebagai sesuatu yang sedikit dovish," kata Noah Buffam, direktur strategi FICC di CIBC Capital Markets di Toronto.
Warsh lebih memilih ukuran inflasi trimmed mean dan median, yang berada di bawah inflasi inti yang selama ini menjadi fokus Powell, kata Buffam. Hal tersebut "dapat mendorongnya untuk melakukan lebih banyak pemangkasan suku bunga dibandingkan Powell."
Trader kontrak berjangka suku bunga The Fed kini memperkirakan peluang 38% penurunan suku bunga hingga akhir tahun, naik dari 23% sebelumnya pada Jumat.
Indeks dolar, yang mengukur kinerja greenback terhadap sekeranjang mata uang termasuk euro, turun 0,28% menjadi 98,55, dengan euro naik 0,27% ke $1,1714. Namun, indeks dolar masih menuju kenaikan mingguan 0,32%, sementara euro berada di jalur penurunan mingguan 0,41%.
Yen Jepang menguat 0,19% terhadap dolar menjadi 159,4 per dolar. Poundsterling naik 0,42% ke $1,3523. Di pasar kripto, Bitcoin turun 0,47% menjadi $77.558.
Dolar juga melemah setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, dijadwalkan berada di Islamabad untuk membahas proposal memulai kembali pembicaraan damai dengan Amerika Serikat, meskipun sumber Pakistan mengatakan ia tidak dijadwalkan bertemu negosiator AS di sana.
Presiden AS Donald Trump berencana mengirim utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner ke Islamabad untuk bertemu Araqchi, meskipun waktu pertemuan tersebut belum jelas.
Mata uang AS bergerak dalam arah yang saling bertentangan selama konflik--terkadang menguat karena optimisme kesepakatan damai jangka pendek, namun juga tertekan oleh kekhawatiran bahwa perang berkepanjangan akan memicu gangguan energi yang berkepanjangan.
Dengan hasil yang masih belum pasti, banyak trader enggan mengambil posisi besar, sehingga pasar cenderung bergerak dalam kisaran terbatas.
"Saat ini sulit mengambil posisi karena kita tidak tahu arah situasi ini," kata Lou Brien, ahli strategi di DRW Trading di Chicago.
"Kecuali ada kabar besar seperti deklarasi damai, pergerakan pasar berikutnya kemungkinan akan dipicu oleh faktor nyata, seperti kekurangan minyak mentah yang memengaruhi kinerja ekonomi di Eropa atau Asia," tambahnya.
Pekan Sibuk Bank Sentral
Para pelaku pasar juga menantikan pekan sibuk bagi bank sentral, termasuk Federal Reserve, Bank of Japan, Bank Sentral Eropa, dan Bank of England yang dijadwalkan mengumumkan kebijakan.
"Ke depan, kami melihat fokus pasar akan beralih dari perang Iran ke tema baru yaitu divergensi kebijakan bank sentral, di mana The Fed kemungkinan akan melonggarkan kebijakan, sementara bank sentral lain justru akan menaikkan suku bunga," kata Buffam dari CIBC .
The Fed diperkirakan akan menahan suku bunga pada pekan depan, di tengah risiko lonjakan inflasi akibat perang Iran dan data ekonomi AS yang masih cukup kuat.
Bank Sentral Eropa diperkirakan akan mempertahankan suku bunga deposit pada 30 April, namun lebih dari separuh ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan kenaikan pada Juni, seiring upaya melindungi ekonomi zona euro dari guncangan energi akibat perang.
Bank of England dijadwalkan bertemu pada Kamis, dengan pasar memperkirakan kenaikan suku bunga hingga akhir tahun, meskipun tidak ada perubahan yang diharapkan pada pertemuan pekan depan.
Di Jepang, inflasi inti konsumen turun di bawah target 2% milik Bank of Japan untuk bulan kedua berturut-turut pada Maret. Analis memperkirakan tekanan harga akan kembali meningkat dalam beberapa bulan ke depan seiring perusahaan mulai meneruskan kenaikan biaya bahan bakar akibat konflik Timur Tengah.
Bank of Japan dijadwalkan menyelesaikan rapat kebijakan dua harinya pada Selasa dan secara luas diperkirakan akan mempertahankan suku bunga, mengingat prospek ekonomi dan inflasi Jepang masih sangat tidak pasti. Meski demikian, bank sentral diperkirakan tetap memberi sinyal kesiapan untuk mengetatkan kebijakan guna mengendalikan tekanan inflasi.
Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama, kembali mengeluarkan peringatan verbal terkait intervensi pasar, dengan mengatakan otoritas siap mengambil langkah "tegas" terhadap pergerakan spekulatif di pasar valuta asing.
(reuters)

Sumber : admin