Dolar AS Melemah Saat Prospek Pemangkasan Suku Bunga The Fed Meningkat
Saturday, August 30, 2025       07:17 WIB
  • Nilai tukar dolar melemah terhadap euro dan franc Swiss, dengan penurunan sekitar 2% sepanjang Agustus. Data PCE AS naik sesuai ekspektasi, memperkuat keyakinan pasar bahwa The Fed akan memangkas suku bunga pada pertemuan 16-17 September. Peluang pemangkasan kini 87%, naik dari 63% sebulan lalu.
  • Tekanan Presiden Donald Trump terhadap The Fed, termasuk upaya memberhentikan Gubernur Lisa Cook, menambah ketidakpastian. Sementara Gubernur Fed Christopher Waller mendukung pemangkasan suku bunga mulai bulan depan dan membuka jalan pemangkasan lanjutan.
  • Euro dan poundsterling menguat lebih dari 2% sepanjang Agustus, yen masih melemah terhadap dolar secara harian namun menguat bulanan, sedangkan franc Swiss menekan dolar 1,3% sepanjang bulan. Di Asia, yuan China menguat ke level terkuat 10 bulan, sementara rupee India jatuh ke rekor terendah akibat dampak tarif tinggi AS.

Ipotnews - Nilai tukar dolar AS melemah terhadap euro dan franc Swiss pada perdagangan Jumat (29/8) akhir pekan ini, berada di jalur penurunan sekitar 2% sepanjang Agustus. Pelemahan ini terjadi seiring pelaku pasar bersiap menghadapi kemungkinan pemangkasan suku bunga oleh bank sentral AS, Federal Reserve, bulan depan.
Dolar yang sempat menguat setelah data inflasi AS sesuai ekspektasi akhirnya kehilangan momentum dan gagal menghentikan tren penurunan tiga hari beruntun. Departemen Perdagangan AS melaporkan Indeks Harga Konsumsi Pribadi (PCE) naik 0,2% pada Juli, setelah kenaikan 0,3% pada Juni.
Data tersebut memperkuat ekspektasi pasar bahwa The Fed akan menurunkan suku bunga pada pertemuan 16-17 September mendatang. Berdasarkan alat pemantau CME FedWatch, peluang pemangkasan suku bunga kini mencapai 87%, naik dari 63% sebulan sebelumnya.
"Pasar valuta asing masih bergerak dalam kisaran sempit menjelang rilis laporan tenaga kerja AS pada 5 September," ujar Dan Tobon, Kepala Strategi FX G10 di Citi.
Menurut Uto Shinohara, Senior Investment Strategist di Mesirow Currency Management, sentimen konsumen yang lemah masih membayangi pasar, terutama ketika investor melakukan rebalancing portofolio di akhir bulan setelah reli saham AS sepanjang Agustus.
Ketidakpastian politik juga ikut menekan dolar. Presiden Donald Trump kembali meningkatkan tekanannya terhadap The Fed, termasuk upaya memberhentikan Gubernur Lisa Cook pekan ini. Seorang hakim federal pada Jumat mengatakan akan mempercepat proses sidang untuk menentukan apakah Cook dapat diblokir sementara dari pemecatan sembari menunggu gugatan hukumnya diputuskan.
"Ketidakstabilan pasar tetap menjadi sorotan, terutama dengan sorotan media terkait sidang Gubernur Cook mengenai pemecatan yang disengketakan," kata Shinohara.
Trump disebut berupaya merombak The Fed setelah berulang kali mengkritik bank sentral dan Ketua Jerome Powell karena dianggap lambat memangkas suku bunga. Gubernur Fed Christopher Waller, yang digadang-gadang bisa menggantikan Powell, menyatakan pada Kamis bahwa ia ingin mulai menurunkan suku bunga bulan depan dan memperkirakan pemangkasan lanjutan untuk membawa suku bunga mendekati level netral.
"Menariknya, reaksi pasar valas terhadap pernyataan kebijakan The Fed belakangan ini relatif terbatas. Bisa jadi ini akibat pasar musim panas yang cenderung tipis likuiditas, atau karena investor sudah memperkirakan siklus pemangkasan suku bunga akan terjadi," tambah Tobon dari Citi.
Sementara itu, survei Bank Sentral Eropa (ECB) menunjukkan ekspektasi inflasi konsumen zona euro tetap stabil di sekitar target 2% pada Juli. Data terpisah mengungkapkan harga konsumen Prancis naik lebih rendah dari perkiraan pada Agustus, sedangkan inflasi tahunan Spanyol stabil di level 2,7%.
Euro menguat 0,11% menjadi 1,1696 dolar AS, sementara poundsterling relatif stagnan di 1,3502 dolar AS. Keduanya naik lebih dari 2% sepanjang bulan ini. Terhadap yen, dolar sedikit menguat 0,02% ke posisi 146,98 yen, namun masih 2,5% lebih rendah secara bulanan. Terhadap franc Swiss, dolar turun 0,26% ke 0,7997 dan tercatat 1,3% lebih rendah sepanjang bulan.
Dari mata uang lain, dolar Selandia Baru menguat tipis setelah Ketua Bank Sentral Selandia Baru Neil Quigley mengundurkan diri menyusul polemik terkait mundurnya gubernur bank sentral awal tahun ini.
Di Asia, yuan China mencapai level terkuat dalam 10 bulan terhadap dolar, didukung penetapan kurs tengah yang stabil dan reli bursa saham domestik. Sebaliknya, rupee India jatuh ke rekor terendah akibat kekhawatiran dampak tarif tinggi AS terhadap impor dari India.
(reuters/mk/AI)

Sumber : admin

berita terbaru
Saturday, Aug 30, 2025 - 16:43 WIB
Katanya Harga Emas Bisa Segini
Saturday, Aug 30, 2025 - 15:44 WIB
Financial Statements 2Q 2025 of OBMD
Saturday, Aug 30, 2025 - 15:39 WIB
Financial Statements 2Q 2025 of MINE
Saturday, Aug 30, 2025 - 15:36 WIB
Financial Statements 2Q 2025 of ADMR
Saturday, Aug 30, 2025 - 14:22 WIB
Harga Minyak Dunia Naik Tipis Sepanjang Pekan Ini