- Dolar AS bergerak stabil seiring ketidakpastian negosiasi damai AS-Iran
- Yen Jepang tertahan di bawah level kritis 160 jelang keputusan Bank of Japan
- Harga minyak melonjak di atas US$100 per barel, meningkatkan risiko inflasi global
Ipotnews - Pergerakan dolar AS cenderung stabil pada awal pekan, seiring pelaku pasar mencermati perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang masih tersendat.
Ketidakpastian terkait upaya mengakhiri konflik Timur Tengah membuat investor tetap berhati-hati. Situasi ini juga menahan penguatan yen Jepang, yang berada di kisaran 159,5 per dolar AS, mendekati level psikologis 160 yang sebelumnya memicu intervensi otoritas Jepang.
Presiden AS Donald Trump menyatakan Iran dapat membuka kembali jalur negosiasi jika ingin mengakhiri konflik yang telah berlangsung dua bulan. Namun, belum adanya kesepakatan konkret membuat Selat Hormuz tetap tertutup secara efektif, menambah kekhawatiran pasar.
Sentimen sempat membaik setelah laporan menyebut Iran mengajukan proposal baru melalui mediator Pakistan untuk membuka kembali jalur tersebut dan menghentikan perang, meski pembahasan nuklir ditunda.
Di pasar mata uang, euro bergerak stabil di US$1,1724, sementara poundsterling diperdagangkan di US$1,3536. Indeks dolar AS (DXY) berada di level 98,49, mencerminkan pergerakan yang relatif datar terhadap enam mata uang utama dunia.
Menurut analis Kyle Rodda dari Capital.com, pasar saat ini terlalu optimistis terhadap peluang tercapainya perdamaian.
"Jika perdamaian tidak terwujud, pasar berpotensi melakukan penyesuaian harga secara tajam," ujarnya.
Konflik yang dimulai sejak akhir Februari tersebut telah mendorong lonjakan harga energi, meningkatkan tekanan inflasi, dan memperburuk prospek pertumbuhan ekonomi global. Selat Hormuz sendiri biasanya dilalui sekitar 20% pengiriman minyak dan gas dunia, sehingga penutupannya menjadi risiko besar bagi ekonomi global.
Harga minyak Brent tercatat naik 1% ke US$106,7 per barel, sementara minyak acuan AS West Texas Intermediate menguat 1,2% ke US$95,53 per barel.
Di sisi kebijakan moneter, perhatian pasar tertuju pada serangkaian pertemuan bank sentral global pekan ini. Bank of Japan diperkirakan menahan suku bunga, namun tetap memberi sinyal kenaikan dalam waktu dekat, kemungkinan mulai Juni.
Sementara itu, Federal Reserve, European Central Bank, dan Bank of England juga diperkirakan mempertahankan suku bunga, dengan fokus pada dampak konflik terhadap inflasi dan arah kebijakan ke depan.
Dengan ketidakpastian geopolitik yang masih tinggi, pelaku pasar akan terus mencermati perkembangan negosiasi serta dampaknya terhadap energi dan stabilitas ekonomi global.(Reuters)
Sumber : Admin