Emas Naik 0,7% Menjadi US$4.067 per Ons Setelah Trump Tunda Serangan Iran
Monday, August 03, 2026       15:46 WIB

AI News - Harga emas spot naik 0,7% menjadi US$4.067,06 per troy ons pada awal perdagangan Senin 3 Agustus 2026, dipicu oleh penurunan harga minyak setelah Presiden AS Donald Trump menunda serangan baru terhadap Iran.

Poin Penting

  • Emas spot naik 0,7% menjadi US$4.067,06 per ons.
  • Emas berjangka AS naik 0,9% menjadi US$4.065,60 per ons.
  • Harga minyak mentah turun lebih dari US$5 per barel pada pembukaan Senin.
  • Presiden Trump menunda serangan Iran, menyatakan adanya permintaan waktu untuk kesepakatan pembukaan Selat Hormuz.
  • Logam mulia lain juga menguat: perak US$58,02, platinum US$1.653,78, palladium US$1.293 per ons.

Mengapa Penurunan Harga Minyak Membantu Harga Emas Menguat?


Penurunan harga minyak mengurangi tekanan inflasi yang diproyeksikan oleh pasar, sehingga emas memperoleh daya tarik sebagai lindung nilai. Menurut BeritaSatu, minyak mentah turun lebih dari US$5 per barel pada awal perdagangan Senin, mencerminkan berkurangnya ketegangan geopolitik setelah Trump menunda serangan Iran. Dengan energi yang lebih murah, ekspektasi kenaikan biaya hidup dan permintaan suku bunga tinggi berkurang, memberi ruang bagi logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil bunga. Data tersebut menunjukkan pergeseran sentimen dari kekhawatiran inflasi ke optimisme sementara, yang pada gilirannya mendorong harga emas spot naik 0,7% menjadi US$4.067,06 per ons. Bagi investor, pergerakan ini menandakan bahwa emas dapat kembali berperan sebagai aset aman ketika faktor eksternal seperti harga energi melunak.

Apa Dampak Penundaan Serangan Iran Terhadap Ekspektasi Inflasi dan Kebijakan Suku Bunga?


Penundaan serangan Iran menurunkan ketidakpastian geopolitik, sehingga perkiraan inflasi jangka pendek menjadi lebih moderat. IQPlus mencatat bahwa Trump melalui platform Truth Social menyatakan Iran dan negara Timur Tengah lain meminta waktu untuk menyelesaikan kesepakatan pembukaan Selat Hormuz, yang meredakan kekhawatiran pasar tentang gangguan pasokan energi. Dengan tekanan inflasi berkurang, tiga pejabat Federal Reserve yang berbeda, sebagaimana dilaporkan oleh BeritaSatu, menekankan bahwa tanpa kenaikan suku bunga segera, inflasi tetap berada di atas target 2%, namun penurunan risiko geopolitik memberi ruang bagi bank sentral untuk menahan atau menunda kenaikan lebih lanjut. Hal ini berimplikasi pada ekspektasi pasar bahwa kebijakan moneter mungkin tidak akan menguat secara drastis dalam minggu-minggu mendatang, sehingga emas, yang sensitif terhadap kebijakan suku bunga, menemukan dukungan tambahan. Investor kini menilai bahwa dinamika politik dapat menjadi penentu utama arah kebijakan moneter AS dalam jangka pendek.

Bagaimana Logam Mulia Lainnya Bereaksi Seiring Kenaikan Emas pada Senin 3 Agustus 2026?


Selain emas, logam mulia lain juga mencatat kenaikan pada sesi Senin, menandakan sentimen positif yang meluas di pasar komoditas. IQPlus melaporkan bahwa perak spot naik 0,7% menjadi US$58,02 per ons, platinum naik 0,7% menjadi US$1.653,78 per ons, dan palladium menguat 1,5% menjadi US$1.293 per ons. Kenaikan serentak ini mencerminkan aliran dana ke aset-aset yang dianggap aman ketika ketegangan geopolitik berkurang, sekaligus menurunkan ekspektasi inflasi yang biasanya menekan permintaan logam tanpa imbal hasil. Data tersebut menunjukkan bahwa pergerakan emas tidak terjadi secara terisolasi, melainkan bagian dari pola penguatan logam mulia secara keseluruhan yang dipicu oleh dinamika minyak dan kebijakan luar negeri. Bagi pelaku pasar, korelasi positif ini menegaskan bahwa diversifikasi ke logam mulia lain dapat memberikan perlindungan tambahan dalam kondisi volatilitas geopolitik yang berubah-ubah.

 Disclaimer: This article was produced automatically by Artificial Intelligence (AI) through the compilation and synthesis of information from multiple news sources. It is not independent reporting and does not constitute investment advice. 


Sumber : AI News