- Saham Indonesia turun tajam 2,3% pada Jumat, tertekan eskalasi protes politik di Jakarta.
- Pasar saham Asia bergerak campuran karena investor menunggu data inflasi AS sebagai petunjuk arah kebijakan The Fed.
- Rupiah melemah hingga 0,95% ke level terendah empat pekan sebelum pulih sebagian setelah intervensi Bank Indonesia.
Ipotnews - IHSG jatuh tajam pada Jumat siang (29/8) seiring meningkatnya ketegangan politik di Jakarta, sementara pasar saham Asia bergerak campuran karena investor menunggu data inflasi Amerika Serikat untuk melihat arah kebijakan Federal Reserve. Namun, analis asing menyatakan demontrasi dan gejolak politik yang terjaditak akan menggoyahkan prospek jangka panjang obligasi dan saham Indonesia.
IHSG merosot 2,3%, menjadi penurunan intraday terbesar sejak 23 Juni. Secara mingguan, indeks acuan telah kehilangan lebih dari 1%.
Ketegangan di ibu kota meningkat setelah driver ojol tewas ditabrak dan dilindas kendaraan taktis Brimob dalam bentrokan pasca demonstrasi di depan gedung parlemen yang memprotes sejumlah isu, termasuk gaji anggota dewan dan pendanaan pendidikan.
Daniel Tan, manajer portofolio di Grasshopper Asset Management Singapura, menilai gejolak politik tidak akan menggoyahkan prospek jangka panjang investasi pada obligasi dan saham Indonesia.
Di pasar regional, investor cenderung berhati-hati menjelang rilis data inflasi AS. Saham Thailand melemah 0,6% ke posisi terendah satu pekan jelang putusan Mahkamah Konstitusi terkait nasib Perdana Menteri Paetongtarn Shinawatra yang berpotensi diberhentikan setelah setahun menjabat. Baht Thailand juga melemah 0,3%.
Saham Malaysia dan Filipina turun lebih dari 0,5%, sementara Singapura dan Taiwan justru menguat masing-masing 0,4%.
Di pasar valuta asing, rupiah memimpin pelemahan regional, jatuh hingga 0,95% ke level terendah empat pekan di Rp16.495 per dolar AS, sebelum memangkas kerugian menjadi turun 0,6% pada pukul 04.27 GMT, diduga akibat intervensi Bank Indonesia.
Pejabat BI menegaskan kembali komitmen menjaga stabilitas pasar. Kepala Departemen Moneter BI, Erwin Gunawan Hutapea, menyampaikan kepada Reuters bahwa bank sentral akan tetap aktif di pasar non-deliverable forward offshore dan onshore, serta pasar spot.
Analis Barclays mencatat, meskipun beberapa mata uang negara berkembang menguat di atas ekspektasi model, sebagian besar mata uang Asia justru berkinerja di bawah perkiraan. Mereka juga menyoroti kemungkinan intervensi bank sentral di China, India, dan Taiwan untuk membatasi penguatan mata uangnya.
Indeks dolar AS naik 0,3% pada Jumat, namun secara mingguan melemah 2% karena meningkatnya peluang The Fed memangkas suku bunga bulan depan.
Sementara itu, bank sentral Filipina memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada Kamis, sesuai perkiraan, sambil memberi sinyal bahwa siklus pelonggaran kemungkinan sudah berakhir.
Indeks mata uang pasar negara berkembang MSCI naik 0,2% sepanjang pekan ini, sementara saham emerging Asia di luar Jepang diperdagangkan datar.(Reuters)
Sumber : admin