Inflasi Amerika Memanas, Nasdaq Merosot 1,88% dan Saham AI Berguguran
Thursday, October 15, 2026       04:27 WIB
  • S&P 500 turun 1,11% dan Nasdaq anjlok 1,88% akibat inflasi AS.
  • Oracle turun 8,8%, CoreWeave 15%, sementara Apple naik 0,5%.
  • Peluang kenaikan bunga the Fed naik menjadi 37%, menekan saham teknologi dan AI.

Ipotnews - Bursa ekuitas melemah tajam pada akhir perdagangan Rabu setelah data inflasi Amerika Serikat yang lebih tinggi dari perkiraan memperkuat kekhawatiran bahwa Federal Reserve akan kembali menaikkan suku bunga. Saham teknologi, khususnya perusahaan yang terkait dengan kecerdasan buatan (AI), menjadi sasaran aksi jual karena sensitif terhadap kenaikan biaya pinjaman.
Indeks berbasis luas S&P 500 ditutup merosot 1,11% atau 86,51 poin menjadi 7.718,94, mencatatkan penurunan harian terbesar sejak 29 Juli, demikian laporan  Reuters  dan   CNBC ,  di New York, Rabu (14/10) atau Kamis (15/10) pagi WIB.
Sementara itu, Nasdaq Composite Index anjlok 1,88% atau 511,51 poin menjadi 26.692,87, penurunan terbesar sejak 23 Juli, sedangkan Dow Jones Industrial Average melemah tipis 0,09% atau 48,62 poin jadi 51.621,48.
Sebanyak delapan dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona merah. Sektor teknologi informasi memimpin pelemahan dengan penurunan 2,6%, disusul sektor jasa komunikasi yang melorot 1,78%.
Meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga the Fed memberikan tekanan besar terhadap sejumlah saham yang sebelumnya mencatatkan kenaikan signifikan sepanjang 2026. Saham Oracle anjlok 8,8%, sedangkan perusahaan infrastruktur AI, CoreWeave dan Nebius, masing-masing ambles 15% dan 10%.
Saham Dell dan Hewlett Packard Enterprise juga terpuruk, masing-masing berkurang 11,4% dan 8,2%. Pelemahan terjadi setelah Barclays menurunkan rekomendasi kedua produsen server AI tersebut dari "overweight" menjadi "equal-weight".
Tekanan juga melanda industri semikonduktor. Indeks Philadelphia SE Semiconductor terkoreksi 4,3% dan memperpanjang penurunan selama enam sesi berturut-turut, menjadi rentetan pelemahan terpanjang sejak Mei 2025.
Di tengah tren negatif tersebut, saham Apple justru naik 0,5%. Kapitalisasi pasar perusahaan tersebut ditutup di atas USD5 triliun untuk pertama kalinya.
Peluang Kenaikan Bunga Meningkat
Data Biro Statistik Tenaga Kerja Amerika menunjukkan harga konsumen meningkat lebih cepat pada September. Lonjakan harga bensin dan meluasnya tekanan harga di luar sektor energi menjadi faktor yang mendorong inflasi.
Perkembangan ini membuat pelaku pasar meningkatkan spekulasi terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Berdasarkan FedWatch Tool CME Group, peluang the Fed menaikkan suku bunga bulan ini meningkat menjadi 37%, dari 22%, Selasa.
"Investor tidak menyukai laporan ini karena memberikan tekanan kepada the Fed untuk menaikkan suku bunga guna mengatasi inflasi," kata Adam Sarhan, CEO 50 Park Investments di New York. "Inflasi tetap menjadi musuh publik nomor satu bagi pasar dan the Fed," ujarnya.
Sebelum data inflasi dirilis, Wakil Ketua Fed untuk Pengawasan Michelle Bowman mengatakan bank sentral masih memiliki waktu untuk memantau perkembangan pasar keuangan dan perekonomian setelah kenaikan suku bunga pada September sebelum menentukan langkah selanjutnya.
Meski terkoreksi tajam, S&P 500 masih melonjak hampir 13% sepanjang 2026 setelah mencapai rekor tertinggi pekan lalu. Namun, kenaikan tersebut sebagian besar ditopang saham terkait AI. Saham median dalam indeks tersebut hanya naik sekitar 4% sepanjang tahun ini, sementara lebih dari 200 konstituennya justru mencatatkan penurunan.
Tekanan juga meluas ke sektor perbankan. Saham Bank of America terkoreksi 4,8% setelah laba perusahaan merosot pada kuartal III. Bank tersebut menyisihkan USD1,2 miliar untuk menutup potensi denda regulator terkait kegagalan mendeteksi dugaan pencucian uang.
Saham Morgan Stanley juga kehilangan hampir 3% meski laba kuartalannya meningkat. Indeks S&P 500 Banks melemah 0,7% dan ditutup pada level terendah sejak Juni.
Di tengah gejolak pasar, saham Bending Spoons meroket 41% setelah Berkshire Hathaway kembali menginvestasikan USD330 juta pada perusahaan pemilik Vimeo dan AOL tersebut. Investasi itu menjadi dukungan signifikan dari perusahaan investasi yang langkahnya banyak dicermati pelaku pasar.
Aktivitas perdagangan di bursa Wall Street relatif ramai, dengan volume mencapai 18 miliar saham, dibandingkan rata-rata 17,6 miliar saham dalam 20 sesi sebelumnya.
Di indeks S&P 500, jumlah saham yang turun melampaui yang naik dengan rasio 1,1 banding 1. Indeks tersebut mencatatkan 15 saham pada level tertinggi baru dan 11 saham pada level terendah baru. Sementara itu, Nasdaq membukukan 27 saham pada level tertinggi baru dan 521 saham pada level terendah baru. (Reuters/Investing/CNBC/AI)
Saham berkinerja terbaik Dow
-Unitedhealth Group (4,73%)
-Merck & Company Inc (3,80%)
-Walmart Inc (3,46%)
Saham berkinerja terburuk
-Nvidia Corporation (-3,09%)
-Caterpillar Inc (-3,08%)
-Microsoft Corporation (-1,80%)
Saham berkinerja terbaik S&P 500
-Unitedhealth Group (4,73%)
-Dollar Tree Inc (4,71%)
-Moderna Inc (4,65%)
Saham berkinerja terburuk
-Skydance Corporation (-22,22%)
-Dell Technologies Inc (-11,27%)
-Oracle Corporation (-8,83%)
Saham berkinerja terbaik Nasdaq
-Greenland Energy Co (76,47%)
-Treasure Global Inc (61,87%)
-NewGenIvf Group Ltd (50,20%)
Saham berkinerja terburuk
-WF Holding Ltd (-91,32%)
-CL Workshop Group Ltd DRC (-78,15%)
-Republic Power Group Ltd (-64,80%)

Sumber : Admin