Investor Asing Net Sell Rp 95 Triliun YTD, IHSG Diproyeksikan Uji 6.292-6.454
Friday, August 07, 2026       03:49 WIB

AI News - Investor asing mencatat penjualan bersih sebesar Rp 95,01 triliun tahun ini, menekan IHSG yang kini berada di level 6.352,702 pada perdagangan Kamis 6/8/2026. Analyst Mirae Asset menilai indeks berpotensi menguji level support 6.292 dan resistance 6.454 dalam beberapa sesi ke depan.

Poin Penting

  • Net sell asing YTD mencapai Rp 95,01 triliun dan Rp 72,53 triliun, menandakan tekanan penjualan besar.
  • IHSG pada penutupan Siang Kamis 6/8/2026 berada di 6.352,702, naik 0,02%.
  • Saham mencatat net sell terbesar hari itu sebesar Rp 215 miliar, diikuti dengan Rp 110 miliar.
  • Valuasi pasar saham Indonesia masih menarik dengan rasio P/E sekitar 9,4 kali (Kompas 9,49; Bisnis Indonesia 9,32).
  • Volume perdagangan Kamis mencapai 32,910 miliar saham senilai Rp 9,892 triliun.

Mengapa Investor Asing Melakukan Net Sell Besar-Besaran Tahun Ini?


Investor asing menjual secara signifikan karena penyesuaian alokasi portofolio setelah rebalancing indeks utama serta penurunan premi risiko geopolitik. Menurut Bisnis Indonesia, rebalancing IDX80 dan IDX30 memaksa manajer investasi mengurangi eksposur, sementara meredanya ketegangan di Timur Tengah menurunkan daya tarik aset berisiko, sehingga aliran keluar menjadi lebih besar. Kompas melaporkan bahwa net sell asing YTD telah mencapai Rp 95,01 triliun, sedangkan Bisnis Indonesia mencatat akumulasi Rp 72,53 triliun hingga 6/8/2026. Hari Kamis, net sell bersih tercatat Rp 273,47 miliar, menegaskan tekanan penjualan yang konsisten. Kondisi ini menunjukkan perpindahan alokasi dana ke pasar atau kelas aset lain yang dianggap lebih menguntungkan.

Apa Dampak Tekanan Net Sell Asing Terhadap Pergerakan IHSG ?


Tekanan penjualan asing menurunkan IHSG sekitar 26,5% sejak awal tahun, namun indeks kini mendekati level support penting. Pada perdagangan Kamis 6/8/2026, IHSG berada di 6.352,702, naik tipis 0,02% setelah sempat menembus puncak 6.388,204, menurut Kompas. Analyst Mirae Asset menambahkan bahwa support terdekat berada di 6.292 dan 6.242, sementara resistance berada di 6.406 dan 6.454, didukung pola golden cross pada MA20 dan MA60 serta sinyal positif Stochastics K-D. Valuasi pasar tetap menarik dengan rasio P/E sekitar 9,4 kali, lebih rendah dibandingkan pasar regional (Kompas 9,49; Bisnis Indonesia 9,32). Hal ini berarti meski ada tekanan jual, peluang rebound muncul bagi investor yang bersedia menahan volatilitas.

Bagaimana Aksi Jual Asing Mempengaruhi Saham Tertentu Seperti dan ?


dan menjadi contoh utama saham yang paling terdampak oleh aksi jual asing pada sesi Kamis. Bisnis Indonesia melaporkan mencatat net sell bersih Rp 215 miliar, sedangkan berada di Rp 110 miliar, diikuti Rp 93 miliar, Rp 89 miliar, dan Rp 80 miliar. Sebaliknya, saham menjadi penerima net buy terbesar dengan Rp 318 miliar, diikuti , , , dan , yang mencerminkan pergeseran investor ke saham yang dianggap undervalued atau memiliki fundamental lebih kuat. Rotasi ini menandakan perubahan preferensi sektor, dari keuangan dan energi ke perusahaan dengan prospek pertumbuhan yang lebih baik. Dampaknya, konstituen IHSG yang dipengaruhi oleh dan dapat menahan kenaikan indeks secara keseluruhan.

Apa Risiko Utama yang Harus Dipertimbangkan Investor Ritel Sebelum Mengakumulasi Saham Kini?


Investor ritel perlu memperhatikan volatilitas yang dipicu oleh data ekonomi global serta faktor domestik. Kompas menekankan bahwa data US nonfarm payrolls minggu ini akan menjadi acuan utama untuk menilai kondisi pasar tenaga kerja AS dan arah kebijakan suku bunga The Fed, yang dapat mengubah aliran modal ke pasar emerging termasuk Indonesia. Selain itu, meskipun IHSG berada di atas support 6.292, belum menembus resistance 6.454, sehingga masih berpotensi mengalami koreksi lebih lanjut bila sentimen kembali melemah. Volume perdagangan tinggi (32,910 miliar saham) menunjukkan likuiditas, namun juga menandakan kemungkinan aksi jual cepat bila faktor eksternal berubah. Oleh karena itu, ritel sebaiknya menilai fundamental emiten secara cermat dan menyiapkan strategi manajemen risiko sebelum menambah posisi.

 Disclaimer: This article was produced automatically by Artificial Intelligence (AI) through the compilation and synthesis of information from multiple news sources. It is not independent reporting and does not constitute investment advice. 


Sumber : AI News