Permintaan Emas di Indonesia Melonjak 40% Jadi 15 Ton Q2 2026
Monday, August 03, 2026       23:10 WIB

AI News - World Gold Council melaporkan bahwa permintaan emas batangan dan koin di Indonesia naik 40% year-on-year menjadi 15 ton pada kuartal kedua 2026, menjadikannya salah satu pasar investasi emas terkuat dunia meski harga global melandai.

Poin Penting

  • Permintaan emas batangan dan koin domestik naik 40% YoY menjadi 15 ton pada Q2 2026.
  • Bank sentral global menambah cadangan bersih 289 ton pada Q2 2026, naik 62% YoY.
  • Harga emas spot pada 31 Juli 2026 tercatat US$ 4.042,97 per ons, melemah 1,47% secara harian.
  • Permintaan perhiasan di Indonesia turun 10% YoY pada Q2 2026, melanjutkan penurunan 13 kuartal berturut.
  • Pemerintah meluncurkan Roadmap Ekosistem Bulion untuk memperluas basis investor emas.

Mengapa Permintaan Emas di Indonesia Bisa Tumbuh 40% saat Harga Global Melandai?


Shaokai Fan, Head of Asia-Pacific di World Gold Council, menjelaskan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah dan ketidakpastian prospek ekonomi domestik mendorong investor melihat emas sebagai aset lindung nilai, sehingga permintaan batangan dan koin melonjak 40% menjadi 15 ton pada kuartal kedua 2026. Kompas mencatat bahwa perilaku investor beralih dari respons jangka pendek ke strategi jangka panjang, dipicu kekhawatiran atas nilai rupiah yang terus terdepresiasi. Selain itu, peluncuran Roadmap Ekosistem Bulion yang didukung pemerintah memberikan kepastian hukum dan akses produk investasi yang lebih luas, menambah basis investor baru. Kontan menambahkan bahwa meskipun harga emas spot pada 31 Juli 2026 berada di US$ 4.042,97 per ons, penurunan 1,47% harian tidak mengurangi minat beli karena logam masih dianggap safe-haven. Dengan kombinasi faktor makroekonomi, kebijakan pemerintah, dan persepsi risiko, kenaikan permintaan menjadi logis meski pasar global stagnan.

Bagaimana Kenaikan Permintaan Domestik Memengaruhi Posisi Indonesia di Pasar Emas Global?


Menurut data World Gold Council yang dilaporkan oleh Kompas, total permintaan emas global pada kuartal kedua 2026 tetap stabil di 1.269 ton, sementara Indonesia menyumbang 15 ton, menjadikannya salah satu pasar dengan pertumbuhan investasi tertinggi di dunia. Kontan menegaskan bahwa sementara permintaan batangan dan koin global turun 3% YoY menjadi 307 ton, Indonesia justru naik, menyoroti pergeseran perilaku investor domestik yang lebih matang. Kenaikan ini menempatkan Indonesia di antara beberapa pasar unggulan, bersama negara-negara seperti China dan India, dalam hal pertumbuhan investasi logam mulia. Pertumbuhan 40% domestik meningkatkan pangsa Indonesia dalam total investasi global, meskipun persentasenya masih kecil, namun memberikan sinyal kuat bagi produsen dan lembaga keuangan untuk memperluas layanan di wilayah ini. Dengan dukungan pembelian cadangan oleh bank sentral dunia yang naik 62% menjadi 289 ton, stabilitas permintaan domestik menambah ketahanan pasar emas Indonesia di tengah fluktuasi global.

Bagaimana Proyeksi Permintaan Emas Indonesia Hingga Akhir Tahun 2026?


Menurut Kompas, World Gold Council memperkirakan bahwa aktivitas investasi di luar bursa resmi (OTC) serta minat investor Asia akan terus menjadi penggerak utama permintaan emas di Indonesia pada paruh kedua 2026. Kompas melaporkan bahwa WGC mengantisipasi tetapnya tren investasi kuat meski harga berada dalam fase konsolidasi, sehingga permintaan diproyeksikan tetap tumbuh di atas tingkat semester pertama yang sudah naik 2% YoY. Kontan menambahkan bahwa kebijakan pemerintah melalui Roadmap Ekosistem Bulion diperkirakan akan memperluas akses produk investasi, meningkatkan partisipasi investor ritel, dan menstabilkan pasokan bulion domestik. Selain itu, peningkatan pembelian emas oleh bank sentral dunia, meskipun dengan laju yang lebih moderat dibandingkan empat tahun terakhir, memberikan dukungan likuiditas yang penting bagi pasar. Jika faktor-faktor tersebut berlanjut, Indonesia dapat mempertahankan posisi sebagai salah satu pasar emas investasi paling dinamis menjelang akhir tahun 2026.

 Disclaimer: This article was produced automatically by Artificial Intelligence (AI) through the compilation and synthesis of information from multiple news sources. It is not independent reporting and does not constitute investment advice. 


Sumber : AI News