Praktisi Pasar Modal Lihat Tekanan IHSG akibat Rotasi Sektoral dan Net Sell Investor Asing
Tuesday, October 13, 2026       10:13 WIB
  • Penurunan harga minyak global memicu aksi profit taking sektor energi (>3,5%) dan material dasar, menekan IHSG karena besarnya bobot emiten komoditas di indeks domestik.
  • Terjadi capital outflow dari investor asing pada saham-saham big-cap utama (seperti dan ), yang menyeret IHSG turun secara merata.
  • Penguatan Dolar AS memicu pelemahan Rupiah dan aksi lindung nilai asing. Berbeda dengan bursa Asia lain yang menguat berkat emiten manufaktur/teknologi, IHSG tertekan akibat dominasi emiten komoditas dan perbankan.

Ipotnews -- Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) masih berada di bawah tekanan setelah mengalami koreksi yang cukup dalam pada perdagangan kemarin karena dipicu oleh rotasi sektoral, aksi jual bersih (net foreign sell) oleh investor asing, serta tekanan pada nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS. Hingga saat ini, Selasa (13/10), tepatnya pukul 10.02 WIB, indeks masih melemah 0,84 persen atau 50 ke level 5.886.
Praktisi Pasar Modal dan Direktur PT Anugerah Mega Investama, Hans Kwee menjelaskan bahwa penurunan harga minyak dunia dan komoditas energi menjadi pemicu utama aksi lepas saham (profit taking) secara masif pada sektor energi yang terkoreksi lebih dari 3,5%, serta sektor material dasar.
"Karena IHSG didominasi oleh saham berbasis energi dan komoditas seperti batubara dan minyak, penurunan harga minyak dunia justru direspon negatif oleh pasar modal domestik yang bergantung pada cuan emiten komoditas tersebut," ujar Hans Kwee dalam keterangannya.
Tekanan terhadap indeks semakin diperberat oleh aksi net foreign sell pada saham-saham berkapitalisasi besar (big-cap). Saham pilar perbankan seperti dan tambang/energi seperti mencatatkan nilai penjualan bersih yang signifikan oleh investor asing, sehingga menyeret IHSG turun secara merata pada perdangangan sebelumnya.
Selain itu, sentimen makro ekonomi global juga turut membayangi pergerakan rupiah dan aliran modal asing di pasar keuangan dalam negeri.
"Penguatan US Dollar memberi tekanan pada nilai tukar Rupiah, yang mendorong investor asing melakukan aksi lindung nilai (hedging) atau mengalihkan modal ke pasar keuangan global yang dinilai lebih aman (safe haven)," tambah Hans Kwee.
Kondisi ini memicu adanya divergence pada bursa saham regional Asia. Bursa seperti Nikkei dan Hang Seng justru menguat karena didominasi saham manufaktur, konsumen, dan teknologi yang diuntungkan oleh harga minyak murah. Sebaliknya, porsi emiten komoditas dan perbankan yang jauh lebih besar membuat IHSG tertekan, di tengah sikap wait-and-see pelaku pasar terhadap data inflasi AS dan Tiongkok pekan ini.(Marjudin/AI)

Sumber : Admin