S&P 500 dan Nasdaq Cetak Rekor Tertinggi, Investor Sambut Sinyal Gencatan Senjata
Friday, May 29, 2026       04:26 WIB
  • Wall Street ceria, S&P 500 dan Nasdaq cetak rekor tertinggi baru.
  • Sentimen pasar terdorong kabar rancangan gencatan senjata AS-Iran.
  • Saham teknologi dan AI memimpin penguatan pasar.

Ipotnews - Bursa ekuitas Wall Street semringah, Kamis, dengan S&P 500 dan Nasdaq mencetak rekor penutupan tertinggi sepanjang masa setelah muncul laporan mengenai tercapainya rancangan kesepakatan perpanjangan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran selama 60 hari. Pasar juga mencermati data inflasi Amerika yang menunjukkan tekanan harga masih tinggi.
Sementara Dow Jones Industrial Average turut berakhir di zona hijau setelah bergerak terbatas sepanjang sesi perdagangan.
Dow Jones ditutup naik 24,69 poin atau 0,05 persen menjadi 50.668,97, S&P 500 menguat 43,27 poin atau 0,58 persen ke posisi 7.563,63, sedangkan Nasdaq Composite Index melonjak 242,74 poin atau 0,91 persen jadi 26.917,47, demikian laporan  Reuters  dan  Investing,  di New York, Kamis (28/5) atau Jumat (29/5) pagi WIB.
Sumber  Reuters  menyebutkan rancangan kesepakatan perpanjangan gencatan senjata antara AS dan Iran masih memerlukan persetujuan Presiden Donald Trump. Sementara itu, kantor berita Iran  Tasnim  melaporkan teks nota kesepahaman potensial dengan AS masih belum difinalisasi maupun dikonfirmasi.
Managing Partner Harris Financial Group, Jamie Cox, mengatakan pelaku pasar bergerak sangat sensitif terhadap setiap perkembangan terkait negosiasi tersebut.
"Investor cenderung mempertahankan posisi beli untuk mengantisipasi hasil yang lebih baik dari perkiraan. Tantangan berikutnya adalah tekanan inflasi kemungkinan tidak akan mereda secepat yang diharapkan pasar," ujar Cox.
Data ekonomi menunjukkan inflasi Amerika sepanjang April meningkat pada laju tercepat dalam tiga tahun terakhir akibat lonjakan harga energi di tengah perang Iran. Di sisi lain, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Amerika kuartal pertama direvisi turun menjadi 1,6 persen secara tahunan, dengan momentum ekonomi diperkirakan melambat pada kuartal berjalan.
Sektor kesehatan menjadi salah satu penopang utama penguatan indeks berbasis luas S&P 500. Saham Eli Lilly melesat 4 persen setelah CVS Health mengumumkan akan kembali memasukkan suntikan penurun berat badan Zepbound dalam cakupan layanannya serta menambahkan pil obesitas terbaru perusahaan tersebut, Foundayo.
Saham teknologi juga bergerak positif. Microsoft melompat 3,5 persen setelah media  The Information  melaporkan perusahaan akan meluncurkan model coding berbasis kecerdasan buatan (AI) terbaru pekan depan.
Sementara itu, Marvell Technology melesat 3 persen setelah UBS menaikkan target harga saham perusahaan menjadi USD230 dari sebelumnya USD195. Sepanjang tahun ini, saham perusahaan tersebut melejit lebih dari dua kali lipat.
Penguatan paling mencolok terjadi pada saham Snowflake yang meroket 36 persen setelah perusahaan analitik data itu menaikkan proyeksi pendapatan produk tahunan dan mengumumkan kerja sama infrastruktur AI senilai USD6 miliar selama lima tahun dengan Amazon Web Services.
Kenaikan juga dialami saham perusahaan sejenis seperti Datadog dan MongoDB.
Deputi CIO Solutions and Multi-Assets Morgan Stanley Investment Management, Jitania Kandhari, mengatakan optimisme terhadap pertumbuhan AI dan laba perusahaan masih menjadi pendorong utama reli pasar meski ketegangan Timur Tengah memicu kekhawatiran inflasi.
"Pasar masih mampu mengabaikan berbagai risiko karena ekonomi global dan laba korporasi tetap relatif tangguh," tutur dia.
Kandhari menambahkan, ketidakstabilan geopolitik justru berpotensi mempercepat investasi di sektor-sektor terkait AI, keamanan siber, teknologi pertahanan, infrastruktur energi, dan ketahanan rantai pasok.
Meski S&P 500 diperdagangkan pada sekitar 21 hingga 22 kali lipat laba per saham dibandingkan rata-rata 10 tahun terakhir sebesar 19,7 kali lipat, investor tidak begitu khawatir karena ekspektasi laba meningkat lebih cepat daripada harga saham, ungkap Kandhari.
Di luar sektor teknologi, saham Dollar Tree melambung hampir 18 persen setelah perusahaan ritel diskon tersebut menaikkan proyeksi laba tahunan. Best Buy juga melesat 15,8 persen setelah memperkirakan penjualan kuartal kedua melampaui ekspektasi analis.
Saham perusahaan drone turut melompat setelah  Wall Street Journal  melaporkan pemerintahan Trump tengah membahas pendanaan bagi industri drone. Saham Unusual Machines melonjak hampir 11 persen.
Secara keseluruhan, jumlah saham yang naik mengungguli yang turun dengan rasio 1,74 banding 1 di Bursa Efek New York ( NYSE ). Tercatat 526 saham mencetak rekor tertinggi baru dan 99 saham menyentuh level terendah baru.
Di Nasdaq, sebanyak 3.114 saham menguat dan 1.728 saham melemah, dengan jumlah saham yang naik lebih banyak daripada yang turun dengan rasio 1,8 banding 1.
Indeks S&P 500 mencatatkan 18 rekor tertinggi baru dalam 52 minggu dan 10 rekor terendah baru, sementara Nasdaq Composite membukukan 127 rekor tertinggi baru dan 65 rekor terendah baru.
Volume perdagangan di bursa Wall Street mencapai 19,2 miliar saham, sedikit di atas rata-rata 20 hari perdagangan terakhir sebesar 19,03 miliar saham. (Reuters/Investing/AB)
Saham berkinerja terbaik di Dow
-International Business Machines (3,53%)
-Microsoft Corporation (3,48%)
-Nike Inc (3,02%)
Saham berkinerja terburuk
-Caterpillar Inc (-2,49%)
-Travelers Companies (-1,88%)
-Sherwin-Williams Co (-1,56%)
Saham berkinerja terbaik di S&P 500
-Dollar Tree Inc (17,87%)
-Agilent Technologies Inc (16,90%)
-Best Buy Co Inc (15,80%)
Saham berkinerja terburuk
-Synopsys Inc (-8,57%)
-Tyson Foods Inc (-6,09%)
-Norfolk Southern Corporation (-5,47%)
Saham berkinerja terbaik di Nasdaq
-3 E Network Technology Group Ltd (199,12%)
-Creative Global Technology Holdings Ltd (151,71%)
-Scisparc Ltd (144,21%)
Saham berkinerja terburuk
-Zhongchao Inc (-64,69%)
-SU Group Holdings Ltd (-44,09%)
-Photronics Inc (-36,44%)

Sumber : Admin