Saham BBCA Tertekan Aksi Jual Asing, Analis Nilai Masih Menarik untuk Dikoleksi
Tuesday, February 10, 2026       06:36 WIB
  • Saham turun 2,28% ke Rp7.500 akibat aksi jual asing dengan net sell Rp714,76 miliar.
  • Analis menilai tekanan masih berlanjut, namun area koreksi dinilai menarik untuk strategi buy on weakness.
  • Fundamental BCA tetap solid dengan pertumbuhan laba dan prospek pendapatan bunga yang positif.

Ipotnews - Saham PT Bank Central Asia Tbk () melemah pada penutupan perdagangan Senin, seiring derasnya aksi jual investor asing yang menekan pergerakan saham bank swasta terbesar di Indonesia tersebut.
Pada akhir sesi, saham anjlok 2,28% ke level Rp7.500, seperti dilansir  Investor,  Senin (9/2)   . Sepanjang perdagangan, sebanyak 174,76 juta saham diperdagangkan dengan frekuensi 52.212 kali dan nilai transaksi mencapai Rp1,32 triliun. Investor asing tercatat membukukan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp714,76 miliar. Pelemahan ini melanjutkan tren koreksi setelah pada perdagangan Jumat (6/2) saham juga melorot 1,60%.
MNC Sekuritas menilai pergerakan saham masih didominasi tekanan jual dan berpotensi melanjutkan penurunan ke kisaran Rp6.975-Rp7.325. Meski demikian, broker tersebut merekomendasikan strategi buy on weakness pada area tersebut untuk perdagangan Selasa (10/2), dengan target harga jangka pendek di Rp7.750 dan Rp8.525. Sementara itu, batas cut loss disarankan apabila harga turun di bawah Rp6.750.
Dari sisi valuasi, saham BCA dinilai relatif murah dibandingkan rata-rata historisnya. Rasio price to book value (PBV) saat ini berada di level 3,28 kali, lebih rendah dibandingkan standar deviasi minus satu dan minus dua PBV lima tahun terakhir masing-masing sebesar 4,18 kali dan 3,69 kali.
Di sisi fundamental, Phintraco Sekuritas mencatat BCA membukukan laba bersih Rp57,53 triliun pada 2025, tumbuh 4,9% secara tahunan. Kinerja tersebut dinilai mencerminkan ketahanan perseroan di tengah moderasi pertumbuhan kredit dan dinamika likuiditas industri perbankan.
Pertumbuhan kredit BCA sepanjang 2025 tercatat 7,7%, dengan fokus pada kualitas portofolio di tengah ketidakpastian makroekonomi dan ketatnya persaingan pendanaan. Strategi ini dinilai mendukung stabilitas margin sekaligus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan risiko.
Ke depan, Phintraco menilai BCA memiliki posisi yang kuat berkat basis dana murah, ekosistem nasabah yang solid, serta disiplin manajemen risiko. Kondisi tersebut dinilai mendukung perseroan dalam menghadapi normalisasi suku bunga dan potensi pemulihan pertumbuhan kredit secara bertahap.
Phintraco memperkirakan pendapatan bunga akan tumbuh 16,8% pada 2026 dan menjadi pendorong utama pertumbuhan laba bersih. Sekuritas tersebut mempertahankan rekomendasi buy dengan target harga Rp11.400, naik dari sebelumnya Rp10.075, dengan valuasi PBV yang masih berada di bawah rata-rata lima tahun sebesar 4,21 kali.
Meski demikian, risiko tetap perlu dicermati, terutama potensi tekanan margin yang lebih tinggi dari perkiraan serta kenaikan biaya kredit apabila perlambatan ekonomi terjadi. (AI)

Sumber : Investor