- Bursa Eropa melemah di tengah kehati-hatian pasar terhadap konflik Timur Tengah.
- Sentimen pasar membaik setelah muncul laporan AS-Iran memperpanjang gencatan senjata.
- Saham bank tertekan, sementara sektor semikonduktor dan pertahanan menguat.
Ipotnews - Bursa ekuitas melemah pada perdagangan Kamis, meski berhasil memangkas penurunan yang lebih dalam setelah muncul laporan Amerika Serikat dan Iran sepakat memperpanjang gencatan senjata serta memulai perundingan baru.
Indeks pan-Eropa STOXX 600 ditutup turun 0,49 persen atau 3,07 poin menjadi 625,11, demikian laporan Reuters dan CNBC , di Bengaluru, Kamis (28/5) atau Jumat (29/5) dini hari WIB.
Mayoritas bursa utama di kawasan juga berakhir di zona merah di tengah kehati-hatian investor terhadap perkembangan geopolitik Timur Tengah. Indeks DAX Jerman melorot 0,34 persen atau 85,55 poin ke posisi 25.092,25, FTSE 100 Inggris kehilangan 0,75 persen atau 79,05 poin jadi 10.425,96 dan CAC Prancis menyusut 0,23 persen atau 19,02 poin ke 8.188,87.
Laporan media Axios menyebutkan kesepakatan itu masih membutuhkan persetujuan Presiden AS Donald Trump. Namun, kabar tersebut cukup membantu meredakan ketegangan pasar setelah Iran menyerang pangkalan militer AS di Kuwait dan Washington membalas dengan gempuran terhadap fasilitas drone Iran di dekat Selat Hormuz.
Harga minyak mentah yang sebelumnya melonjak tajam akibat konflik mulai memangkas kenaikan. Kontrak minyak Brent terakhir tercatat naik tipis 0,3 persen menjadi USD94,68 per barel. Kenaikan harga energi tetap menjadi perhatian besar bagi Eropa yang sangat bergantung pada impor energi.
Analis UBS Global Wealth Management, Kiran Ganesh, mengatakan sebagian besar sentimen positif terkait peluang perdamaian sebenarnya sudah tercermin dalam pergerakan pasar sejak awal pekan.
"Reaksi pasar yang relatif terbatas terhadap tanda-tanda gencatan senjata menunjukkan bahwa kabar baik ini sebagian besar sudah diantisipasi investor," ujarnya.
Sejumlah analis pasar menilai kinerja laba perusahaan yang lebih baik dari perkiraan juga membantu menopang pasar saham sejak posisi terendah yang dipicu konflik pada Maret lalu. Namun, risiko terhadap konsumsi masyarakat akibat kenaikan harga energi masih menjadi perhatian utama.
Fund Manager Invesco, James Rutland, mengatakan mayoritas perusahaan belum mengubah proyeksi bisnis mereka meski ketidakpastian meningkat. "Ketidakpastian terbesar adalah bagaimana respons konsumen terhadap harga energi yang lebih tinggi pada paruh kedua tahun ini," kata Rutland.
Investor kini menanti pertemuan kebijakan Bank Sentral Eropa (ECB) bulan depan yang diperkirakan menjadi katalis utama pasar berikutnya. Kenaikan harga energi dan ketidakpastian geopolitik membuat prospek suku bunga ECB semakin sulit diprediksi. Pelaku pasar saat ini memperkirakan peluang sekitar 90 persen bagi kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin.
Dari sisi sektoral, saham keuangan menjadi penekan utama pasar. Indeks sektor perbankan turun 1 persen, sementara sektor asuransi melemah 1,9 persen.
Di sisi lain, produsen material semikonduktor asal Prancis, Soitec, melejit 24,6 persen setelah melaporkan penjualan tahunan yang melampaui ekspektasi pasar. Penguatan juga terjadi pada saham perusahaan sejenis seperti Infineon yang melesat 4,4 persen dan STMicroelectronics, melompat 3,2 persen.
Ketidakpastian global akibat perubahan kebijakan perdagangan dan keamanan Amerika Serikat juga mendorong Eropa mengurangi ketergantungan terhadap mitra lamanya tersebut.
Saham-saham sektor pertahanan mencatat kenaikan setelah Kanada dan Norwegia menjajaki kerja sama dengan perusahaan Eropa. Saham Renk melambung 5,4 persen, Rheinmetall melonjak 4,1 persen, dan Saab melesat 7,4 persen.
Sementara itu, saham perusahaan satelit Eutelsat naik 5,8 persen dan OHB meningkat 4,2 persen setelah Eropa mengumumkan rencana untuk mengalokasikan sebagian besar spektrum satelit seluler kepada perusahaan regional dan mengurangi porsi yang dapat diperoleh operator asal Amerika Serikat.
Di antara saham yang melemah, BT anjlok 3,4 persen setelah muncul laporan media bahwa pemerintah Inggris akan menolak upaya miliarder India Sunil Bharti Mittal untuk meningkatkan kepemilikannya di grup telekomunikasi tersebut. Pemerintah Inggris disebut ingin mempertahankan kendali nasional atas infrastruktur strategis negara. (Reuters/CNBC/AI)
Sumber : Admin