Selat Hormuz Dibuka, Wall Street Langsung ‘Party’: Dow Jones Ikut Terbang
Saturday, April 18, 2026       08:25 WIB
  • Wall Street cetak rekor: S&P 500 dan Nasdaq mencapai penutupan tertinggi baru, didorong optimisme pembukaan Selat Hormuz dan turunnya harga minyak.
  • Harga minyak anjlok >11% membuat saham energi turun, sementara sektor konsumsi diskresioner, industri, dan maskapai justru melonjak.
  • Sentimen pasar menguat karena harapan meredanya konflik Iran-AS, meski sebagian analis masih memperingatkan risiko dan ketidakpastian logistik.

Ipotnews - Indeks acuan S&P 500 dan indeks berbasis teknologi Nasdaq masing-masing mencatat penutupan rekor ketiga berturut-turut pada Jumat (17/4). Sementara indeks Dow Jones membukukan penutupan tertinggi sejak akhir Februari, karena investor menyambut keputusan Iran membuka Selat Hormuz dan optimisme terhadap kemungkinan kesepakatan dengan Amerika Serikat untuk mengakhiri perang.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, mengatakan dalam unggahan di X bahwa jalur bagi semua kapal komersial melalui Selat Hormuz kini "sepenuhnya terbuka" setelah kesepakatan gencatan senjata di Lebanon.
Hal ini menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump bahwa pembicaraan dapat berlangsung akhir pekan ini antara Teheran dan Washington, serta kedua pihak bisa segera mencapai kesepakatan damai untuk mengakhiri perang Iran yang telah menewaskan ribuan orang sejak serangan gabungan AS dan Israel pada 28 Februari.
Meski pernyataan dari kedua pihak masih menyisakan ketidakpastian mengenai seberapa cepat jalur pelayaran dapat kembali normal, harga minyak mentah AS anjlok lebih dari 11%, meredakan kekhawatiran inflasi. Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi transportasi energi global.
"Kekhawatiran bahwa minyak akan membawa dunia ke perlambatan ekonomi berkurang karena ada harapan menuju kesepakatan akhir," kata Bob Doll, CEO Crossmark, yang menambahkan bahwa meskipun belum ada kesepakatan resmi AS-Iran, arah negosiasi terlihat cukup untuk mendorong pasar naik.
Indeks Nasdaq yang berbasis teknologi naik 365,78 poin atau 1,52% menjadi 24.468 mencatat kenaikan beruntun ke-13, yang merupakan rekor kemenangan terpanjang sejak 1992.
Indeks Dow Jones naik 868,71 poin atau 1,79% menjadi 49.447. Sementara S&P 500 naik 84,78 poin atau 1,20% menjadi 7.126. Secara tidak resmi, sepanjang pekan ini S&P 500 naik 4,53%, Nasdaq naik 6,84%, dan Dow Jones naik 3,2%.
Saham Energi Turun
Indeks saham berkapitalisasi kecil Russell 2000 mengungguli indeks saham besar, naik 2,1% dan mencatat rekor penutupan, setelah sebelumnya juga menyentuh rekor intraday pertama sejak perang pecah.
"Turunnya harga energi berdampak lebih besar pada perusahaan kecil karena margin mereka lebih ketat," kata Nick Johnson, CEO dan CIO Willis Johnson & Associates, seraya menambahkan bahwa "semakin jelas bahwa AS dan Iran ingin menyelesaikan konflik ini."
Di antara 11 sektor utama S&P 500, sektor energi menjadi yang paling merugi, turun 2,9%, dengan saham Exxon Mobil turun 3,6% dan Chevron turun 2,2%, menjadi dua penekan terbesar indeks tersebut.
Sektor dengan kenaikan terbesar adalah barang konsumsi diskresioner yang naik hampir 2%, dengan operator kapal pesiar memimpin penguatan. Royal Caribbean melonjak 7,3% sementara Carnival naik 7%. Sektor industri menjadi yang terkuat kedua, naik 1,8%, dengan United Airlines naik 7%.
Namun, sebagian analis tetap memperingatkan bahwa tantangan logistik masih ada bagi perusahaan pelayaran. "Operator kapal masih menghadapi premi asuransi risiko perang yang sangat tinggi, potensi bahaya ranjau, dan ketidakpastian penegakan aturan," kata Erik Bethel, general partner di perusahaan investasi maritim Mare Liberum.
Penurunan terbesar S&P 500 berasal dari Netflix yang anjlok 9,7% setelah memproyeksikan laba kuartal berjalan di bawah ekspektasi. Perusahaan juga mengumumkan kepergian salah satu pendiri sekaligus ketua lama Reed Hastings setelah 29 tahun menjabat.
Alcoa turun 6,8% setelah melaporkan laba dan pendapatan kuartal pertama di bawah perkiraan analis, dengan alasan biaya tinggi dan permintaan yang melemah.
Saham yang naik lebih banyak dibanding yang turun dengan rasio 4,03 banding 1 di Bursa Efek New York, dengan 623 saham mencapai level tertinggi baru dan 46 mencapai level terendah baru. Di Nasdaq, 3.685 saham naik dan 1.183 turun. S&P 500 mencatat 49 level tertinggi baru dalam 52 minggu tanpa level terendah baru.
Volume perdagangan relatif tinggi di bursa AS, dengan 20,29 miliar saham berpindah tangan, dibandingkan rata-rata 19,12 miliar dalam 20 sesi terakhir.
(reuters)

Sumber : admin