Wall Street Merah, Tersengat Kekhawatiran Sikap Hawkish The Fed dan Laporan Walmart
Friday, August 22, 2025       04:25 WIB
  • Seluruh indeks utama (Dow, S&P 500, Nasdaq) ditutup di zona merah karena kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan pernyataan hawkish dari Jerome Powell di simposium Jackson Hole.
  • Peluang pemangkasan suku bunga the Fed pada September turun menjadi 79% dari sebelumnya 99,9%, akibat data ekonomi AS yang variatif dan potensi inflasi akibat tarif baru.
  • Saham Walmart turun 4,5% karena laba kuartalan meleset dari ekspektasi dan peringatan biaya tarif; sektor barang konsumsi memimpin pelemahan di S&P 500.

Ipotnews - Bursa ekuitas Wall Street berakhir di zona merah, Kamis, seiring kekhawatiran investor terhadap kemungkinan pernyataan hawkish dari Chairman Federal Reserve Jerome Powell dalam simposium Jackson Hole yang berpotensi memicu volatilitas pasar. Laporan keuangan Walmart yang mengecewakan turut memperburuk sentimen.
Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup turun 152,81 poin atau 0,34% menjadi 44.785,50, S&P 500 melemah 25,61 poin atau 0,40% jadi 6.370,17, dan Nasdaq Composite Index terkoreksi 72,54 poin atau 0,34% ke posisi 21.100,31, demikian laporan  Reuters  dan  Investing,  di New York, Kamis (21/8) atau Jumat (22/8) pagi WIB.
Seluruh perhatian pasar tertuju pada pidato Powell yang dijadwalkan pada Jumat pukul 10 pagi waktu setempat, di mana investor berharap mendapatkan petunjuk terkait kemungkinan pemangkasan suku bunga the Fed pada September, menyusul lemahnya data pasar tenaga kerja baru-baru ini.
"Kemungkinan pemangkasan suku bunga memang masih sekitar 80%, tetapi mulai dipertanyakan. Itu kini masuk dalam perhitungan investor," kata Sam Stovall, Kepala Strategi Investasi CFRA Research. "Investor mengambil langkah aman dengan merealisasikan keuntungan."
Data dari LSEG memperlihatkan ekspektasi pemangkasan suku bunga 25 basis poin pada September menyusut menjadi 79% dari sebelumnya 99,9% pekan lalu.
Volume perdagangan juga terpantau tipis menjelang pidato Powell, dengan total transaksi saham hanya mencapai 12,28 miliar lembar, lebih rendah dari rata-rata 17,08 miliar dalam 20 hari terakhir--menunjukkan potensi pergerakan tajam jika pernyataan Powell tidak sesuai ekspektasi pasar.
"Pasar sedang gelisah menjelang pidato Powell, dan jika pernyataannya lebih hawkish dari yang diharapkan, bisa memicu aksi jual besar-besaran," ujar Adam Turnquist, Chief Technical Strategist LPL Financial.
Sementara itu, beberapa pejabat bank sentral AS, termasuk Presiden Fed Cleveland Beth Hammack, Presiden Atlanta Raphael Bostic, dan Presiden Kansas City Jeffrey Schmid, menekankan pendekatan yang bergantung pada data ekonomi dalam menentukan arah kebijakan moneter ke depan.
Di sisi ekonomi, laporan swasta memperlihatkan aktivitas bisnis Amerika Serikat meningkat pada Agustus, menciptakan dinamika kompleks bagi the Fed. Penjualan rumah bekas pada Juli juga dilaporkan naik, mengejutkan para analis.
Kenaikan imbal hasil US Treasury setelah rilis data tersebut turut menambah tekanan pada pasar saham.
Dari 11 sektor dalam indeks S&P 500, sembilan di antaranya melorot, dipimpin sektor barang konsumsi non-primer yang anjlok 1,18%. Walmart, meski menaikkan proyeksi penjualan dan laba tahunan, gagal memenuhi ekspektasi laba kuartalan dan memperingatkan adanya tekanan biaya dari tarif baru. Saham raksasa ritel itu ambles 4,5%.
Hasil laporan keuangan dari emiten ritel lain seperti Target dan Home Depot juga menjadi perhatian pasar, karena investor mencoba mengukur dampak tarif terhadap belanja konsumen.
"Ada ketidakpastian di sektor konsumen maupun ekonomi secara keseluruhan--baik dari sisi pasar kerja maupun dari dampak kenaikan harga akibat tarif," kata Chris Zaccarelli, Chief Investment Officer Northlight Asset Management.
Sementara itu, tekanan jual di saham teknologi yang terjadi awal pekan ini mulai mereda, namun saham-saham besar seperti Nvidia, Meta, Amazon, dan AMD masih mencatatkan penurunan. Investor khawatir valuasi saham teknologi sudah terlalu tinggi, ditambah kekhawatiran meningkatnya intervensi pemerintah AS di sektor ini.
Saham Coty Inc merosot 21,4% setelah perusahaan kosmetik tersebut memproyeksikan penurunan penjualan kuartal berjalan karena lemahnya belanja konsumen di Amerika.
Di bursa NYSE , jumlah saham yang turun melampaui yang naik dengan rasio 1,6 banding 1. Tercatat 124 saham mencetak level tertinggi baru dan 46 saham menyentuh titik terendah baru.
S&P 500 membukukan enam rekor tertinggi 52 minggu, sementara Nasdaq Composite mencetak 63 tertinggi baru dan 101 terendah baru. (Reuters/Investing/AI)
Saham berkinerja terbaik di Dow
-Merck & Company Inc (1,68%)
-Chevron Corp (1,52%)
-Unitedhealth Group (1,17%)
Saham berkinerja terburuk
-Walmart Inc (-4,49%)
-International Business Machines (-1,30%)
-Home Depot Inc (-1,01%)
Saham berkinerja terbaik di S&P 500
-Paramount Skydance Corp (14,66%)
-Packaging Corp of America (6,17%)
-Hewlett Packard Enterprise Co (3,71%)
Saham berkinerja terburuk
-First Solar Inc (-7,00%)
-Walmart Inc (-4,49%)
-PG&E Corp (-4,49%)
Saham berkinerja terbaik di Nasdaq
-Aptorum Group Ltd Class A (237,80%)
-Aethlon Medical Inc (97,30%)
-Protagenic Therapeutics (86,84%)
Saham berkinerja terburuk
-ModivCare Inc (-69,73%)
-Star Fashion Culture Holdings Ltd (-54,05%)
-Greenwave Technology Solutions Inc (-45,56%)

Sumber : Admin

berita terbaru
Saturday, Aug 30, 2025 - 16:43 WIB
Katanya Harga Emas Bisa Segini
Saturday, Aug 30, 2025 - 15:44 WIB
Financial Statements 2Q 2025 of OBMD
Saturday, Aug 30, 2025 - 15:39 WIB
Financial Statements 2Q 2025 of MINE
Saturday, Aug 30, 2025 - 15:36 WIB
Financial Statements 2Q 2025 of ADMR
Saturday, Aug 30, 2025 - 14:22 WIB
Harga Minyak Dunia Naik Tipis Sepanjang Pekan Ini